Seorang gadis cantik penuh ceria memiliki nasib yang malang setelah ibunya meninggal. Dirinya selalu mendapat kekerasan dan berakhir meregang nyawa akibat perbuatan ayahnya sendiri.
Di saat-saat terakhirnya dia berharap diberikan sebuah kesempatan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sarah, bolehkah aku bertanya padamu?"
Sarah bersama Rashelyna kini tengah merapikan kamar gadis itu yang berantakan. Ya, itu karena perbuatan dirinya setelah puas mengobrak-abrik isi kamar.
"Tanyakan saja Nona, sebisa mungkin saya jawab."
Ia mengetuk dagu seperti tengah berpikir, "Apa yang terjadi padaku? Maksudku kalian bilang aku habis kecelakaan dan itu terjadi karena apa?"
"Nona, Anda kecelakaan karena tertabrak oleh mobil lain saat Nona sedang berkendara," jawab pelayan itu tanpa menolehkan pandangan.
Rashelyna mengernyit. Tertabrak mobil? Saat dia berkendara? Mungkinkah kecelakaan itu terjadi di hari yang sama dengan yang dialami Shelyn dulu. Maka terjadilah perpindahan jiwa, lalu apakah jiwa Rashelyna memasuki tubuh Shelyn? Atau justru Rashelyna asli sudah mati.
"Begitu... Bisakah kau ceritakan bagaimana Ra—Aku dulu? Kau tau, kan, aku terkena amnesia dan aku tidak mengingat apapun tentang diriku."
Sarah menoleh dengan raut sedih pada Rashelyna, pelayan itu segera menghampiri sang nona yang tengah terduduk di ranjang.
"Nona, saya tidak tahu harus menceritakan bagaimana tentang Anda. Saat Nona memasuki rumah ini entah bagaimana perasaan saya sangat senang, Nona sangat baik sekali, Nona kadang terlihat seperti anak kecil selalu ingin pergi memakan cake keju dan itu sangat lucu!"
Pipi gadis itu seketika memerah, mengapa jadi dirinya yang malu. Mengingat kesukaan antara Rashelyna dan Shelyn sama membuat gadis itu bernapas lega. Mungkin karena dirinya dan Rashelyna itu mirip makanya Shelyn bertransmigrasi ke tubuh Rashelyna. Hahaha sangat tidak masuk akal.
"Be-benarkah? Ah, itu karena dulu aku sangat menyukai cake keju dan mungkin tidak bisa hilang dari ingatanku hahaha," kata Rashelyna berbohong.
Sarah tersenyum, "Benar, Nona! Tetapi Nona tidak usah khawatir, dengan perlahan Nona akan mengingat semuanya!"
Entahlah perasaan gadis itu seketika menghangat ketika bersama Sarah. Ia seperti memiliki teman dan ia sangat senang. Di kehidupan dulu ia memang tidak memiliki teman satu orang pun. Mereka menjauhi gadis itu tanpa sebab. Akhirnya Rashelyna atau Shelyn selalu menyendiri dan menjadi pendiam.
Rashelyna berpikir mungkin sekarang ia sedang diberi kesempatan untuk hidup bahagia. Rashelyna memiliki keluarga yang menyayanginya saja itu sudah cukup bagi dirinya. Baiklah tujuannya kali ini akan ia rubah. Rashelyna bertekad untuk membuat bahagia orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Ia akan menjalani kehidupan sebagai Rashelyna, memiliki keluarga yang utuh, memiliki teman seperti Sarah, hidup disertai dengan kemewahan dan tidak akan kesulitan lagi seperti dulu ketika ia harus bekerja untuk membiayai sekolahnya sendiri. Dan yang terakhir yaitu memiliki suami?
Tiba-tiba gadis itu meringis mengingatnya.
"Sarah, bisakah kau ceritakan juga bagaimana aku dan lelaki itu bisa menikah?"
"Maksud Nona, Tuan Arkielga?"
"Ah, iya maksudku Ar-arkielga."
"Maaf, Nona. Untuk itu saya tidak bisa menjawabnya, jika Anda ingin tahu Anda bisa langsung tanyakan pada tuan." Sarah menunduk dengan sopan.
Rashelyna bergidik ngeri jika harus bertanya pada lelaki sangar itu.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih Sarah."
Sarah tersenyum lembut. "Sama-sama, Nona."
"Sudah selesai, kalau begitu kau boleh pergi, aku ingin beristirahat sebentar."
Tanpa kata Sarah menunduk patuh dan beranjak pergi meninggalkan ruangan. Rashelyna membaringkan tubuhnya begitu merasakan sakit pada kepala. Ia memejamkan mata guna menghilangkan rasa sakit itu. Tak lama dengkuran halus pun terdengar.
***
Di dalam sebuah ruangan gelap, terlihat barang-barang berserakan. Pecahan gelas, piring dan kaca. Seseorang tengah bersandar pada kursi dengan tangan memegangi rokok. Ia memutar-mutar puntung rokok di tangannya.
Terdengar bunyi ketukan pada pintu.
"Masuk."
Seorang pria bertopi hitam memasuki ruangan gelap itu. Ia bersujud pada seseorang yang tengah menatapnya dengan menyeringai.
"Apa ada kabar baik untukku?"
Orang itu seketika bergetar.
"Mata-mata kita telah mat—Arghh."
Kalimat itu terpotong bersamaan dengan sebuah tangan yang mencekik lehernya dengan erat. Ia tertawa, "Ah, lagi-lagi kau mengecewakanku."
"Harus kuapakan ya? aku sangat sedih," ucap lagi pria itu dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Am-pun, T-tuan."
Pria itu membuang pentung rokok. Ia meludah tepat pada wajah orang yang tengah ia cekik. "Kau sangat bodoh!"