[Typo Bertebaran.]
.
.
.
***
Setelah hampir tiga Minggu Al dirawat dirumah sakit, Al pun sudah diperbolehkan untuk pulang kerumahnya walaupun begitu, setiap minggunya Al harus rutin melakukan pemeriksaan untuk kesembuhannya itu.
"Al_Panggil Ayah ya, jangan Om__"
"Gak mau__Om udah keren kok namanya!"
Sekarang diruang tamu, Aska terus saja memaksa Al untuk memanggilnya Ayah. Alasannya tentu saja Aska iri kepada Felix yang dengan mudahnya Al memanggilnya Papa jadi, Aska pun juga ingin mengubah panggilannya dengan sebutan Ayah untuk dirinya.
Tapi berulang kali pun ia memaksa Al, tetap saja anak itu tidak mau, bahkan ia dengan sengaja menghindari Omnya ini.
"Ayolah Al, masa kak Felix nya Al panggil Papa, sedangkan Om enggak?" Aska menampilkan wajah memelasnya berharap keponakannya itu akan segera luluh. Tapi, yang namanya sudah keputusan Al, tetap saja ia tak akan menuruti. Ia lebih memilih memperhatikan flm kartun yang tertera di tv lebar yang ada disana.
Aska pun meluruhkan tubuhnya di atas sofa." Ya sudah kalau tidak mau! Nanti Om gak ajak Al jalan-jalan lagi nanti!" ancam Aska, tapi bukannya takut, Al menatap Omnya itu mengejek." Ya sudah Al juga gak perduli! Kan masih ada Daddy dan Papa Felix." Jelasnya.
Aska menatap keponakannya itu malas, sangat susah ya mengancam anak kecil ini pikir Aska.
Aska menatap film kartun didepannya, mencoba untuk ikut menonton. Tapi lama-kelamaan ia merasa bosan, diliriknya keponakannya itu yang sekarang menatap tv dengan serius.
"Al ganti aja ya flmnya." Pinta Aska.
"Jangan!" Al dengan cepat mengambil remote yang terletak di atas meja. Dipeluknya remote itu dan disembunyikan nya di balik baju yang dikenakannya.
"Om gak suka nonton ini, yang lain saja ya?" Aska terus berusaha membujuk Al.
"Gak mau, kan dikamar Om juga ada tv, kenapa tidak nonton disana saja!" Ucap Al kepada Omnya itu, memang benar Aska memiliki tv dikamarnya, malahan bukan kamarnya saja, disetiap kamar yang ada di mansion memiliki tv masing-masing dikamarnya. Hanya saja Al memang suka menonton diruang tamu, karena menurutnya di sini lebih seru.
"Om males kekamar, giliran dong__ Al kan sudah dari tadi nontonnya."
"Lagi pula Om lihat-lihat flm ini kan udah ditayangkan semalam." Ungkapnya, ia sangat ingat film kartun yang ditonton keponakannya itu sudah ditayangkan semalam, bahkan kalau bisa di hitung. Ini pun sudah pernah tayang di hari-hari sebelumnya.
Kenapa keponakannya itu tidak pernah bosan menonton film yang sama setiap harinya. Ia saja akan cepat bosan saat menontonnya.
"Belum ya, Al belum nonton! Ini ni episode baru, Al belum pernah nonton!" Elak Al atas ucapan Omnya itu.
Aska hanya bisa menghela nafas berat, padahal ia ingat sekali ini bukan episode baru, semalam sudah tayang, bahkan ia adalah orang yang menemani Al untuk menonton semalam. Tapi, keponakannya itu selalu saja mengatakan ini episode baru dan belum pernah nonton.
[Sabar ya Aska, aku tahu banget apa yang kamu rasakan sekarang :)]
Setelah itu Aska pun seperti memikirkan sesuatu, dengan senyum smirknya ia mengambil ponselnya yang selalu ia bawa. Membuka galeri dan memutar salah satu video yang ada disana.
"Hahahaha_" Aska tertawa terbahak-bahak melihat video yang di tonton nya.
"Pift_hahaha mirip banget sama Al." Ujarnya sambil masih tertawa keras, bahkan ia memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa tanpa henti. Al yang mendengar suara tawa Omnya itu, segera beralih menatap Omnya heran. Apalagi saat namanya di sebut membuatnya sedikit pernasaran.
"Om lihatin Apa?"tanyanya.
"Haha, ini Al. Aduh perut Om sakit ketawa terus!"
"Mirip banget sama Al, hahaha." Ujar Aska geli, Al pun mencaba mendekati Omnya itu, dengan remote yang masih berada ditangannya. Kepalanya mendongak untuk melihat video apa yang lucu. Tapi, saat ia melihat bukannya ia ikut tertawa, wajahnya langsung berubah masam.
"Ihh! Omnya nakal." Teriak Al dengan cepat ia mengarahkan tangan yang memegang remote itu memukul kepala Omnya kuat.
Dengan ekspresi kesal ia memukul berulang kali. Aska yang mendapat serangan itu tentu saja mencoba mengelak. Dengan cepat ia berdiri dan menghindar dari pukulan Al. Langsung saja Aska berlari kencang meninggalkan Al yang sangat emosi itu.
"Hahaha, maaf ya Al." Aska dengan cepat menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Melihat sipelaku sudah kabur, Al hanya bisa menahan amarahnya. Ia mengelus dadanya sabar dan mengatur nafasnya teratur. Karena terlalu kesal, dadanya jadi sedikit sesak dan ini semua ulah omnya itu.
"Awas saja, nanti gue bales tu Om-Om." Batin Al kesal.
Apa yang sudah dilihat Al yang bisa membuatnya sangat emosi dan marah? Karena, ia pikir video yang lihat Omnya itu sangat sesuai dengan apa yang ia bayangkan, saat ia melihatnya ia pikir itu benaran flm lucu. Tapi, yang ia lihat adalah video monyet yang sedang menari. Bagaimana ia tak marah saat dikatakan mirip monyet oleh Omnya itu. Ia adalah Al yang terkenal sangat tampan kenapa harus disamakan sama hewan itu, walaupun sebenarnya memang sedikit lucu tapi, tentu saja ia tak terima.
*
"Oma~" Al merengek menatap Chris yang sedang menyiapkan makanan di atas meja. Sekarang waktunya makan Malam dan semuanya sudah berkumpul dimeja makan, ada Felix juga yang berkumpul bersama mereka.
"Kenapa hm?" tanya Chris lembut.
"Oma_ Al tadi di bilang mirip sama video yang Om Aska tonton loh Oma_Al kan jadi kesel." Al menampilkan wajah cemberutnya.
Aska yang mendengar namanya disebut, dengan cepat menatap Al terkejut, kenapa keponakannya ini masih membahas masalah tadi? Ia kan hanya bercanda.
"Mati gue, bisa-bisanya gue lupa ada pawangnya." Aska melirik kakaknya yang sekarang menatapnya tajam.
"Emangnya Al mirip Apa?" Chris bertanya lagi kepada Al.
"Al mirip monyet." Jawaban langsung, mendengar itu semua yang ada dimeja makan langsung saja menatap Aska tajam.
"Gak Ma! Al salah paham."
"Al__ tadi tu bukan Video itu yang Om tonton tapi, video kucing lucu."
"Serius deh Al." Aska dengan cepat mengelak, ia pun berusaha berbohong supaya keponakannya itu percaya, juga mereka yang ada disana.
"Bohong ya, Om pasti bohong? Udah jelas kok Al lihat sendiri."
"Gak Al, videonya udah lewat pas Al lihat!" Aska mencoba meyakinkannya.
"Beneran? Terus Al mirip kucing dong?" Tanya Al kepada Omnya itu.
"Iya, Al mirip sama kucing, lucu banget." Aska tersenyum mengiyakan.
"Nah kan Oma! Al di bilang mirip kucing sama Om Askanya!"
"Al itu tampan, gak bisa disamain dengan apapun!" Al menatap Omnya mengadu.
Aska yang mendengarnya di buat terkejut lagi," salah lagi ya gue?" Batinnya lelah, ia kira setelah ia berbohong pun Al tidak akan marah.
"Iya, cucu Oma memang paling tampan. Al jangan marah, mungkin Om Askanya iri sama ketampanan Al." Chris mencoba menghibur cucunya yang kelihatan kesal itu, setelah itu ia menatap anaknya, Aska itu tajam.
Aska hanya bisa menundukkan kepalanya menghindari tatapan mereka, dengan memakan makanan yang sudah tersaji di atas meja dengan perlahan.
"Lebih baik diam aja deh, dari pada kena amukan para pawangnya." Batin Aska pasrah.
Aska memang suka mengganggu keponakannya itu, walaupun akhirnya ia akan dimarahi oleh para pawang si kecil, walaupun begitu tetap saja ia tak akan pernah jera. Seolah-olah melihat Keponakannya itu menampilkan wajah kesalnya di wajah imutnya itu sangat membuatnya senang. Tetapi, keponakannya ini sangat suka mengadukan perbuatannya. Membuatnya harus menerima akibatnya.
.
.
.
.
.
~Next
KAMU SEDANG MEMBACA
ALVIN ✓
Novela Juvenil~ Familyship, Brothership, Bromance dan Friendship *** Kisah seorang remaja yang meninggal akibat kecelakaan dan bertransmigrasi ke tubuh seorang anak berumur empat tahun yang hidup di jalanan. Disaat meratapi nasibnya remaja itu di kejar-kejar pre...
