19. Nineteen

3.8K 316 11
                                        

Aku duduk di pinggir lapangan memainkan bola di tanganku. Aku sedang menunggu auri yang sedang ada kelas tambahan. Seperti biasa ada abri yang menemaniku.

"Nih buat lo" aku meraih minuman dari tangan abri. Kita baru saja selesai main basket, cuaca hari ini lumayan terik padahal hari sudah sore.

"Dar, lo gak bosan nunggu auri terus?"

"Lumayan, untung ada lo jadi gua bisa sekalian olahraga" jawabku, abri tertawa.

"Lebih untung lagi kalau gua jadi pacar lo dar"

Aku terbatuk mendengar ucapan abri. Anak ini tanpa basa basi, responnya pun cuma ketawa lihat aku tersedak air.

"Gua suka sama lo, lo pasti udah tahu lah. Mau gak jadi pacar gua?" Tanyanya lagi tanpa gugup. Aku mulai panik, ini bukan pertama kali aku menerima pernyataan cinta, namun ini pertama kalinya orang nyatain perasaan sesantai ini.

"Lo serius bri?"

"Iyalah dar, mana mungkin gua main-main sama lo"

"..." aku terdiam, memutar mataku menatap arah kelas auri. Aku melihat auri yang melambaikan tangannya ke arahku. Mataku mengikuti auri yang berjalan dan menghilang dibalik tembok.

"Lo gak mesti jawab sekarang dar, lo tanya dulu sama diri lo. Gua siap sama apapun jawaban lo, gua bakal tetap jadi temen lo kalau lo nolak gua" ujar abri. Ia meraih ranselnya yang terletak di sampingku. Ia menunduk mendekatkan wajahnya kearahku.

"Gua berharap lo mau jadi pacar gua.." ucap abri dengan senyum cerahnya. Aku memgerjapkan mataku, menahan napasku.

"Dar!!" Suara auri mengalihkanku. Aku menoleh ke auri yang berdiri tak jauh dari pinggir lapangan. Aku melihat tatapam tajamnya. Ku raih ranselku dan segera bangkit dari dudukku. Abri menahan lenganku, aku berbalik menatap abri.

"Nanti malam gua boleh telpon gak?" Aku mengangguk perlahan tanpa berpikir. Abri tersenyum dan melepas lenganku, ia pergi tak lupa melambaikan tangannya ke auri.

"Gimana kelas tambahannya?" Tanyaku memecah keheningan kami.

"Nothing special" jawab auri singkat. Auri menghidupkan musik dengan volume lebih keras dari biasanya. Aku tak bicara lagi, mungkin auri lelah.

Usai makan malam aku dan auri masuk kamar dan duduk di depan meja masing-masing. Auri berkutat dengan bukunya, begitupun aku. Auri mendiamkanku sejak tadi, aku mendekati auri sambil membawa bukuku.

"Boleh bantuin bahas soal ini gak?" Ucapku. Auri menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis, ia beralih ke bukuku, menjelaskan padaku dengan lembut.

"Paham gak?" Auri mendongak menatapku. Aku menatap matanya, wajah auri bersinar terkena sinar lampu meja belajarnya. Auri menaikkan alisnya meminta jawabanku. Aku mengangguk pelan.

"Ada lagi yang gak paham?" Tanyanya. Aku beralih ke bukuku, berpikir sejenak apa yang akan jadi bahan obrolanku. Sebenarnya tak ada soal yang aku tak paham, aku hanya ingin mendengar suara auri.

Drrt....drrt...

Suara telponku terdnegar nyaring. Aku berlari meraihnya. Abri. Aku menoleh ke auri yang menatapku.

"Sorry" ucapku. Aku menjawab telpon dan menjauh ke ujung kamar.

"Halo bri" jawabku. Abri sepertinya akan mengobrol lama denganku. Aku memilih keluar kamar agar tak menganggu auri.

Ku buka pintu perlahan. Auri sudah berbaring di ranjang. Lampu dikamar juga mulai redup. Aku berjinjit membereskan meja dan bukuku sebelum berbaring di sebelah auri.

"Lo pacaran sama abri?"

Suara auri mengagetkanku. Ia berbicara dengan posisi membelakangiku.

"Belum" jawabku. Aku berbaring terlentang menatap langit kamar.

Don't Leave Me AloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang