Bab 21

21.6K 1.8K 24
                                        

[Typo Bertebaran.]
.
.
.
***

Hari demi hari Al jalani. Tak terasa sudah lima hari dia berada dirumah sakit ini. Menjalani segala pengobatan dan fisioterapi yang di lakukan.
Daddy bilang dia masih sakit jadi masih harus dirawat. Memang benar sih dia sedikit merasakan sesak di dada walaupun tidak terlalu parah tapi, sedikit mengganggu aktivitasnya.

Setiap hari keluarganya itu akan selalu menjenguk dan menjaganya. Tak lupa para Om dan tantenya yang selalu mengajaknya bermain.

Untuk keadaan Papa Felix, setiap malam dia akan selalu menemuinya saat semua orang sedang tertidur lelap.
Ia pun tak tahu tapi sepertinya tidak ada yang menyadari kedatangan pemuda itu.

"Daddy__Al mau pulang Daddy." Sedari pagi Al terus saja merengek kepada sang Daddy dan yang lainnya. Sekarang ia ingin pulang, sudah bosan dia tuh dirumah sakit terus.

Sekarang diruang itu hanya terisi tiga orang yang berbeda usia. Rafa, Al, dan Omanya Chris.

"Kau belum sembuh!" Rafa hanya bisa menggeleng menolak permintaan putranya itu. Chris yang kebetulan berada di sana tersenyum hangat melihat interaksi anak dan cucunya itu.

"Sayang, Al kan masih harus dirawat. Jadi gak boleh pulang dulu." Chris berujar lembut.

"Tapi Oma, Al bosan mau pulang. Al tidak sakit lagi kok." Al menatap sang Oma memelas dengan posisi duduk bersila diatas ranjang yang ditempatinya.

Ceklek!

Suara pintu terbuka, mengalihkan perhatian ketiga orang yang ada disana.

"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Chris saat melihat keberadaan suaminya yang masih menggunakan seragam kantornya.

"Iya, hari ini tidak terlalu sibuk. Jadi, aku pulang lebih cepat." Alex berjalan menghampiri istrinya. Ia pun duduk disofa sebelah istrinya berada.

Keheningan terjadi diruangan itu sampai suara dingin dan berkarisma terdengar diruang rumah sakit itu.
"Aku ingin mengatakan sesuatu!" Alex tiba-tiba saja membuka suaranya, wajahnya cukup serius saat menatap mereka yang ada disana.

"Tapi sebelum itu aku ingin menanyakan sesuatu kepada cucuku ini." Ditatapnya Al dengan senyuman yang terpatri diwajahnya. Sedangkan Al yang di tatap hanya bisa terdiam dengan keringat dingin yang memenuhi wajahnya. Tidak biasanya sang Opa ingin bertanya kepada dirinya.

"Apa yang akan Papa tanyakan?" Tanya Rafa bingung.

Alex menatap cucunya itu tajam." Al, apakah kau ada menyembunyikan sesuatu dari kami?" Tanyanya.

Al semakin dibuat mati kutu dengan pertanyaan Opanya itu." Gue sembunyiin apa? Perasaan gak ada deh. Atau mereka tahu sesuatu tentang gue?" Pikir Al panik.

"Al sembunyiin apa Opa?" Al menatap Opanya bingung, ia sekuat tenaga mencoba menutupi kepanikannya.

"Mas, apa yang kau katakan?" Chris juga dibuat bingung oleh suaminya itu.
Bahkan Rafa juga mengerutkan keningnya tanda ia juga bingung apa yang Papanya itu katakan.

"Sebenarnya, aku sudah memasang Cctv dikamar ini selama Al dirawat, tanpa sepengetahuan kalian. Dan ternyata selama ini ada seseorang yang setiap malam melihat keadaan Al." Jelas Alex kepada mereka.

Al menatap Opanya terkejut. Oma dan Daddynya juga terkejut dengan pemberitahuan itu.

"Apakah itu orang jahat mas, kenapa kau tidak memberitahukan kami." Chris sangat khawatir terhadap cucunya itu.

"Tidak, dia bukan orang jahat. Tanyakan saja kepada Al. Beberapa hari ini mereka sepertinya selalu bertemu dan berbicara."

"Benarkan Al?" Sekali lagi Alex menatap cucunya sambil tersenyum. Tapi, Al yang melihat senyum Opanya itu merasa sedikit aneh.

"Kalau udah biasa nampilin wajah datar, aneh rasanya kalau tiba-tiba senyum gini." Pikir Al.

"Al siapa dia?" Tanya Rafa yang ingin mengetahui siapa orang yang sudah menemui putranya itu setiap malam.

"Abang Felix, Daddy." Ujar Al lirih.

"Daddy jangan marah sama Abang Felix, bang Felix gak jahat Daddy. Dia selalu menjenguk Al setiap malam." Jelas Al menatap Daddynya itu.

"Bukan kah Felix sahabatnya Rafa?" Tanya Chris saat mengetahui nama yang didengarnya itu sangat ia kenal.

"Ya, dia sahabatnya Rafa." Jawab Alex kepada istrinya itu.

"Raf!" Alex memanggil putranya itu.

"Papa sudah menyelidiki latar belakangnya, Papa tahu dia ada masalah sama keluarganya." Ungkap Alex.

"Mas ada apa ini, aku tidak mengerti?" Chris tentu saja bingung karena, ia sebenarnya tidak tahu bahwa Felixlah yang menculik cucunya. Karena Rafa dan Alex pikir, biarlah masalah ini tertutup rapat tanpa siapapun mengetahuinya, selain mereka yang memang sudah mengetahui kejadiannya. Bahkan Rafa juga sudah mengatakan kepada Al untuk tidak memberitahukan siapapun. Al tentu saja menuruti perkataan Daddynya itu.

Melihat keterbingungan istrinya itu, Alex pun segera menjelaskan tentang keadaan Felix sahabat putranya itu. Chris pun hanya bisa diam mendengarkan penjelasan suaminya. Setiap kalimat yang diucapkan Alex, sungguh menyentuh perasaan ibu dua anak itu. Bahkan Chris tak mampu menahan air matanya yang siap berjatuhan.

"Mas__hiks_bagaimana bisa mereka memperlakukan anak mereka seperti itu hiks." Ujar Chris menangis setelah mendengarkan penjelasan suaminya itu.

"Ya, dengan itu aku berencana ingin mengangkatnya menjadi anak kita, aku ingin meminta persetujuan mu." Ujar Alex mantap. Ia pun menatap istrinya.

"Kau serius mas?" Chris menatap suaminya tidak percaya.

"Ya aku serius, orang tua mereka akan segera berpisah, aku mendengar bahwa adiknya akan di adopsi oleh paman dan bibinya, Oma dan Opanya juga akan merawatnya."

"Sedangkan anak itu, tidak ada siapapun yang merawat dan menjaganya." Jelas Alex tentang keadaan pemuda itu.

"Aku selalu menerima keputusan mu, aku juga kasihan terhadap keadaannya Mas." Jawab Chris.

"Raf," Alex menatap putranya itu yang sedari tadi hanya diam."

"Apakah kau menyetujui keputusan Papa?" Tanya Alex.

Rafa menatap Papanya itu diam, tanpa niatan untuk menjawab pertanyaannya.

"Daddy!" Panggil Al yang melihat Daddynya itu tidak bereaksi sedikit pun.

"Ijinkan Abang Felix tinggal sama kita, kasihan abangnya sendirian Daddy." Pinta Al kepada Daddynya itu.

"Al, pernah ngerasain hidup sendirian, dan itu sangat tidak enak. Abang Felix pasti juga begitu." Lirih Al sedih.

Bagaimanapun Al yang lebih mengerti keadaan Papa Felix nya itu, sedari kecil hidup sendirian tanpa diperhatikan dan diberi kasih sayang oleh siapapun. Membuat hari-harinya sangat suram dan hampa. Apalagi Papanya itu yang walaupun memiliki keluarga, tapi tidak pernah dianggap, bukankah itu lebih menyakitkan.

Rafa menatap putranya yang sekarang menampilkan raut sedihnya. Ia bingung, perasaannya sangat tak karuan. Apa yang harus ia katakan, apakah ia harus menerima keputusan Papanya itu. Padahal Papanya tau orang yang ingin diangkatnya menjadi anak adalah orang yang telah menculik putranya.

"Aku terima keputusan Papa."

"Tapi, apabila dia melakukan kesalahan. Aku tak segan-segan untuk mengusirnya!" Rafa hanya bisa menerima, walaupun sedikit terpaksa.
Mungkin inilah pilihan terbaik untuk mereka.

.
.
.
.
.
~Next

ALVIN ✓ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang