35. ThirtyFive

3.2K 277 2
                                        

Sudah jam 7 malam, sabtu ini aku kerja dari pagi karena aku tak ada kelas pagi. Lumayan aku akan mendapat uang tambahan. Karena fee ku dihitung perjam, maka lembur 1 jam menguntungkan buatku. Aku masih kesana kemari mengantar pesanan customer, membersihkan dan merapikan meja.

"Hai dar"

Aku tertegun melihat auri, emily dan sarah tak jauh dari meja yang sedang aku bersihkan. Aku melirik dinding kaca cafe, melihat buruknya penampilanku yang seharian kerja. Aku sedikit merapikan rambutku, dan mengelap tanganku ke celemek yang ku pakai.

"Hai, dari kapan disini?" Tanyaku

"Baru 20 menit" jawab sarah. Aku mengangguk, aku tak tahu mau bertanya apa. Saat ini aku malu berdiri di depan mereka, terutama auri.

"Pulang kerja ada rencana kemana?" Tanya sarah.

"Gak ada, mungkin akan langsung pulang"

"Mau ikut kita ke club?" Tanya emily. Aku menggeleng cepat.

"Ayolah, setengah jam lagi jam kerja kamu beres kan?, kita tunggu" ucap emily. Aku diam menimbang ajakan mereka, aku melirik auri yang memakai rok mini.

"Ok" jawabku. Aku kembali menyelesaikan pekerjaanku. Aku membersihkan wajahku, memakai makeup seadanya, aku hanya memakai pakaian yang aku gunakan saat berangkat kerja.

Telingaku mulai sakit mendemgar dentuman musik di club ini. Pertama kalinya masuk club, tentu saja aku tak nyaman. Baru 10 menit disini, emily dan sarah sudah turun buat joget. Auri menikmati minumannya, melihat manusia yang joget. Aku memesan minuman yang sama dengan auri, aku terbatuk ketika meminumnya, rasanya pahit namun manis.

"Hai ri, sendirian?" Seorang pria menghampiri auri. Auri menunjukku dengan dagunya. Pria itu menatapku sekilas lalu kembali menatap auri.

"Mau berdansa denganku?" Tanyanya. Auri memgangguk dan menerima uluran tangan auri. Aku menatap tajam ke pria itu. Mataku tak lepas dari auri, ia menikmati waktunya bersama pria itu. Aku meminum minumanku, sedikit, banyak hingga refill. Aku merasa pusing dan mual.

"Hai dar, gak joget?" Sara dan emily memghampiriku, mereka memesan minum dan duduk bersamaku. Aku mengerjapkan mataku yang terasa berat.

"Auri mana?" Tanya emily. Aku menunjuk auri dengan jariku.

"Wow siapa itu?"

"Ronald?"

"Mungkin"

Ronald. Nama pria itu aku ulanv dalam hatiku. Aku tak mendegar lagi omongan emily dan rina. Kepalaku terasa berat. Aku meninggalkan mereka menuju toilet. Aku memuntahkan semua isi perutku, rasa mual ku pun berkurang. Aku membasuh wajahku, menghapus riasanku lalu memakai topiku. Aku keluar club dan berdiri bsrsender di dinding menunggu auri.

Dunia baru auri tak cocok denganku. Atau karena aku baru mencoba.

"Kok lo diluar?" Auri berjalan mendekatiku.

"Gerah di dalam" kataku beralasan. Auri memberiku minuman kaleng.

"Biar lo gak mual" ujarnya. Aku meminumnya.

"Lo mau kerja sampai kapan?" Tanyanya

"Gua masih betah ri, uangnya lumayan"

"Kuliah lo?"

"Gak akan keganggu" jawabku. Kami kembali diam.

"Ayo pulang!" Ajakku.

"Gua belum beres" tolaknya, ia berbalik hendak masuk. Aku menahan tangan auri.

"Lo harus pulang, sekarang!" Kataku. Auri menaikkan kedua alisnya.

"Lo gak inget peraturan kita, lo gak perlu urusi kehidupan gua" ucapnya. Aku mendesah berat, aku mengambil hp dari saku.

"Halo pa" auri sontak menarik tanganku, aku mengelak hingga auri jatuh di pelukanku.

"Lo mau pulang sekarang atau gak?" Tanyaku. Auri segera memperbaiki posisinya, melepas dirinya dari pelukanku. Ia berjalan mendahuluiku, aku tersenyum dan mengikuti auri.

Aku sedikit berlari mensejajarkan langkahku dengan auri. Aku menggenggam tangan auri.

"Dar" tegurnya.

"Boleh pegang tangan dalam keadaan mendesak" kataku sambil mengangkat tanganku yang menggenggam tangannya.

"Mendesaknya apa?"

"Lo baru minum, gua juga. takutnya kita oyong dan jatuh. Jadi untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, kita harus saling berpegangan tangan" jelasku. Auri mendengus kesal, aku tertawa kecil. Kami berjalan sebentar hingga mencapai halte.

Aku melepas ranselku, ku letak menutupi paha auri.

"Duh berat" protes auri. Aku tak menggubris, itu lebih baik dibanding mata orang menatap paha auri yang semakin terbuka ketika duduk karena rok mininya.

Auri sudah tidur. Aku baru saja beres mandi. Aku berjongkok di depan auri. Aku memperhatikan wajah cantik auri. Ku sentuh keningnya ketika berkerut. Apa yang sedang di mimpikannya.

"Sweet dream auri" bisikku, ku cium keningnya lalu meninggalkan kamar. Aku akan tidur di sofa depan, karena aku akan menonton maraton malam ini selagi besok aku libur kerja dan kuliah.

*****

Aku bermalas-malasan di apart. Aku masih setia di sofa menonton netflix, aku memakan cemilan yang aku temuin di pantry. Pagi-pagi sekali auri sudah pergi dengan pakaian olahraganya. Aku terlalu malas dan lelah untuk ikut olahraga.

Dua jam berada di luar, auri tiba di apart. Namun ia tak sendiri, emily dan sarah bersamanya.

"Hai dar" sapa mereka. Aku segera duduk dan merapikan meja yang berantakan dengan cemilan dan minumanku.

"Dar, lo makan cemilan yang di pantry?" Tanya auri. Aku mengangguk.

"Lo habisin?" Tanyanya, aku mengangguk lagi.

"Gila ya dar, itu sengaja gua simpan buat kita makan. Ini temen gua udah kesini buat ambil tu cemilan" auri menaikkan nadanya, ia marah dan mengotak atik meja yang emang sudah berantakan.

"Sorry ri, gua gak tahu. Gua pikir itu cemilan yang gua beli. Gua belanja banyak hari itu, gua gak inget apa aja yang gua beli" jelasku.

"Lo kan bisa nanya dulu ke gua"

"Udah dar gak apa, nanti kita beli lagi" emily menengahi ketegangan kami. Aku melihat sarah dan emily, aku merasa bersalah dengan mereka.

"Sorry ya, gua beli sekarang deh" kataku segera berdiri.

"Gak perlu!, lo tu kebiasaan tau gak?, lo selalu semena-mena. Lo gak pernah pikirin perasaan orang, lo selalu bersikap sesuka lo"

"Auri" emily menarik auri ke arahnya.

"Kita keluar yuk" sarah ikut menengahi

Aku menatap auri. Aku menggigit bibirku, selain merasa bersalah, aku sangat malu dengan omelan dara di depan sarah dan emily. Mereka membawa auri pergi dari apart. Aku terduduk lemas, aku masih terkejut auri marah seperti itu. Aku menjatuhkan semua cemilan yang ada di meja, bungkusan ini seperti mencemoohku. Ah, aku malu.

Setelah kejadian barusan. Aku tak bisa santai menonton netflix. Aku malah sibuk membereskan apart, membersihkan semua sudut apart dan memasak agar ketika auri pulang ia lebih tenang.

Sorenya auri pulang. Aku berdiri menyambut auri. Ia menatapku sinis.

"Gua udah beli cemilannya. Maaf ya" aku memgulurkan bingkisan berisi cemilan yang sama. Auri tak mengambilnya, ia melewatiku masuk kamar. Aku mengikuti auri.

"Gua harus apa biar lo maafin gua ri?, gua beneran gak tau kalau itu punya kalian, gua juga udah minta maaf ke sarah dan emily" ucapku. Auri mengambil bingkisan itu dari tanganku.

"Udah, puas?" Ucapnya. Aku tersenyum tipis. Walau auri masih ketus, setidaknya ia menerima permintaan maafku. Aku meninggalkan auri di kamar, lebih baik aku tidur di sofa saja malam ini, membiarkan auri sendiri sampai tenang.

Aku berbaring menatap langit apart. Aku memikirkan ucapan auri. Auri mengeluarkan kalimat yang tidak sesuai sama kejadian tadi. Apa yang ia maksud adalah perlakuanku selama ini,  auri pasti sudah lama memendam perasaan itu, akulah yang tak bisa menerima kenyataan bahwa sejak awal aku menyukainya, melihatnya sebagai seorang wanita.

Don't Leave Me AloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang