[Typo Bertebaran.]
.
.
.
***
Seperti biasanya, malam ini Felix kembali lagi untuk bertemu dengan Al. Seperti malam-malam sebelumnya ia akan datang diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun, di saat semua orang sudah tertidur.
Tapi sepertinya tidak untuk malam ini, karena saat ia baru saja akan memasuki ruang inap Al, ia langsung disuguhi empat tatapan tajam dari orang yang juga berada disana. Lebih tepatnya sedang berada dihadapannya.
"Akhirnya kau datang." Suara berat dari seorang pria paruh baya terdengar ditelinga Felix.
"Ka_kalian?" Felix terkejut saat mendapati Papa dari sahabat itu, ada disini begitu juga sahabat yang sekarang sedang menatap dirinya. Bukankah seharusnya dia sudah tertidur.
Malam ini Alex memang sengaja menunggu disini berdua bersama putranya itu. Bahkan Rafa sengaja tidak tertidur untuk menunggu seseorang yang sekarang sudah berada dihadapan mereka berdua.
"Terkejut hm?" Tanya Alex menatap dingin pemuda di depannya sekarang.
Felix tidak menjawab, yang dilakukannya hanyalah melirik Al yang masih tertidur di atas ranjangnya. Sepertinya anak itu belum sadar akan keberadaan dirinya. Karena sekecil apapun gerakan yang ia lakukan. Anak itu akan segera terbangun dari tidurnya.
"Tenang saja Tuan Alex, saya berjanji ini adalah pertemuan terakhir saya terhadap Al." Ujar Felix menatap Pria paruh baya didepannya itu. Setelah itu matanya beralih menatap sahabatnya.
"Dan Rafa, aku sudah memikirkannya. Aku akan pergi dari negara ini."
"Aku tahu, kalian pasti sudah menyadari keberadaan ku yang selama ini diam-diam menjenguk Al!" ujarnya lagi.
"Baiklah! Sepertinya saya tidak bisa berbasa-basi sekarang." Alex berjalan mendekat kepada pemuda didepannya. Tangannya memegang berkas penting yang akan ia berikan.
Sedangkan Rafa hanya diam duduk disofa menatap mereka berdua.
"Apa ini Tuan Alex?" tanya Felix bingung saat orang didepannya ini menyerahkan suatu berkas ditangannya.
"Bacalah dan kau akan tahu!"
Felix membuka lembaran kertas itu, dibacanya dari atas sampai bawah, mencoba mencerna setiap kalimat yang tertulis didalamnya." Anda ingin mengadopsi saya?" Keningnya mengkerut, saat memahami isi yang ada didalamnya. Tapi, satu yang tidak ia mengerti kenapa orang didepannya ini ingin menjadikannya seorang anak.
"Ya, saya ingin mengadopsi kamu, apakah kamu menerima atau tidak itu kepetusanmu sendiri."
"Tapi kenapa?" Tanya Felix lagi.
"Tidak perlu kau tahu alasannya. Karena itu sudah keputusan saya!"
"Raf?" Felix menatap sahabatnya itu.
"Aku sudah menyetujui nya! Sekarang hanya keputusan mu yang di perlukan!" Ujar Rafa dingin.
Eugh!
"Papa sudah datang?" Tanya Al yang setengah sadar. Ia mengusap matanya pelan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk di kedua matanya.
"Papa?" Alex mengernyitkan keningnya bingung.
"Eh! Ada Opa?" Al segera sadar saat mendengar suara sang Opa yang terdengar. Ditatapnya sang Opa dengan terkejut. Bahkan Daddynya belum tertidur.
"Daddy_"
"Siapa yang kau panggil Papa?" Tanya Alex lagi.
"Dia memanggil saya." Jawab Felix santai.
Rafa menatap Felix tajam, bagaimana bisa dia dengan beraninya mendapatkan panggilan itu dari Putranya sendiri.
"Opa, Daddy__ Al memang mau panggil Abang Felix dengan sebutan Papa." Jelas Al cepat. Takut mereka akan salah paham.
"Siapa yang mengizinkan mu memanggil orang lain dengan sebutan itu." Ujar Rafa dingin kepada Al.
Al menatap Daddynya polos." Papa Felix bukan orang lain, katanya mau jadi anak Opa?" Ujarnya kepada Daddynya itu.
"Al mengetahuinya?" Felix menatap mereka bertanya-tanya.
"Ya! Al sudah tahu, Papa mau kan jadi anaknya Opa?" Bukannya Alex atau Rafa yang menjawab tapi, Al yang langsung berujar antusias.
"Kalian yakin mengangkat saya sebagai anak?" Felix bertanya mencoba memastikan.
"Ya, asalkan kau tak membuat masalah." Jawab Alex.
"Kalau seperti itu saya terima."
"Terimakasih kasih sudah memberikan saya kesempatan." Felix berujar tulus, bahkan ia membungkukkan tubuhnya menghormati orang didepannya ini.
"Ya jadi, sekarang kau hanya akan memanggil saya Papa, dan jangan panggil saya tuan."
"Saya harap anda akan terbiasa." Ujar Felix tersenyum simpul, dilihatnya orang didepannya yang sekarang akan menjadi Papa angkatnya.
*
Pemberitaan Felix yang akan menjadi anak angkatnya Alex pun, sudah sampai ditelinga para keluarganya. Mereka cukup terkejut, tapi segera menerima keputusan Alex itu. Bahkan Aska tak bisa menolak keputusan Papanya. Hanya saja Aska sedikit tidak terima karena, sekarang saingan untuk dekat kepada Al akan semakin bertambah. Apalagi ia tahu, sahabat kakaknya itu akan tinggal dirumahnya.
Untuk keadaan Xifer, ia juga tahu bahwa kakaknya akan diadopsi oleh keluarga Groston itu. Apakah ia iri? Tentu saja tidak, bahkan dia sangat bersyukur akhirnya kakaknya itu akan segera menemukan kebahagiaannya. Karena bagaimanapun ia sangat tahu apa yang kakaknya itu alami selama ini.
Bahkan saat orang tua mereka berpisah, ada banyak sekali keluarga baik dari pihak Mama maupun Papa mereka, akan sangat bersedia mengadopsi dirinya. Bahkan mereka sangat menyayangi dia, karena bagaimanapun walaupun orang tua mereka tidak pernah memberikan kasih sayangnya, Xifer masih bisa merasakan kasih sayang orang tua walaupun berasal dari paman, bibi beserta Oma dan Opanya. Sedangkan kakaknya itu sedikitpun tidak pernah. Ia juga tak mengerti apa yang salah terhadap keluarganya itu, sehingga mengabaikan kakaknya sendiri.
Untuk sahabat mereka Arya, ia cukup terkejut, walaupun ia sedikit tidak terima saat mengetahui hal itu. Bukan berarti ia iri karena tidak diangkat menjadi anak, tapi ia tak terima sahabatnya itu akan lebih dekat kepada Al. Ia takut Felix akan melakukan kejahatan yang dapat melukai Al lagi. Tapi, karena itu sudah menjadi keputusan keluarga sahabatnya itu, ia dapat menerima nya karena pasti mereka sudah memikirkan nya dengan baik.
.
.
.
.
.
~ Next
KAMU SEDANG MEMBACA
ALVIN ✓
Novela Juvenil~ Familyship, Brothership, Bromance dan Friendship *** Kisah seorang remaja yang meninggal akibat kecelakaan dan bertransmigrasi ke tubuh seorang anak berumur empat tahun yang hidup di jalanan. Disaat meratapi nasibnya remaja itu di kejar-kejar pre...
