33. ThirtyThree

3.3K 274 9
                                        

Aku berangkat ke kampus bareng auri. Kali ini auri mengajarkanku menggunakan transportasi umum. Auri memintaku mengingat bus mana yang harus aku gunakan menuju kampus. Bus berhenti di halte yang ternyata tak jauh dari pintu gerbang kampus.

Auri mengantarku hingga ke depan gedung kampusku.

"Lo bisa kan?, gua harus masuk nih udah telat" ucap auri.

"Ok"

"Nanti sore gua tunggu disini" ucap auro sebelum pergi. Aku menarik napas panjang, lalu membuangnya. Ku mantapkan langkahku memasuki gedung perkuliahanku.

Mataku menyusuri ruangan, aku mencari sosok yang bewajah indo. Namun aku belum menemukannya, aku berharap bisa mendapat teman baik disini.

Sepulang kuliah aku langsung menuju tempat auri menunggu. Aku tersenyum lebar melihat auri sudah menungguku.

"Kita makan malam apa?" Tanyaku ketika sudah sampai di apart.

"Lo lupa temen gua birthday party malam ini?"

Ah iya. Emily. Auri mengeluarkan beberapa dress dan meletakkannya di kasur.

"Lo mau pakai yang mana?" Tanyanya. Aku melihat satu persatu dress auri dam menyocokkannya ditubuhku.

"Ini bagus" auri memilih mini dress berwarna hitam. Aku pun memakai pilihan auri. Sedangkan auri memilih dress berwarna navy.

"Auri, help me" kataku. Aku kesusahan mengancingkan bagian belakang dress ini. Auri yang masih berbalut handuk memdekatiku, ia membantuku menaikkan resleting di belakang. Aku menatap cermin, auri juga melihatku dari cermin. Aku merinding ketika kulit auri yang singin sehabis mandi menyentuh punggungku.

Aku sudah siap, aku menunggu auri di depan tv. Aku terperangah melihat auri, ia cantik. Namun aku tak menyukai bagiaj dadanya, ia terlalu memperlihatkan belahan dadanya.

"Ayo" ajaknya. Aku ingin protes dengan pakaiannya, namun ku urungkan karena auri terlihat buru-buru. Kami menaiki taxi menuju rumah emily.

Sepertinya emily mengundang semua teman seangkatannya. Rumah ini sangat ramai. Auri menggandengku melewati keramaian, berhenti di area yang lebih lapang. Aku duduk menunggu auri mengambil minuman.

"Dar, kamu minum alkohol?" Tanya sarah. Aku menggeleng, aku belum pernah merasakan minuman alkohol. Auri datang memberiku minuman.

"Jangan minum apapun selain yang gua kasih" ucap auri. Aku melihat gelas yang di tangan auri. Warnanya sama dengan sarah, namun berbeda denganku.

"Hai girls" emily menyapa kami dengan heboh. Auri dan emily memberi selamat dan berpelukan. Melihat mereka aku jadi teringat amel dan rina.

"Guys have fun. Aku kesana ya" emily pamit. Begitu juga sarah. Auri duduk disampingku, kepalanya sedikit bergoyang mengikuti musik dj yang dimainkan.

"Lo gak gabung sama yang lain?" Tanyaku

"Gak" jawabnya singkat, ia menikmati minumnya sedikit sedikit. Mataku tak berhenti menatapnya, wajahnya, bibirnya dan..

Aku menyentuh baju auri yang turun menampakkan bagian atas dadanya. Auri tegak merapikan bajunya. Aku gerah melihat dress auri yang memperlihatkan sebagian dada, bahu serta punggunya. Kulit cantiknya seperti dipertontonkan.

""Ri, come on" emily menarik auri untuk joget dengannya. Mataku mengikuti kemana auri bergerak. Auri sangat menikmati, ia bergoyang meliuk-liukan tubuhnya tanpa kaku. Ia tampak jauh berbeda dengan auri ketika di indonesia, sepertinya negara ini adalah temoat yang membuatnya bebas berekspresi. Ia tertawa lepas bersama emily dan sarah. Jantungku berdebar melihat auri malam itu, ia membuatku ingin menyentuhnya.

Auri datang dengan terengah, ia meneguk habis sisa minumannya.

"Lo gak mau gabung?" Tanyanya. Aku menggeleng, mata auri mulai sayu. Sepertinya ia mulai mabuk, ia mengisi ulang gelasnya dan meneguknya lagi hingga habis. Auri mulai oyong dan hamoir terjatuh.

Aku menangkan tangan auri, menariknya hingga menubruk tubuhku. Aku memeluk pinggangnya ketika auri lunglai.

"Ri, pulang yuk!" Ajakku, auri menggeleng. Mata sayunya menatapku, bau alkohol tercium dari mulutnya.

