34. ThirtyFour

3.1K 262 0
                                        

"Kalau gua jadi lo, gua gak akan ikutin sih" amel membalas curhatanku dengan cepat.

"Lo cari caralah dar, lo yakin mau diem aja?. Lo jauh-jauh kesana untuk apa?, kalau cuma buat kuliah. Gua yakin disini pun lo bakal diterima, bahkan beasiswa lo juga lolos" balas rina. Aku menutup laptopku. Melirik auri yang sudah tidur disampingku. Aku melihat kesal bantal guling yang berada ditengah kami, mulai malam ini guling akan jadi oembatas kami. Huft, takut banget anak ini aku sentuh dia.

Auri dan aku menaiki bus di jam yang sama. Auri duduk di barisan depan bus, sedangkan aku berdiri tak jauh darinya. Aku memperhatikan auri sesekali dari belakang. Bus berhenti, beberapa orang naik. Aku melihat seorang pria berdiri disamping auri, ia tampak seperti mahasiswa. Ia berbisik-bisik dengan temannya sambil menunjuk auri. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, aku gerah melihatnya. Perlahan aku bergerak kedepan hingga berdiri di samping pria ini.

Pria itu hendak menyentuh rambut auri, aku melihat ada benda yang tsrsangkut disana. Bruk, aku sengaja menabrakkan diriku ke pria ini. Tentu saja ia oleng hampir jatuh. Aku grasak grusuk hingga pria ini bergeser menjauhiku. Kini aku yang berdiri di samping auri. Auri mendongak menatapku, aku tersenyum padanya.

Aku jalan beberapa langkah di belakang auri. Aku mengikuti langkahnya kanan dan kiri. Kami berpisah di depan gedung jurusanku.

Ketika sedang tak ada dosen, aku termenung di ruangan. Memikirkan apa yang akan aku lakukan, situasi hibungan ku dan auri runyam.

Aku teringat stok makanan di apart menipis. Sepulang kuliah aku pergi belanja, aku mengambil semua yang kita butuhin. Namun bodohnya aku, aku asal ambil tak pertimbangin harganya. Ketika membayar aku terkejut dan ingin menangis. Uang sakuku habis seketika.

Merapikan barang belanjaanpun aku tak semangat mengingat uangku habis. Aku meringkuk di sofa menatap nanar belanjaan yang masih berserak di lantai.

Setelah 2 jam meratapi nasib. Aku bergerak membereskan belanjaan. Ku baca ulang struk belanjaan, aku mendesah berat. Ku buang kertas itu di tong sampah.

Aku khawatir dengan waktuku 3 minggu ke depan. Aku tidak mungkin meminta uang ke mama papa. Apa kata mereka jika aku memghabiskan uang sebanyak itu dalam seminggu.

Aku menopang daguku dan kembali termenung di ruangan. Samar aku mendengar percakapan orang di depanku.

"Coba ke toko ini, mereka butuh pekerja part time dua orang"

Sontak mataku melebar. Aku mendekati mereka.

"Hai, aku juga butuh kerja. Boleh ikutan?" Tanyaku. Mereka saling tatap sebelum mengangguk. Setelah mendapatkan alamat detailnya, aku berterima kasih dan segera pergi. Aku harus mencari cara untuk menyelamatkan hidupku 3 minggu ini.

Aku pulang dengan riang menenteng satu cup coffe dan sepotong cake. Aku diterima kerja part time di sebuah coffeshop. Bahkan aku sudah mulai kerja hari ini. Walau aku pulang larut, tak apa.

Sampai di apart. Auri ternyata belum tidur, ia duduk di meja makan. Aku langsung menghampirinya, ku letakkan cake di dekatnya.

"Jangan ditolak. Sayang kalau harus dibuang, gua bawa buat lo" kataku. Auri tak menjawab. Aku meletakkan kopiku ke kulkas, lalu masuk kamar.

*****

Aku pergi kuliah selalu menyesuaikan waktu dengan auri. Walau tak bicara, aku ingin tetap disampingnya dan mengawasinya. Aku suka memandangi rambutnya ketika berjalan di belakangnya, aku akan berdiri di tempatku melihat auri hingga hilang ketika berbelok menuju kelasnya.

Sepulang kuliah sebelum kerja, aku akan menunggu auri di depan gedung kampusku. Aku cukup puas bila hanya melihatnya, sendiri ataupun bersama temannya.

Auri menghentikan langkahnya, ia berbalik memghampiriku.

"Lo gak pulang?" Tanyanya.

"Ah, gua pulang telat. Ada perlu" kataku. Auri mengerutkan keningnya, ia menatapku sebentar lalu berbalik pergi.

