36. ThirtySix

3.2K 292 10
                                        

Aku memutuskan akan melakukan gebrakan besar untuk hubunganku dan auri. Aku akan jujur dengannya bagaimana isi hatiku padanya. Aku sudah menyiapkan hal-hal yang akan aku lakukan.

Hal yang paling utama adalah uang. Gaji pertamaku cukup untuk mengajak auri kencan di kota ini.

Sepulang kuliah aku menunggu auri di tempat biasa. Aku menunggunya dengan cemas. Aku menendang- nendang udara menghilangkan rasa gugupku. Aku menegakkan tubuhku melihat auri tiba bersama dua temannya.

"Hai dar" emily menyapaku. Aku tersenyum kepada mereka.

"Mau kerja ya?" Tanya sarah.

"Iya, boleh ngobrol dengan auri sebentar?" Kataku. Mereka mengangguk dan pergi menjauh.

"Ada apa?" Tanya auri.

"Gua mau ajak lo nonton teater" ucapku sambil menyodorkan tiket pada auri. Auri menatap tiket itu.

"Lo bisa kan sabtu ini?, gua juga udah ijin gak masuk kerja" ujarku.

"Gua belum tahu dar" auri belum memgambil tiketnya dariku.

"Gak apa ri, lo pegang aja dulu tiketnya" aku menarik tangan auri dan meletakkan tiket itu disana.

"Gua gak janji ya" ucapnya. Aku mengangguk. Auri pun pergi menghampiri kedua temannya. Aku memandangi auri dengan berat hati. Apakah auri akan datang?.

*****

Auri sudah pergi pagi-pagi sekali. Ia ada kuliah dadakan. Aku tentu saja masih berharap besar akan suskesnya kencan hari ini.

Aku sudah bersiap. Aku menatap diriku di depan cermin. Aku memakai celana hitam panjang dengan sepatu, aku memakai kemeja putih dengan blazer biru. Ku biarkan rambutku tergerai rapi. Aku sudah menyiapkan setangkai bunga dan hadiah kecil, aku meletakkan mereka dalam satu paperbag.

Aku pergi ke tempat teater menaiki bus. Aku harus menghemat. Setengah jam di jalan, bus sampai di tempat. Aku harus sedikit berjalan untuk sampai di depan gedung teater. Aku berdidi di sana menunggu auri, satu persatu orang bsrdatangan. Mereka sangat rapi dan harum. Walau malam hari dan penerangan di luar gedung minim, namun jelas Wajah mereka sumringah sepertiku. Pengalaman pertamaku akan nonton teater dengan auri.

Aku sudah menunggu 1 jam. Pintu teater akan ditutup 10 menit lagi. Penjaga bilang, acara akan mulai 20 menit lagi. Aku celingak celinguk mencari auri. Aku mulai cemas. Saat siang, auri membalas pesanku bahwa ia akan datang.

"Ri, lo dimana?" Tanyaku ketika auri mengangkat telponku. Aku mendengar suara bising, suara dj.

"Ri, lo dimana?" Tanyaku setengah berteriak. Namun juga tak ada jawaban.

"Auri, sorry. Your phone" aku mendengar jelas suara pria disana.

"Hallo?" Kini auri bersuara

"Lo dimana?" Tanyaku ulang, suaraku melemah.

"Hallo??"

Aku mematikan telpon. Desahan beratku menggambarkan kekecewaanku. Auri memilih bersenang-senang dengan orang lain dibanding aku.

"Miss" penjaga teater memanggilku. Aku menatap hp ku sejenak, tak ada panggilan balik dari auri. Aku menonaktifkam hpku lalu masuk ke gedung teater.

Aku meletakkan paperbag di kursi sebelahku yang kosong. Yah, harusnya auri duduk disana, namun aku harus sendirian. Aku berusaha menikmati pertunjukan teater.

Aku pulang dengan lesu. Aku meletakkan paperbag di atas meja kamar. Aku duduk di tepi ranjang, mengaktifkan hpku. Tak ada notif apapun dari auri. Aku melihat jam, sudah jam 10. Auri belum juga pulang. Aku merebahkan tubuhku menatap langit kamar.

Don't Leave Me AloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang