17. seventeen

3.7K 307 6
                                        

Aku terbangun. Mataku terasa berat dan perih. Mungkin akibat nangis semalaman. Kulihat jam, sudah jelas aku kesiangan dan telat ke sekolah. Aku bermalasan turun dari kasur dan keluar kamar. Apart terasa sunyi, aku berdiri lama di depan kamarku & dara. Haruskah aku masuk?. Tapi aku butuh mandi dan bersiap, seenggaknya aku akan tetap ikut les dengan pak rangga jika aku tak masuk sekolah.

Aku membuka pintu perlahan. Aku gugup. Namun aku lega, tak ada dara disana. Aku meraih hp ku di atas meja belajar.

"Pagi pak. Saya sedang tidak enak badan. Saya tidak bisa masuk hari ini. Bisa les dirumah aja nanti sore?" Aku mengirim pesan ke pak rangga. Aku mengecek chat yang lain, jariku berhenti di nama dara. Tak ada pesan darinya, apakah dara di sekolah?. Ia tidak membangunkanku, ah tentu saja. Kami bertengkar begitu bagaimana mungkin dara dengan mudah menurunkan egonya, begitupun aku.

Sesuai pesanku. Pak rangga datang sore ini ke rumah. Namun ia tak sendiri, ada dara yang mengekorinya. Mataku dan dara bertemu sekilas, ia lamgsung masuk ke kamar meninggalkan aku dan pak rangga di ruang depan.

"Kenapa kamu?, demam?" Tanya pak rangga

"Gak pak, cuma lemas aja"

"Sekarang gimana?, bisa belajar sama bapak?"

"Bisa pak" ucapku. Aku dan pak rangga duduk berhadapan. Pak rangga memberiku rangkuman materi selanjutnya. Aku menyukai cara pak rangga mengajariku. Ia bahkan lebih cakap dibanding guru home schoolingku dulu.

Aku menoleh ke arah pintu kamar memyadari dara keluar kamar. Mataku mengikuti dara yang menuju dapur.

"Coba kamu selesaikan soal yang ini!"

Aku beralih ke kertas yang diberi pak rangga, aku kembali fokus. Kuselesaikan soal dengan cepat. Pak rangga memeriksa hasilnya. Ekor mataku memangkap dara yang mendekati kami.

"Silahkan pak" dara meletakkan minuman dan kue kering.

"Terima kasih dara" ucap pak rangga memberi senyumnya. Dara berbalik dan duduk di sofa tak jauh dari kami.

"Sebentar lagi ujian semester, setelah itu kamu akan mulai masuk semester akhir, ujian-ujian dan waktu belajar bakal lebih padat. Bapak harap kamu jaga kesehatan, apalagi kata andrea kamu sering sakit" ucap pak rangga di akhir sesi les.

"Iya pak"

"Sesekali kamu harus refreshing. Jangan hanya berteman dengan buku. Dunia luar juga menyenangkan, ya kan dar?"

Aku melirik dara yang tersenyum pada pak rangga.

"Iya pak, belajar muluk ntar gampang emosi, overthingking, moody" jawab dara. Aku merasa tersindir dengan ucapan dara. Kutarik napas dalam dan hembus perlahan, berusaha tenang.

"Benar dara, kita harus seimbangin kehidupan di pendidikan, sosial" pak rangga membereskan barang- barangnya setelah menghabiskan minuman yang dara buat. Aku mengantar pak rangga hingga ke depan pintu apart.

"Terima kasih pak" ucapku melepas pak rangga.

Aku membereskan buku-buku dan membawa gelas pak rangga ke dapur. Aku berjalan melewati dara. Ketika hendak masuk kamar meletakkan buku, dara memanggilku. Aku menoleh padanya.

"Lo cerita apa aja ke rina dan amel?" Dara beranjak dari sofa dan mendekatiku.

"Kenapa?, ada yang salah?" Tanyaku. Aku rasa dara akan bahas masalah aku yang sudah mengatakan ke dua sahabatnya bahwa kami adik kakak. Apa ini akan menjadi tambahan masalah kami?.

"Kenapa tiba-tiba jujur masalah hubungan kita ke mereka?, bukannya lo yang gak mau siapa pun tahu?" Dara berbicara dengan nada ketus, aku menatapnya.

"Temen lo juga penasaran"

Don't Leave Me AloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang