Aku berangkat kuliah lebih pagi sebelum auri bangun. Namun aku sudah memasak makanan untuknya. Sepanjang kelas aku hanya termenung, aku sedang tidak fokus.
Begitu juga di cafe. Aku bekerja namun lebih banyak melamun. Terutama ketika tak ada customer yang perlu dilayani, aku duduk di balik bar menopang dagu menatap ke jalanan yang gerimis.
"Kopi dulu biar semangat" agatha menyodorkan kopi ke depanku.
"Thanks ta" kataku.
"Kamu nilai dulu nih kopi racikan terbaruku" ucapnya. Aku menyipitkan mataku melihat warna kopi ini, aku melirik agatha dengan ragu.
"Apakah aku akan sakit perut?" Tanyaku sebelum meminumnya.
"Dara, aku gak akan punya niat buruk ke kamu" ujar agatha kesal, aku tertawa dan mulai meminumnya.
"Bagaimana?" Ia tak sabar meminta pendapatku.
"Ok, tapi kurang creamy sedikit"
"Good" ujarnya meminum kopi di gelasnya. Ia memintaku mencoba duluan kopi yang ia buat, jika tak enak berarti ia tak akan meminum kopinya sendiri.
"Ta, sorry ya buat tadi malam" kataku. Aku merasa tak enak karena membawanya pulang bersamaku, bahkan malam itu aku memerintahnya, aku lupa bahwa ia anak bosku.
"Santai, kita kan temen" ucapnya, aku bernapas lega.
"So, mereka gak pacaran?" Selidik agatha, aku menggeleng pelan.
"Pantas saja kamu mara sebesar itu, bukan pacar tapi berani cium auri. Ambil kesempatan banget" agatha ikut geram, aku tertawa pelan.
"Mereka gak pacaran, tapi aku yang pacaran dengan auri" jelasku sambil menyeruput kopiku. Aku melirik agatha yang terbelalak dan ternganga, aku tersenyum ketika ia spontan menutup mulutnya.
"Serius dar?"
"Iya, kita pacaran"
"Kalian kan saudara" ujarnya. Aku mengangguk, perlahan ku jelaskan posisiku dan auri. Aku tak peduli apa tanggapan agatha, saat ini temanku hanya dia.
"Teman auri tahu kalian pacaran?" Aku menggeleng menjawab agatha. Ia menghela napas berat.
"Lalu kalau mereka bertanya bagaimana?"
"Ntahlah, kamu sendiri bagaimana?. Kamu pasti kaget punya teman sepertiku"
"Dar, ini jaman modern. Jangankan aku, orang tua pun pasti sudah banyak tahu tentang hubungan seperti ini. Aku rasa kamu tidak perlu khawatir dengan pandangan orang, cukup jalani hidup kamu dengan baik bersama auri" ucapan agatha menghangatkan hatiku. Aku menggigit bibirku menahan air mataku, aku masih menahan rasa sesak di dadaku sejak malam.
"Thankyou ta"
"Hmm, udah ayo semangat kerja!" Ucapnya menepuk bahuku.
Aku sudah berdiri di depan lift 10 menit yang lalu. Aku ragu untuk naik. Seharian aku tak mengabari auri.
"Kamu gak naik?"
Aku menoleh ke belakang dan terperanjat kaget auri berdiri disana dengan membawa bungkusan plastik. Aku mengikuti auri masuk ke dalam lift, hanya kami berdua disini. Aku merasa canggung, auri juga tak lanjut berbicara padaku.
"Kamu kenapa gak bawa handphone?" Tanya auri ketika kami sudah di apart. Aku merogoh saku tasku, ah ternyata bukan karena aku matikan hp. Tapi emang aku tak membawanya dan tak ingat.
"Ayo makan!" Auri menarikku duduk di meja makan mungil ini.
"Are you ok?" Tanyanya. Aku menghentikan tanganku yang mengaduk-aduk makanan. Aku mengangguk pelan.
"Kamu gak mau cerita?, kamu aneh. Gak biasanya juga kamu lupa bawa hp. Kalau aku gak nanya ke agatha, aku juga bakal gak tau kalau kamu udah pulang atau belum" ujarnya.
"Sorry" ucapku lirih. Aku pun tak tahu apa yang harus aku say sorry. Aku menunduk menatap makananku.
"Dar, whats wrong?" Auri menggenggam tanganku yang masih mengaduk makanan tanpa memakannya.
"Aku gak lapar, aku istirahat ya" ujarku sontak berdiri. Tubuhku rasanya lemas dan ingin segera berbaring. Usai mandi aku langsung terlelap.
*****
Bangun tidur kepalaku terasa sangat berat. Aku berjalan tertatih ke toilet dan kembali berbaring. Aku mengabari agatha bahwa aku tak masuk kerja hari ini.
"Kamu udah bangun?" Aku menoleh ke auri yang baru masuk kamar. Ia membawa sarapan untukku. Auri menyentuh keningku.
"Udah gak panas, kepala kamu masih sakit?" Tanyanya, aku mengangguk. Apakah aku demam tadi malam, aku tak ingat apapun selain tidur setelah mandi.
"Sarapan dulu ya, minum obat baru istirahat lagi" aku beranjak duduk menuruti omongan auri. Ia mengurusiku sejak malam kan, apakah ia sudah tidur, matanya terlihat capek.
"Aku bisa sendiri" kataku meraih mangkuk dan sendok dari tangan auri.
"Aku ad kuliah pagi, kamu gak apa aku tinggal?"
"Aku bukan anak kecil" sahutku. Terdengar helaan napas auri, ia beranjak keluar kamar setelah mencium keningku. Aku hanya menghabiskan setengah bubur ini, lalu meminum obat pain killer punya auri. Aku kembali berbaring, aku butuh berhenti memikirkan kejadian sebelumnya.
Hari sudah sore, aku duduk di sofa menonton tv. Aku mulai bosan seharian dirumah. Tak lama auri pulang, ia tersenyum manis padaku.
"Hai, gimana keadaan kamu?" Auri duduk di sebelahku, ia kembali menyentuh keningku.
"Masih sakit kepala?" Tanyanya, aku menurunkan tangan auri dadi keningku.
"I'm ok" kataku. Auri merangkulku dan mencium pipiku. Aku hanya diam. Tak puas, auri memutar wajahku ke arahnya, menangkup kedua pipiku dan menciumi bibirku. Aku yang masih bete pun mulai memghindari hujan ciuman auri. Tak sengaja aku mendorongnya terlalu kuat, auri terdorong ke ujung sofa.
"Sorry" ucapku merasa bersalah.
"Kamu aneh sejak tadi malam, kamu mau terus diam?. Aku gak akan tahu salahnya dimana?, aku ada salah?" Auri tampak kesal padaku. Tapi aku lebih kesal padanya, ia bahkan tak ingat sudah menerima ciuman orang lain. Hanya aku yang berhak atas itu. Tapi auri mabuk malam itu, lalu bagaimana dengan ronald. Lelaki itu sadar kan, ia melakukannya tentu karena ingin dan ada kesempatan. Lagi pula, tak ada yang benar-benar hanya teman dalam hubungan pria wanita.
"Aku udah beritahu agatha tentang kita, bahwa kamu pacarku. Aku berharap aku dan kamu bisa beritahu emilg, sarah dan pria beruntung yang sangat mencintaimu itu, ronald" ucapku. Aku beranjak keluar apart setelah mengatakan itu. Aku butuh udara segar dan kopi. Aku harus menenangkan hati dan pikiranku.
Awalnya aku memang tak masalah jika hubungan ini tak diketahui orang lain. Namun seseorang akan berusaha masuk diantara kami. Bagaimanapun kami akan tetap memberitahu status kami, jika ingin tak ada yang merusak.
Ronald, pria itu emang teman baiknya sama seperti emily dan sarah. Namun aku paham apa arti tatapan dan sikap ronald ke auri, jelas berbeda ketika ia memperlakukan emily dan sarah. Apa auri hanya pura-pura tak tahu, ia harus memberi batas yang jelas kepada ronald. Apalagi setelah ia mencium auri dalam keadaan mabuk, ia brengsek dan tak beretika. Ia tidak memghormati auri.
Mengingat ini malaj semakin membuatku geram. Rasa puasku tentu ada ketika memukul wajah ronald dan melihatnya tersungkur. Aku tak akan membiarkan siapapun menyentuh milikku.
Aku kembali ke apart dengan tubuh berkeringat. Aku menghabiskan waktu di lapangan basket bersama penghuni apart. Setelah mandi aku langsung ke ranjanh, auri juga sudah berbaring membelakangiku. Aku menatap punggungnya, tidak. Aku tak akan memeluknya.
Ah, dasar aku. Aku tidak bisa tidur. Ntah karena aku seharian hanya tidur. Atau aku hanya gelisah. Aku berputar ke kanan dan ke kiri mencoba tidur, namun tak juga terlelap. Aku menoleh ke auri yang masih membelakangiku, perlahan aku meraih pinggangnya hingga auri berputar menghadapku. Aku tertegun ketika auri bergeser hingga kepalanya berada didadaku, ia memeluk erat pinggangku. Harum rambutnya membuatku tenang, aku pun memeluknya dan mencoba tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Leave Me Alone
Petualangan(GxG) kamu tidak akan tahu, bagaimana kehidupanmu ke depan. siapa yang akan kamu temui & kamu tinggalkan. siapa yang akan kamu cintai dan kamu benci. aku bahkan tidak menyangka, ketika aku iri dengan temanku yang punya orang spesial, tuhan pertemuka...
