[ Typo Bertebaran.]
.
.
.
***
***
"Daddy ayo!"
"Homeschooling saja ya."
Al mendengus menatap tajam Daddynya itu."Katanya sudah janji bolehin Al sekolah umum. Kok Daddy masih nyuruh homeschooling sih!" ungkapnya dengan wajah cemberut.
Rafa menghela nafasnya lelah."Siapa yang maksa tidak mau makan seminggu hm?" tanyanya lembut, ia membungkuk menyesuaikan tubuh putranya itu."Daddy tidak berjanji, tapi kamu yang memaksa." sambungnya menjelaskan. Mereka berdua sedang berdiri didepan bangunan tinggi disana. Di sebuah sekolah SMP Purnama dengan bangunan empat lantainya itu.
"Tapi Al mau sekolah disini!" tekan Al dengan kaki yang di hentakkan.
"Tapi, harus janji pulangnya harus tunggu Daddy yang menjemput!"
"Iya! Al janji!" Al menganggukkan kepalanya semangat, raut kesalnya segera terganti dengan senyum manisnya. Rafa hanya bisa pasrah menuruti putranya itu.
Al sekarang umurnya sudah 12 tahun, dan tahun ini ia akan memasuki sekolah menengah pertamanya.
Sebenarnya Daddy dan keluarganya yang lain tidak mengijinkannya untuk sekolah umum tapi, dengan paksaan dan ancaman yang ia lakukan membuat keluarganya itu tak dapat menolaknya. Itu sebabnya ia sekarang berada disini, disekolah milik sahabat Opanya itu, di antar oleh sang Daddy. Sebenarnya keluarganya juga ingin ikut mengantarkan nya kesekolah tapi, karena urusan yang mendadak membuat mereka tak bisa. Dari sang Opa yang ada meeting, Oma yang ingin menjenguk temannya yang sakit, dan papanya yang sedang ada pekerjaan, untuk om Askanya ia sedang dikurung dikamarnya karena ketahuan ikut balapan semalam. Dan keluarganya yang yang lain tentu saja mereka ada di Amerika. Rencananya mereka akan kesini lagi tapi, ia tak tahu kapan waktunya itu.
Rafa dan Al segera berjalan menuju keruang kepala sekolah untuk mengetahui kelasnya berada. Rafa tentu saja tahu dimana ruang kepala sekolahnya karena ia sudah diberi tahu oleh Papanya itu, lurus saja kedepan dan belok kiri akan ada tulisan ruangan Kepala Sekolahnya. Seharusnya kalau Al datang lebih awal, pasti ia akan mendengarkan pengumuman pembagian kelas bersama murid-murid yang lainnya. Tapi, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 9, dan itu semua disebabkan oleh sang Daddy yang baru akan memesan seragam dan perlengkapan sekolahnya, membuat dirinya harus menunggu terlebih dahulu.
Rafa segera mengetuk pintu dan membukanya, disana sudah ada kepala sekolah yang sedang duduk di kursinya. Kepala sekolah itupun segera berdiri menyambut kedatangan mereka berdua.
"Selamat datang Tuan Rafa, apakah ini tuan muda Al yang ingin masuk kesekolah ini?" Kepala Sekolah bertanya dengan ramah. Ia memang sudah diberi tahu oleh pemilik sekolah akan kedatangan Rafa dan Al.
"Ya, ini putraku"
"Kalau begitu biar saya antar tuan muda ke kelasnya."
Kepala sekolah segera menuntun Rafa dan Al keluar ruangan. Setelah mengantar Putranya, Rafa berencana akan pergi, tapi sebelum ia melangkah pergi Al segera menghentikan pergerakannya.
"Daddy!"
Mendengar panggilan itu, Rafa segera menunduk melihat putranya yang sekarang mengadahkan kedua tangannya dengan senyumannya yang terpancar dari Putranya itu.
"Uang jajan!" ujar Al dengan matanya yang mengerjap polos menatap Daddynya itu.
Rafa langsung mengerti apa yang diinginkan putranya itu, bagaimana ia bisa lupa memberikan uang untuk anaknya itu jajan, dengan gerakan lambat ia mengambil dompetnya yang berada disaku celananya. Al berbinar senang menatap dompet tebal Daddynya itu. Sampai uluran tangan sang Daddy memberikan sesuatu ditangannya membuat ia menatap cengo pada telapak tangannya, dengan perlahan ia menatap sang Daddy dengan ekspresinya yang berubah masam.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALVIN ✓
Novela Juvenil~ Familyship, Brothership, Bromance dan Friendship *** Kisah seorang remaja yang meninggal akibat kecelakaan dan bertransmigrasi ke tubuh seorang anak berumur empat tahun yang hidup di jalanan. Disaat meratapi nasibnya remaja itu di kejar-kejar pre...