"Lo harus seneng-seneng dar" katanya menoel-noel pipiku. Aku tersenyum, auri menggemaskan.

"Lo udah mabuk, ayo pulang" kataku lagi. Auri tiba-tiba berdiri tegap.

"Gua gak mabuk" katanya. Namun beberapa detik kemudian ia oyong lagi. Aku memeluknya, memapahnya keluar dari rumah. Aku mendudukkan auri di kursi halaman rumah, hanya kita berdua disini. Ku keluarkan sweater tipis dari tasku, ku gunakan untuk menutupi bagian atas auri yang terbuka.

"Are you ok ri?" Tanyaku mengusap telapak tangan auri. Pipi auri memerah,  Matanya yang semakin sayu menatapku.

"Do you miss me?" Lirihnya. Aku tertegun. Auri menyentuh pipiku. Aku menyentuh leher auri dan menariknya mendekat, aku mencium bibir auri. Setelah sekian lama, aku bisa merasakan manisnya bibir ini. Aku melepas bibirku, menatapnya. Mata auri tidak sesayu tadi, aku merasakan napasnya yang mulai cepat. Aku kembali menciumnya, kini lebih dalam. Aku dan auri hanyut dalam ciuman ini. Aku membelainya, hingga memeluknya tanpa melepaskan bibirku. Namun tiba saya auri mendorong tubuhku dengan keras, ia menahan tubuhku dan memghalangiku mendekat dengan kedua tanganya.

"We must stop" ucapnya, tatapan auri berubah. Ia berdiri dan pergi, aku mengejarnya. Ia menghentikan taxi, aku mengikutinya. Auri diam sepanjang jalan, ia menutup matanya dan mengahadapkan wajahnya ke jendela taxi. Aku bingung, kenapa auri tiba-tiba marah.

Auri mendahuluiku masuk apart. Ia langsunh ke kamar tak menggubris panggilanku. Aku menghempaskan tubuhku di sofa, aku mengingat letak salahku dimana.

*****

Aku bangun karena suara berisik. Aku melihat auri sedang memakai sepatunya. Aku mengucek mataku.

"Ri" panggilku, auri tak menyahut. Ia langsung pergi. Aku menghela napas berat. Padahal tak ada yang salah, kenapa auri balik lagi ke mode senyap.

Aku pergi ke kampus dan pulang tepat waktu. Aku tak punya tujuan selain pulang ke apart. Auri belum pulang, aku inisiatif masak makan malam dan beresin apart.

Tepat jam 7 malam auri pulang. Aku sedang duduk di meja makan menunggunya. Auri kembali melewatiku, aku menunduk. Akan berapa lama wanita ini mendiamkanku. Auri tiba-tiba keluar dengan membawa secarik kertas. Ia duduk di depanku, meletakkan ksrtas itu di meja.

ATURAN AURI-DARA

Begitulah judul di kertas itu. Aku menatap heran ke auri.

"Setelah gua pikir lagi, ada hal yang harus kita bicarain dan perjelas. Pertama, lo dan gua tidak boleh ada physical touch selain pegangan tangan, itu pun boleh jika mendesak.." jelas auri, aku mengerutkan keningku.

"Please dont kiss me again" lanjutnya tegas, aku sedih mendengarnya.

"Kedua, kita urus urusan masing- masing. Dari kehidupan di apart, di kampus, di sosial lainnya. Gua gak mau kita saling mencampuri"

Aku menelan air liurku. Menatap auri lirih.

"Ketiga, tidak perlu saling menunggu lakuin hal apapun. Ketiga hal ini harus dilakuim, kalau ada yang langgar. Dia harus pergi dari apart"

"Ha?, ini keterlaluan auri. Kenapa harus keluar dari apart" aku protes. Aturan ini sepeerti memasang tembok besar yang membuatku tak akan bisa dekat dengannya.

"Kalau lo gak setuju, mulai hari ini kita harus pisah apart. Lo boleh tinggal disini, gua bisa tinggal di asrama kampus" jelas auri. Aku terdiam, tidak. Aku tak akan membiarkan auri pergi dan jauh dari pandanganku. Untuk apa aku melakukan semuanya jika harus jauh darinya.

Aku mengambil pena yang sudah disiapkan auri, aku menandatanganinya walau rasanya berat. Tapi ini lebih baik dari pada aku harus berpisaj lagi dengan auri. Usai tanda tangan auri beranjak.

"Ri" aku menahan tangan auri. Auri menatap tanganku, aku tersadar dengan aturan itu. Aku melepas tanganku perlahan.

"Gua udah masak buat kita, lo mau makan bareng?" Tanyaku.

"Gua masih kenyang, lo duluan aja" ujarnya, ia masuk kamar. Aku menghela napas berat, aku mengunyah dan menelan makananku tak semangat.

Don't Leave Me AloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang