25. TwentyFive

3.8K 322 5
                                        

Aku kembali ke sekolah bersama dara. Kini dara duduk lagi disampingku. Ya, kita berangkat bareng ke sekolah. Aku senang.

Sejak hari itu, saat dara nemenin aku seharian dikamar. Dara banyak habisin waktu bersamaku. Ia selalu menemuiku di kelas ketika istirahat. Ia akan membawakanku makanan jika aku tak sempat ke kantin. Seperti saat ini. Ia ke kelasku dengan banyak cemilan, namun sebagian dara habiskan sendiri.

"Dar, gua ada kelas tambahan. Lo mau pulang, atau.."

"Gua nunggu lo, di bawah ya" sela dara.

"Bawah?, lapangan basket maksud lo?" Aku memastikan apakah dara akan menungguku sambil main basket lagi bareng abri.

"Hmm, gua tunggu di kelas gua. Gua piket"

Aku tak tahu jawaban dara hanya alasan atau benar. Aku sedikit lega jika ia tak bersama abri, apakah aku egois?.

Setelah menyelesaikan kelas tambahan. Aku bergegas ke kelas dara, namun aku hanya melihat ranselnya. Tak ada seorang pun disini. Aku menelpon dara, tak ada jawaban. Aku memeriksa ranselnya, tak ada handphone disana.

Aku keluar mencari dara, tak lupa membawa ranselnya bersamaku. Aku menyusuri semua kelas di lantai itu hingga ke toilet, dara tak ada disana. Aku turun menuju lapangan basket. Ah, tentu saja dara terlihat berdiri disana. Aku berjalan cepat menghampirinya.

Langkahku terhenti, ternyata dara tak sendiri.

"Gua cuma minta waktu lo dar, lo anggap gua pacar gak sih?"

"Gua gak bisa bri, gua ada urusan"

"Urusan apa?, gua udah bilang dari sebelum ujian kalau gua bakal tanding basket. Lo bilang bakal datang kan"

"Iya, gua bilang bisa karena gua gak tahu bakal ada urusan yang gak bisa ditinggal"

"Urusan apa?, lebih penting dari gua?"

"Apa sih bri?, harus banget lo bandingin?"

"Urusan apa dara?, gua tanya lo dari tadi urusan apa"

"Lo gak mesti tau"

"Ha?"

Aku menggigit bibirku mendengar abri tertawa, aku sangat paham ekspresi abri ketika sedang tertawa remeh dengan muka tengilnya. Aku tidak enak mendengar lebih lama perdebatan ini, aku berbalik hendak pergi.

"Auri"

Aku tertegun. Abri menyebut namaku. Apakah mereka memergokiku lagi. Aku panik dan malu, aku berbalik perlahan.

"Auri, urusan penting lo?"

Ah, ternyata mereka masih berdebat.

"Kenapa bawa auri?"

"Udahlah dar, selama ini emang auri yang lo prioritasin dari pada gua"

"Lo makin ngaco tau gak, udah ah gua mau pulang"

"Gua belum siap dar"

Aku terkejut melihat abri menarik tangan dara kasar.

"Pacar lo itu gua dar, lo harusnya utamain gua, pentingin gua"

"Sakit bri"

"Auri itu pengganggu, lo harusnya jauhin dia dari hubungan kita"

"Pengganggu?"

"Iya, benalu, perusak"

PLAK.. aku terperangah melihat dara memukul abri.

"Jaga mulut lo ya!"

"Lo nampar gua?"

"Iya, kalau bisa gua lakuin lebih karena mulut jahat lo. Auri gak pantes dapat kata kasar dari lo. Kalau lo ngerasa gak adil, lo harusnya maki gua bukan auri. Orang yang jadi perusak di hubungan ini gua, gua yang gak bisa jujur sama perasaan gua" dara berkata keras, namun suaranya bergetar. Ia seperti menahan tangis. Aku ingin segera menarik dan membawanya pergi dari sana.

Don't Leave Me AloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang