S~2 Bab 30 End

18K 1K 34
                                        

[Typo Bertebaran.]
.
.
.
***


"Satu suapan lagi ya?"

"Enggak mau__hiks."

Mendengar Al yang sudah terisak, Marsel hanya bisa menghela napasnya, meletakkan semangkuk bubur diatas meja disampingnya. Ia duduk disebuah kursi yang sudah disediakan sangat dekat dengan ranjang yang ditempati oleh keponakannya itu.

Tangannya terulur mengelus rambut Al dengan lembut.

"Mau Daddy__hiks Daddy kemana?"

Air mata berlinang dikelopak mata keponakannya itu dengan isakan kecil yang keluar.

"Sebentar lagi Daddy Al akan kesini, Sabar ya__jangan nangis."

Diusapnya pipi itu dengan pelan, menghapus air mata yang telah menetes membasahinya.

Disini, diruangan ini hanya ada dirinya dan Keponakannya itu. Al ditempati sebuah tempat khusus yang ada dirumah sakit ini. Diluar sudah ada beberapa penjaga yang berjaga.

Ia tentu tahu kemana para keluarganya  pergi, terlebih lagi kakak sepupunya itu. Mereka pasti kembali membahas sesuatu yang berkaitan tentang Al, sang Keponakan. Kabar yang tadi pagi Ia dan keluarganya itu dapatkan menjadi kabar bahagia untuk semuanya saat mengetahui kesayangan mereka sudah sadar dari komanya.

"Marsel, Papa berharap kau tidak akan menceritakan semua ini kepada Al. Biarkan anak itu secara perlahan melupakannya."

Kata-kata yang diucapkan oleh sang papa waktu itu sangat Ia ingat hingga sekarang.

Waktu itu ia terbangun di tengah malam membuat dirinya segera keluar dari kamarnya. Tak sengaja Ia melihat para keluarganya sedang berkumpul membahas sesuatu. Dengan rasa pernasarannya yang tinggi Ia pun segera berjalan mendekat.

Sebuah fakta yang Ia dapatkan, ternyata alasan kedua orang itu mengambil sang keponakan adalah ingin mengambil jantungnya untuk putra mereka yang lain. Tapi, informasi yang didapatkan oleh keluarganya bahwa putra kedua orang itu atau anak yang menjadi saudara kembar keponakannya itu ternyata sudah meninggal. Hanya saja pihak rumah sakit seolah sengaja untuk menutupinya dan mengatakan segala kebohongan untuk menipu kedua orang itu untuk keuntungan mereka.

Tidakkah orang-orang itu mengerti perbuatan mereka telah mempermainkan seorang anak yang tidak bersalah. Al, Ia harus mengalami semua ini karena mereka.

Apakah Ia pernah marah kepada Keponakannya itu? Tidak sama sekali, Ia hanya kecewa dan keluarganya yang lain juga seperti itu. Tapi selama hidup bersama tak pernah sedikitpun keluarganya akan melakukan hal keji hanya untuk kepuasan pribadi.

Sang keponakan harus berjuang antara hidup dan mati disana karena Orang tua yang seharusnya tak pantas menjadi orang tuanya. Ingin sekali Ia dan para keluarganya itu membalas mereka. Tapi, sepertinya tuhan sudah membalasnya. Kecelakaan itu telah merenggut nyawa mereka berdua. Untuk sang dokter, dia telah ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Rumah sakit itu diberhentikan secara paksa oleh keluarganya.

"Kau tak seharusnya mengingat mereka lagi Al."

"Om Marsel__"

"Kenapa?"

Marsel segera sadar dari lamunannya, menatap sang keponakan dengan wajah bingungnya.

Al segera menundukkan kepalanya."Mau pipis_" cicitnya kecil.

Senyum tipis terukir pada wajah Marsel."Biar Om Marsel temani." Al yang mendengar itu segera menggelengkan kepalanya. Tangan kanannya terulur melepaskan tangan sang Om yang berada di pipinya.

ALVIN ✓ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang