Danita Danurdara
"Apa ini?, jawab!" Aku menatap mama yang sangat marah. Foto-fotoku dan auri sudah berserakan di lantai.
"Apa yang kalian lakukan?, kamu. Kamu yang ngerusak auri, mama harus bilang apa ke papa. Kenapa dengan kalian, kenapa harus begini?, ini menjijikkan"
Aku menarik napas dalam dan menutup mataku sejenak. Mama mengintrogasiku sejak auri pergi seminar. Awalnya aku berbohong, berusaha menutupi hubungan kami yang sebenarnya. Namun mama melempar semua foto-foto kami padaku. Foto ini tentu bukan pose seperti kakak adik atau foto bersama teman.
"Kamu masih mau diam?"
"Aku dan auri saling mencintai ma" jawabku. Mata mama semakin menyala, mama masuk kamar dan membuang semua isi lemariku. Aku histeris melihat mama seperti orang kesurupan. Tangisan kenzo pun semakin menambah kebisingan.
Plak... aku terkejut. Sakitnya bukan dipipiku, tapi di dalam dadaku. Tamparan pertama mama untukku. Senakal apa kelakuanku, mama tak pernah memukulku. Aku menatap tajam ke mama, mama berlalu dari hadapanku. Air mataku merembes, perlahan aku membereskan kekacauan yang mama buat.
Tinggal berpisah lagi dengan auri tak pernah terbesit sedikitpun. Aku bingung dan kalut. Aku juga sadar tekanan yang mama berikan ke auri. Auri anak baik dan hormat ke mama papa, ia tak akan jadi anak pembangkang sepertiku. Tinggal di apart lain dengan uang mama tak akan aku lakukan, uang itu adalah tabungan mama selama ini. Saat hamil dan punya kenzo, mama belum ada kerja lagi. Aku tak mau menambah beban mama.
"Aku udah minta bantuan temanku, dia bilang sudah ketemu. Nanti dia kabarin aku lagi" ujar agatha. Aku berterima kasih padanya. Agatha memberiku tempat tinggal sementara. Lalu, membantuku mencari seseorang yang sangat ingin aku temui, Papa.
Sejak auri bilang akan ke aussie, aku bertekad juga akan mencari papa. Selama ini aku hanya lihat fotonya, aku tak pernah bertanya ke mama siapa papaku, bagaimana wajahnya, dimana ia berada. Begitupun mama yang tak pernah memberitahuku apapun. Aku mencari tahu sendiri sejak sekolah, mencari hingga ketemu sosmed mama yang lama bahkan sudah gak pernah disentuh.
Aku belum cerita selain ke agatha. Aku meminta bantuannya, setahuku papa tinggal di aussie sejak 10 tahun terakhir, papa sudah pindah kewarganegaraan.
"Ini social media papa kamu, coba kamu hubungim" agatha mengirimiku link. Jantungku berdetak cepat melihat wajah papa yang sangat jelas di sosmednya. Ia tampak keren. Aku scroll beberapa foto meyakinkan diriku bahwa ini papaku.
"Hai, saya dara. Apakah ini suhan?" Pesan cringeku terkirim namun belum dibaca. Aku menutup laptopku dan gelisah. Akun itu, adalah akun bisnis. Apakah ia akan membaca pesanku?. Aku mulai putus asa, sudah seminggu pesanku tak dibaca. Mama sudah kembali ke indonesia, auri juga semakin didesak oleh mama.
Aku mencari papa sekarang tentu saja ada maksud, aku ingin ia membantuku secara finansial. Aku akan meminta hak ku padanya. Sejak awal akulah yang maksa akan kuliah dan tinggal di aussie, walau ku tahu keluargaku bukanlah kaya raya bisa menguliahkan dua putrinya dengan dana pribadi. Saat ini aku butuh dana tambahan, tapi aku tak berniat memakai uang mama dan papa andrea.
"Papa?" Auri kembali bertanya. Aku tak menjawab dan mencoba tidur dalam pelukan auri.
*****
"Hai, boleh kita ketemu?" Balasan singkat pesan ini yang membuatku sekarang berada di ruang vip. Aku sedang berada di restauran jepang di tengah kota sydney. Aku sudah disini 30 menit, ini tak terasa lama karena aku pun cemas menata hati dan ekspresiku pertama bertemu papa.
Mataku bertemu dengan pria yang baru masuk. Ia menggunakan setelan jas dan membawa tas, harum parfumnya mengganti harum makanan di meja. Pria ini duduk dihadapanku, aku ssperti melihat diriku sendiri. Wajahnya, matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Leave Me Alone
Macera(GxG) kamu tidak akan tahu, bagaimana kehidupanmu ke depan. siapa yang akan kamu temui & kamu tinggalkan. siapa yang akan kamu cintai dan kamu benci. aku bahkan tidak menyangka, ketika aku iri dengan temanku yang punya orang spesial, tuhan pertemuka...
