[Typo bertebaran.]
.
.
.
***
Rafa, Alex dan yang lainnya segera pulang setelah mendapat kabar bahwa Alvin telah hilang. Mereka dengan cepat memasuki kawasan Mansion. Saat membuka pintu, di ruang tamu Olivia, Agatha, dan Chris sudah menunggu kedatangan mereka.
"Raf!" Alex menatap anaknya.
"Ya Pa," mereka berdua pun segera pergi menuju lantai atas tapi langkah kaki mereka terhenti saat Imanuel membuka suaranya.
"Kalian mau kemana?"
"Cctv!" Jawab Alex singkat.
"Bodoh! Kenapa tidak dari tadi kau periksa?" Ujar Imanuel marah.
"Haruskah aku mengingatkan mu kak! Kita baru saja sampai!" Alex menatap kakaknya dingin.
"Apakah ini waktunya kalian bertengkar? Hah." Bentak Wilyam kepada putra-putranya itu.
Imanuel, Taksa, Alex dan Rafa pun segera pergi menuju ruang cctv.
Kenapa tidak dari tadi Olivia dan Chris yang memeriksa Cctv alasannya, tidak ada yang tau dimana tempatnya Cctv berada. Hanya Alex dan Rafa saja yang mengetahuinya, bahkan Aska saja tidak tahu ruang Cctv dimana.
Karena semua itu sudah di atur oleh Alex dan Rafa. Dan kenapa mereka tidak memberi tahu? Alasannya hanya mereka berdua yang tau.
Sedangkan Para remaja yang di bawah, sedang menghukum para Bodyguard yang tidak becus menjaga satu orang anak kecil saja.
"Bagaimana bisa, satu anak kecil saja kalian tidak becus menjaganya?"
"Tidak mungkin salah satu dari kalian tidak melihatnya!" Bentak Aska kepada para Bodyguard yang ada di sana. Sedangkan para Bodyguard itu hanya bisa menundukkan kepala mereka menerima kemarahan para tuannya.
*
Sedangkan Alvin bocah yang sekarang menjadi ke khawatiran seluruh mansion, sedang enak-enakan bermain ayunan anak-anak di salah satu taman.
Tubuhnya iya ayunkan dengan cukup kencang dengan tangan nya memegang tali dengan erat. Matanya menatap kedepan di mana banyak nya anak-anak seusianya yang bermain bersama orang tua mereka.
"Hai nak," sapa seorang pria yang tiba-tiba saja muncul di sebelah Alvin berada.
"Hai," sapa Al ramah, tapi dirinya seketika waspada saat melihat ekspresi orang tersebut yang sedikit aneh dan mencurigakan.
"Orang tuamu mana?" basa-basi orang itu kepada dirinya.
"Oke, ini pasti penculik nih." pikir Al melihat gerak-gerik orang itu.
"Itu ada di depan." Tunjuk Al asal kepada sekumpulan ibu-ibu di depan sana."
Tapi baru saja ia mengatakannya ibu-ibu itu segera pergi. Membuat pria di sebelahnya itu tertawa.
"Sia*, kenapa harus sekarang?" Al berancang-ancang akan turun dari ayunannya, dan segera berlari. Tapi belum sempat ia berlari, kerah baju nya dengan cepat di tarik, begitu juga mulutnya yang langsung di tutup dengan sapu tangan.
"Em__umm_eum." Al mencoba memberontak, tapi karena tubuhnya yang kecil, tenaganya tak sebanding dengan orang dewasa.
"Shutt__diamlah!"
"Nyesel gue kalau begini jadinya." Al hanya bisa pasrah di bawa oleh orang itu meninggalkan taman. Tidak ada siapapun yang memperhatikan dirinya, karena mereka semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Membuat penculik itu dengan bebas membawanya pergi.
Tapi, tidak hanya sampai di situ. Saat ia akan dimasukkan kedalam mobil. Seperti pahlawan yang kesiangan. Seorang pemuda menyelamatkan dirinya.
"Lepaskan anak itu." Perintah pemuda itu.
"Hhhhhh__ tidak akan, kau siapa hah?"
"Tidak usah sok jadi pahlawan." Pria itu menertawakan pemuda didepannya itu.
"Gila ni orang, ketawa gak jelas."
Bugh!
Bugh!
Pukulan dari kedua pipi orang itu membuat kedua tangan yang memegang Alvin terlepas. Untung saja tidak tinggi jadi, tidak menyebabkan luka yang serius untuk Alvin. Hanya lutut nya saja yang sedikit tergores dengan aspal. Karena celana yang ia gunakan cukup pendek.
Al segera berlari bersembunyi di belakang pemuda yang sudah menolongnya itu. Sedangkan pria yang mendapatkan pukulan segera pergi dengan mobilnya meninggalkan Al dan pemuda itu. Karena di belakang pemuda itu terdapat beberapa warga yang akan mendekat. Membuatnya harus menghentikan kegiatannya.
"Nak, apakah tidak apa-apa." Tanya beberapa warga yang mendekat. Tadi, dari jauh mereka melihat seorang anak yang di sekap seorang pria dan satu pemuda yang kelihatan ingin menolong anak itu. Membuat mereka segera berlari kesini. Tapi, orang tersebut sudah keburuan kabur.
"Gak papa,"
Para warga pun segera pergi, meninggalkan mereka berdua. Mereka tidak curiga karena mereka melihat anak kecil itu memeluk kaki pemuda itu dengan kuat. Membuat mereka mempercayakan pemuda itu.
"Terima kasih." Alvin menatap pemuda itu.
"Hm, apakah sakit?" Pemuda itu berjongkok menyesuaikan tinggi badannya dengan bocah di depannya.
"Apa?"
"Lutut mu."
"Sedikit__" Alvin melirik lututnya yang terdapat luka.
Pemuda itu yang melihat luka di lutut Al hanya bisa menahan amarahnya. Sebenarnya ia belum puas memukul pria itu tapi, pria itu sudah lari membuat nya harus menahan hasrat nya untuk memukul pria itu habis-habisan.
"Al mau pulang__hiks_mau pulang." Al merengek sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Umm__ tadi Al kabur dari rumah." jawab Al polos.
"Huff__mereka pasti mengkhawatirkan mu."
Pemuda itu pun segera mengantarkan Al pulang kerumahnya. Saat sudah sampai di depan gerbang, pemuda itu segera menghentikan motornya. Ia menurunkan Al di atas motor.
"Kok Abang bisa tau rumahnya Al?" Tanya Alvin bingung. Ia menatap mansionya.
"Masuklah!" Perintah pemuda itu tanpa menjawab pertanyaan Al.
Al pun segera menuruti, memasuki gerbang mansion setelah pengawal membukakan gerbangnya, ia segera berlari memasuki halaman Mansion. Meninggalkan pemuda itu sendirian yang sedang menatap kepergian dirinya.
"Sudah lupa ternyata." senyum smirk terlukis di wajah tampan pemuda itu, ia pun segera pergi meninggalkan kediaman keluarga Groston dengan sepeda motor sportnya.
.
.
.
.
.
~Next
KAMU SEDANG MEMBACA
ALVIN ✓
Teen Fiction~ Familyship, Brothership, Bromance dan Friendship *** Kisah seorang remaja yang meninggal akibat kecelakaan dan bertransmigrasi ke tubuh seorang anak berumur empat tahun yang hidup di jalanan. Disaat meratapi nasibnya remaja itu di kejar-kejar pre...