Aku tidak bilang ke auri bahwa aku kerja. Aku tak mau berita ini sampai ke mama papa.

Bekerja di coffeshop ini lumayan menguras tenaga, customernya ramai terutama ketika sore dan malam hari. Aku yang selalu shift sore malam pun harus menikmati hecticnya.

"Halo selama sore kak, mau pesan apa?" Tanyaku. Aku terkejut melihat emily berdiri di depanku. Emily pun tak kalaj kaget, ia berbisik ke sarah yang mengantri di belakangnya. Emily menyebutkan pesanannya lalu memberiku sejumlah uang.

Aku pulang dengan rasa khawatir. Aku yakin auri pasti sudah mengetahui bahwa aku kerja part time. Ketika aku masuk, auri duduk di sofa menatap tv, ia melipat kedua tangannya dengan wajah kusut.

"Gua bawa cake redvelvet kesukaan lo, dimakan ya" kataku. Aku meletakkan bingkisan itu di meja dan melewati auri menuju kamar.

"Lo kekurangan uang?" Tanya auri. Aku berhenti dan berbalik menatap auri.

"Iya, sorry gua gak bilang kalau gua kerja. Baru 3 hari ini" jelasku.

"Karena ini?" Auri menunjukkan struk belanjaan yang sudah aku buang.

"Iya"

"Bukannya gua udah bilang, kita urus urusan kita masing-masing. Kebutuhan gua bisa gua beli sendiri, lo gak perlu lakuin apapun buat gua"

Aku menghela napas berat. Aku melakukannya karena aku ingin. Ingin auri tidak dingin dan cuek padaku.

"Besok gua ganti uang lo, lo gak perlu kerja begitu" ucap auri.

"Gua akan tetap kerja walau lo ganti uang gua" kataku kesal. Aku langsung saja masuk kamar dan mandi. Auri semakin menyebalkan.

"AURIIII" aku berteriak kencang. Aku menutup mataku, berjongkok ketakutan di dalam kamar mandi. Lampu tiba-tiba mati. Semua gelap, aku tidak bisa melihat cahaya apapun.

"Dar!, buka pintunya!" Aku mendengar auri, mengetuk pintu dan berusaha membuka. Aku merangkak masih dengan mata tertutup dan takut, aku mencari gagang pintu. Memutar kuncinya. Cahaya menerangi kamar mandi ini, auri mengarahkan hp nya ke arahku yang bersimpuh dilantai dengan handuk yang melilit di tubuhku.

"Are you ok?" Auri langsung membantuku berdiri dan membawaku ke sisi ranjang. Aku yang semula ketakutan mulai tenang. Auri meletakkan hp nya yang masih menyala di meja.

"Lo pakai baju gih" katanya hendak pergi. Aku menahan auri dengan menarik ujung piyamanya. Auri berbalik melihatku. Aku tak berkata apa-apa, namun auri mengerti. Ia duduk disisi ranjang membelakangiku. Aku segera memakai piyamaku.

"Udah?" Tanya auri menoleh ke belakang. Aku mengangguk. Auri meraih hpnya dan keluar kamar. Aku mengekori auri dengan memegang bajunya.

"Di luar negeri juga ada mati listrik" ucap auri. Ia mengambil dua piring dan meletakkan nasi serta ayam krispy.

"Dari mama emily" ucapnya. Aku mengikuti auri yang mulai makan. Usai makan auri meletakkan cake yang aku bawa di tengah meja, ia memakan cake itu perlahan sambil membaca bukunya.

"Tunggu!" Kataku ketika auri hendak mencuci piring, aku kembali memegang ujung bajunya. Aku mengikuti kemana auri pergi selama listrik belum menyala, tak ada yang kutakuti di dunia ini kecuali gelap gulita. Cahaya hp auri hanya mampu menerangi area mereka berdua. Untuk tidur pun aku tidak bisa bila gelap gulita, cahaya temeram cukup.

Listrik belum juga menyala. Batrai hp ku low, milik auri juga tak akan mampu menerangi kita lebih lama lagi. Kami sudah berbaring di ranjang, auri sepertinya sudah tidur. Aku melihat kanan kiri, aku jadi memikirkan yang tidak-tidak. Aku tidak bisa tidur, berputar kanan dan kiri.

Auri berbalik menghadapku. Auri menggenggam tanganku, membelai punggung tanganku. Aku menatap auri yang masih menutup matanya.

"Lo harus tidur" ucapnya. Aku menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan sembari menutup mataku.

Don't Leave Me AloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang