14. Fourteen

4.1K 353 9
                                        

Advika Auristella

Hari ini adalah hari penting. Aku akan bertemu dengan adik baruku. Papa dan tante hanum akan segera menikah, namun mereka sama sekali belum mengenalkanku pada calon adik baruku. Aku gugup, bagaimana jika aku tak menyukainya, begitupula sebaliknya. Apakah aku akan akur dengannya.

Aku memperhatikan sekeliling apart ini. Papa bilang kita akan tinggal disini sementara sampai papa bisa beli rumah baru yang cukup untuk kita berempat. Foto-foto kecil adik baruku menarik perhatianku. Ia sangat lucu dan cantik. Hanya ada fotonya dan sedikit foto tante hanum.

Aku melirik cewek di depanku. Aku tidak nyaman dengan tatapannya. Aku sesekali memperhatikan dara, pakaian feminimnya sangat cocok dengannya walaupun ia tampak tidak nyaman menggunakan pakaian itu untuk makan malam.

Aku tidak tahu bagaimana kesalahpahaman antara dara dan tante hanum beres, awalnya aku pikir dara akan marah besar, mengingat ia belakangan diberitahu. Aku memaklumi reaksinya yang kaget mamanya akan menikah dan ia akan memilikiku sebagai kakak.

Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan dara. Ia sangat dingin dan jutek padaku. Aku yang biasanya cuek pun ikut terpancing dengan sikap dara. Hubungan kami pun tidak baik sejak awal.

Seiring berjalannya waktu. Aku dan dara berhubungan baik. Kami mulai memahami karakter masing-masing karena sering bareng. Ada baiknya mama meminta kami untuk pergi dan pulang sekolah bareng.

Dara adalah anak yang riang. Aku yang jarang tertawa, merasa dara memberi warna dalam hidupku. Aku memang tidak memiliki teman di sini, namun aku memiliki dara. Ia pun lebih dari sekedar teman untukku, ia adikku, orang terdekat yang ku percaya selain papa dan mama.

Aku menutup bukuku perlahan agar tak menganggu dara yang tertidur. Pak rangga sudah pergi dari tadi. Aku memperhatikan mata dara yang bergerak tak nyamn, aku menghalangi sinar matahari yang mengenai wajah cantik adikku.

Aku menyentuh hidung dara yang menarik bagiku. Aku tak menyangka dara akan membalas dengan menyentuh bibirku. Jantungku berdetak tak karuan saat itu, namun aku berusaja menyembunyikan maluku dengan menggoda dara.

*****

Weekend ini mama dan papa pergi keluar kota. Seperti biasa aku dan dara tinggal berdua. Aku bersyukur walau papa masih sama sibuknya seperti ketika papa masih sendiri, sekarang aku punya dara. Aku tidak merasa kesepian.

Aku bangun lebih awal seperti biasanya. Aku langsung ke dapur melihat bahan cake yang sudah disiapkan mama dan papa untukku bereksperimen.

Aku mulai berkutat dengan bahan-bahan. Aku ingin menyelesaikan ini sebelum dara bangun. Aku ingin dara mencoba cake buatanku. Aku ingin tahu bagaimana cara dara menilai masakanku.

Aku suka masak seperti papa. Aku suka mencoba hal baru melalui papa. Setelah papa berhasil, maka aku akan mencoba resepnya dari papa. Mama juga jago masak, namun untuk urusan cake atau dessert papa jago.

Aku sudah sampai di tahap akhir. Aku memasukkan cetakan kue ku ke oven. Sambil menunggu aku membersihkan dapur dan ruangan depan. Harum kue mulai merebak seisi apart. Aku juga tak sabar ingin mencicipi masakanku.

Aku mengeluarkan kue dari oven, harumnya semerbak. Aku tersenyum mihat hasilnya yang cantik dan sempurna.

"Harum banget, masak apa sih?" Dara baru sjaa keluar kamar. Ia menyepol rambutnya, masih dengan piyamanya ia berjalan ke arahku. Ia berjalan melewatiku, mengambil minum dikulkas.

"Gua laper ri" ujar dara. Ia duduk di depanku yang sedang menyusun cake ke wadah.

"Mama masak nasi goreng tuh" ujarku

Don't Leave Me AloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang