"Dar, kamu bisa pelan gak sih makannya?" Mama menegurku. Aku tak menggubris, kuselesaikan makanku dengan cepat.
"Dar, bentar dong aurinya belom beres" mama kembali protes.
"Aku naik ojek ma" jawabku sambil berlalu. Aku tak menggubris mama yang memanggilku.
Mulai hari ini aku akan kembali melakukan semuanya sendiri. Pergi naik ojek seperti yang lalu, tidak perlu menunggu dan repotin siapapun, tak perlu mengkhawatirkan keadaan orang lain selain diri sendiri.
Aku pergi dan pulang sekolah sesukaku. Mungkin kali ini jadi lebih buruk, aku pulang lebih telat dari biasanya. Tiap kali mama tanya, aku beralasan latihan basket, atau belajar di rumah amel dan rina.
"Kamu ini, emang latihan basket tiap hari?" Mama mengomeliku yang baru sampai rumah jam 22.00.
"Ekskul apa yang latihan sampai jam segini. Kamu jangan macem-macem ya diluar sana" mama memgendusku. Aku tahu mama curiga aku jadi anak nakal yang ngerokok atau minum.
"Mana hp kamu?"
"Kenapa ma?"
"Sini mama mau lihat" pinta mama. Aku menolak, aku berlari menghindari mama yang berusaja meraih ranselku.
"Dara!!"
"Ma, ini privasi aku" ucapku marah. Aku masuk kamar menutup pintu dengan keras. Aku menoleh ke auri yang terbangun dengan keributanku. Aku menghempaskan tubuhku ke kursi depan pc ku. Aku memutar-mutar hpku dan menatap layarnya.
Aku berputar-putar di atas kursi, menatap langit kamar. Mataku berhenti di meja belajar auri. Meja itu terlihat rapi, tak ada satu pun kertas catatan warna warni auri yang menempel. Apakah auri sudah mulai beres-beres. Aku menghela napas berat. Ku beralih menatap auri dari jauh. Wajahnya selalu cantik dan bersinar, aku kembali sedih. Aku tak akan bisa melihat wajah auri sedekat ini lagi.
"Dar, ntar sore kamu pulang cepet ya. Ikut mama dan auri belanja" ucap mama ketika aku akan berangkat sekolah.
"Dara gak ikut deh ma, capek mau istirahat"
"Harus ikut!"
Aku tak ada tenaga untuk berdebat. Aku berangkat sekolah dengan berat hati. Pulang sekolah mama menjemputku. Aku duduk di belakang auri yang menyetir, ku tutup mataku dan memakai earphone.
Mama berhenti di toko pakaian. Mama tampak menemani auri memilih. Aku yang tidak mood hanya menunggu di depan toko sambil memainkan game. Setelah dari toko pakaian, beralih ke toko sepatu. Mama memintaku untuk memilih, namun aku tak bergerak.
Usai belanja mama membawa kami masuk ke salah satu resto.
"Kalian mau sampai kapan diem-dieman begini?" Mama melipat kedua tangannya di depan dada menatap aku dan auri.
"Dar, 3 hari lagi auri berangkat" aku mengangkat kepalaku melihat mama sebentar lalu kembali menatap hpku. Rasa sakit merajai dadaku. Aku tak akan mau memulai untuk bicara, selama auri diam. Aku juga akan seperti itu.
"Auri!" Mama memanggilnya.
"Iya ma"
"...."
"Nanti dirumah kita ngobrol ma" sambung auri.
"Dar, mama papa ikut ke aussie anter auri, kamu yakin gak ikut?, nyusul juga boleh, biar kamu urus paspor dan visa dulu" mama sudah bahas hal ini padaku sebelumnya. Aku sudah bilang tidak akan ikut mengantar auri kesana.
"Aku ada tanding basket ma" kataku mengulang alasan yang sama. Mama pun diam. Kami mulai makan dan segera pulang.
Aku duduk di ranjang memainkan game di hpku, sesekali aku melirik auri yang membereskan barangnya. Aku melihat lemari pakaian yang terbuka, pakaian disana mulai kosong. Auri sudah menyicil menyusun barangnya. Aku menggigit bibirku, apakah aku harus mulai bicara?. Ah tidak, aku yang akan ditinggalkan olehnya, harusnya ia yang berbicara denganku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Leave Me Alone
Aventura(GxG) kamu tidak akan tahu, bagaimana kehidupanmu ke depan. siapa yang akan kamu temui & kamu tinggalkan. siapa yang akan kamu cintai dan kamu benci. aku bahkan tidak menyangka, ketika aku iri dengan temanku yang punya orang spesial, tuhan pertemuka...
