[ Typo Bertebaran.]
.
.
.
***
Tiga hari terlewatkan setelah ulang tahun Al waktu itu, sekarang dihari Sabtu ini Al sedang berada dikamar Papanya, melihat sang Papa yang sangat serius mengerjakan tugas-tugas sekolah nya.
"Papa mirip banget sama Daddy," ujar Al yang sekarang duduk tepat disebelah Papanya itu.
"Hm?"
"Mirip banget, udah tau hari libur, tapi masih saja sibuk ngerjekan tugas sekolah. Kan hari libur digunakan untuk santai, tidur-tiduran, atau enggak kita jalan-jalan."
"Ini pacaran terus sama bukunya. Capek tau Al liatnya." Al terus saja menyerocos tidak jelas kepada Papanya itu.
Al tu heran sama Papa dan Daddynya, setiap libur gak pernah istirahat, selalu saja sibuk. Kalau sibuk hal yang lain gak papa tapi, yang ia lihat-lihat selalu saja sibuk dengan tugas sekolah. Begitu banyaknya kah tugas-tugas yang diberikan guru itu. Diakan ingin main sama mereka tapi gak bisa kalau sudah begini.
Felix hanya mendengar apa yang Al katakan, tanpa mengalihkan perhatiannya kepada buku tugasnya.
Al menatap buku-buku yang ada dimeja itu, diambilnya secara acak salah satu buku disana. Dan dibacanya isi didalamnya.
Ternyata yang diambilnya adalah buku latihan Papanya itu, dilihatnya nilai-nilai yang tertera dibuku itu.
Al berdecak kagum, saat melihat banyaknya angka seratus yang tertera disana. Hanya ada satu nilai yang rendah itupun sembilan puluh delapan, hanya kurang dua angka lagi akan menjadi seratus.
"Gak habis pikir, sama nilainya. Jadi gini hasil dari pacaran sama buku terus?" Heran dia tuh lihat nilainya, bahkan dikehidupan dulu ia tak pernah mendapat nilai sebagus ini. Padahal ia juga sering belajar walaupun cuman sebentar, karena kadang-kadang ia suka bosan kalau sudah berhadapan dengan buku-buku itu.
Tapi, orang yang sekarang berada disampingnya ini bukannya bosan, ia malah dengan serius belajarnya.
"Apakah kau mengerti melihatnya?" Tanya Felix melirik Al yang sudah memegang salah satu bukunya.
"Al paham, walau sedikit." Jawab Al.
Tangannya menunjuk angka-angka yang ada disana.
"Ini satu, terus ini nol. Semua angkanya sama terus." Jelasnya.
"Apakah kau tahu berhitung hm?"
"Tahu! Al tahu!" Jawab Al lagi.
"Gue malah tau semua yang tertulis di buku ini, tapi gak mungkin kan gue bilang secara terus terang."
"Benarkah?"
"Eumm, Al tahu, satu, dua, tiga......., sembilan dan sepuluh." Jawabannya menghitung angka-angkanya dengan jari-jarinya.
Felix yang mendengar itu tersenyum simpul." Pintarnya." Ujarnya memuji Al.
Al tersenyum senang.
"Dari mana Al tahu hm?"
"Al pernah lihat kakak-kakak dipanti belajarnya. Al masih ingat sampai sekarang." Jawabannya berbohong.
Felix hanya tersenyum setelah itu ia melanjutkan kembali pekerjaannya dengan serius.
Keheningan kembali terjadi, tapi hanya sesaat sampai Al membuka kembali suaranya.
"Papa! Apakah papa punya kekasih?" Entah ada angin apa, Al tiba-tiba saja mengajukan pertanyaan itu. Felix yang tadinya serius mengerjakan tugasnya langsung berhenti menatap Al dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan.
Diletakkannya pena yang dipegangnya di atas meja." Kenapa membahas hal ini? kamu masih kecil!" Tanya Felix.
"Ih_Papa mah, Al kan cuma nanya, kan tinggal dijawab!" Ujar Al kesal, sebenarnya ia cukup pernasaran apakah Papanya itu sudah memiliki pacar,karena orang yang tampan seperti Papanya tidak mungkin kan tidak memiliki satupun pacar. Jadi ia cukup pernasaran akan hal itu.
"Tidak ada!" Jawab Felix singkat.
"Hah! Papa gak punya kekasih?" Kaget Al.
"Iya," jawab Felix membenarkan.
"Gak mungkin Papa gak punya kekasih, Papa Al kan tampan tidak mungkin tidak ada yang mau?" Bingung Al yang tidak mengerti kenapa orang setampan Felix tidak memiliki pasangan.
Tanpa Al ketahui, sebenarnya Felix itu termasuk jajaran orang yang paling Tampan disekolah, bahkan Daddynya Rafa juga, dan para Omnya termasuk orang-orang yang menjadi objek kaguman para wanita disekolah. Mungkin sudah ada ratusan gadis yang mengaku kepada Papanya itu, hanya saja tidak ada satupun diantara mereka yang diterima Felix. Karena sifatnya yang dingin membuat para gadis sangat sulit menyentuh hati pemuda itu.
"Apakah Papamu ini tampan?" Tanya Felix. Al mengangguk kepala tanda membenarkan.
"Jadi beneran Papa gak punya kekasih?" Tanya Al lagi.
"Hm," hanya deheman dari Papanya yang Al dapatkan. Dirinya menatap Papanya itu shok. Ia sangat terkejut setampan ini saja masih bisa kesulitan memiliki kekasih. Apa jadinya ia nanti?
Dengan cepat Al mencoba menetralkan ekspresinya, ia pun kembali bertanya kepada Papanya itu.
"Terus, tipe kekasih idaman Papa apa?" Tanyanya pernasaran. Minimal Al harus tahu wanita seperti apa yang disukai Papanya ini.
Felix heran, kenapa anak didepannya ini sangat ingin menanyakan tentang hal seperti itu. Jadi, yang dilakukannya hanya diam tanpa ada niatan untuk menjawab.
"Papa, Al lagi nanya loh sama Papa." Jawab Al dengan wajah cemberutnya.
"Anak kecil tidak baik menanyakan hal seperti ini!" Ujar Felix dingin.
"Al tidak kecil lagi ya! Al sudah lima tahun." Jawab Al dengan julidnya, bahkan anak itu menuju kelima jarinya didepan wajah Felix.
"Baiklah, kamu sudah besar." Jawab Felix pasrah.
"Jadi Papa, seperti apa tipe Papa?" Al masih mencoba bertanya kepada Papanya itu.
"Hm__, tidak cerewet, mandiri, pemberani, bisa melakukan apapun sendiri, baik, dan bisa menerima Papa baik kekurangan maupun kelebihan Papa. Itu saja!" Jawab Felix atas pertanyaan Al.
Sedangkan Al menganga tidak percaya akan jawaban yang ia dapatkan, tipe gadis seperti apa yang diinginkan Papanya ini. Ini lebih seperti mencari asisten dari pada kekasih.
"Sudahlah jangan membahas hal ini, lebih baik kau tidur siang! Papa masih ingin mengerjakan tugas Papa." Perintah Felix. Tak mau pembahasannya semakin panjang. Bagaimanapun tak pernah sedikitpun ia kepikiran untuk memiliki kekasih sekarang.
Al menggeleng." Tidak! Al belum ngantuk, Al mau ketemu Oma dulu! Semangat Papa ngerjakan tugasnya." Al pun segera berlari pergi meninggalkan Felix dikamarnya sendirian menatap kepergiannya yang semakin hilang dibalik pintu.
*
Al segera menghampiri sang Oma yang sekarang berada ditaman belakang bersama Opanya itu.
"Oma, Opa!" Panggil Al menghampiri mereka berdua. Chris pun segera tersenyum melihat cucunya itu yang telah datang.
"Al sini!"perintah Chris menyuruh Al untuk duduk disampingnya.
Al pun segera duduk diantara mereka berdua.
"Oma, Daddy mana?" Tanya Al yang tidak mendapati keberadaan Daddynya itu, ia sudah mencari dimana-mana tapi ia tidak menemukannya.
"Daddy Al lagi ada urusan diluar, sebentar lagi juga pulang."
Al menganggukkan kepalanya tanda mengerti, setelah itu mereka bertiga pun menatap halaman taman sambil menikmati secangkir teh hijau hangat yang ada di sana. Ditemani dengan sedikit perbincangan hangat diantara mereka.
.
.
.
.
.
~Next
KAMU SEDANG MEMBACA
ALVIN ✓
Teen Fiction~ Familyship, Brothership, Bromance dan Friendship *** Kisah seorang remaja yang meninggal akibat kecelakaan dan bertransmigrasi ke tubuh seorang anak berumur empat tahun yang hidup di jalanan. Disaat meratapi nasibnya remaja itu di kejar-kejar pre...
