[Typo Bertebaran.]
.
.
.
***
Al berdiri didepan kaca full body memuji pantulan dirinya yang menurut nya sangat-sangatlah tampan. Wajahnya bersemu merah dengan senyum manisnya ia terpana melihat dirinya sendiri. Sekarang anak itu tengah menggunakan baju dengan jas abu-abu gelap berpadu dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam yang ia kenakan. Baju pilihan sang Oma sangat pas ditubuh kecilnya sekarang.
Hari ini ia akan menghadiri acara penting, bersama keluarga besarnya.
Tak terasa Daddynya itu akan mengalami acara kelulusan hari ini bersama sang Papa dan Omnya Faren.
Bahkan karena acara ini, keluarganya yang berada di Amerika juga ikut andil memeriahkan acara disini. Sekarang Mansionnya kembali ramai oleh para keluarganya itu.
Al segera turun menggunakan lift menuju ruang tamu dimana keluarganya sudah berkumpul menunggu dirinya.
"Al sudah siap!" Teriaknya saat sudah didepan hadapan keluarganya yang sekarang sudah menatap dirinya dengan berbagai ekspresi.
"Aduh Al, kamu lucu banget!" Pekik Selina heboh.
"Tante, Al itu tampan!." Al mengerucut lucu, Selina yang melihat itu terkekeh kecil dibuatnya.
"Iya cucu Oma sudah tampan, mirip banget sama Daddynya." Chris memuji cucunya itu, ia sangat suka saat cucunya memakai baju pilihannya. Sangat serasi dengan semuanya yang juga mengenakan warna yang senada.
"Dia lebih mirip dengan Papanya."
Para remaja disana mendelik mendengar perkataan narsis dari Felix, sedangkan sang empu hanya menampilkan raut santainya.
Felix berjalan mendekat kearah Al, ia berjongkok menyesuaikan tinggi tubuh anak didepannya ini.
"Al mirip Papa kan?" Felix menatap Al lembut.
Al menggelengkan kepalanya" Daddy tampan, Papa juga tampan tapi, Al yang paling tampan disini!" Ditatapnya Papanya itu meyakinkan, dengan senyum manisnya ia melihat semua yang ada disana.
Mereka yang ada disana hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah kesayangan mereka yang begitu yakin akan ketampanan yang ia miliki. Sedangkan Felix hanya bisa tersenyum pasrah akan jawaban dari Al.
**
Mereka pun segera pergi dan meninggalkan Mansion Groston itu, selama perjalanan Al terus saja memperhatikan keindahan jalanan diluar. Ia sangat menyukainya karena, jarang sekali ia keluar dari Mansion membuatnya selalu mengabadikan momen setiap ia pergi dari sana.
Setelah perjalanan yang panjang, beberapa mobil memasuki kawasan sekolah. Disana sudah banyak sekali orang-orang yang juga sudah datang dengan keluarga mereka disana.
Al dan yang lainnya segera keluar dari mobil mewah mereka. Ia segera digendong oleh sang Opa, mereka berjalan melewati tatapan orang yang berada disana seolah sudah menanti kedatangan keluarganya itu.
Al menatap orang-orang yang sedang menatap dirinya dan keluarganya itu. Saat ia memandang wajah keluarganya, para keluarganya hanya menampilkan wajah dingin dan datar mereka. Bahkan Om Askanya yang selalu jahil terhadap dirinya, sangat-sangat berbeda sekarang. Aura yang mereka keluarkan sungguh berbeda saat bersama dirinya dirumah.
"Bukankah itu keluar Groston?"
"Siapa anak yang bersama mereka itu?"
"Bukankah mereka pemilik sekolah ini?"
Banyak pertanyaan yang orang-orang lontarkan saat melihat keberadaan keluarga besar Groston itu, bahkan juga ada yang mempertanyakan tentang keberadaan Al disana.
Karena bagaimanapun Al belum dipublikasikan sebagai bagian dari keluarga Groston. Membuat tidak ada siapapun yang mengetahui tentang dirinya.
Tapi sepertinya keluarganya itu tidak perduli akan omongan mereka. Keluarganya hanya berjalan lurus kedepan melewati orang yang menatap mereka penuh pernasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALVIN ✓
Teen Fiction~ Familyship, Brothership, Bromance dan Friendship *** Kisah seorang remaja yang meninggal akibat kecelakaan dan bertransmigrasi ke tubuh seorang anak berumur empat tahun yang hidup di jalanan. Disaat meratapi nasibnya remaja itu di kejar-kejar pre...
