[Typo Bertebaran.]
.
.
.
***
Semilir angin berhembus membuat rasa sejuk yang kentara, terpaan angin membawa daun-daun kering bertebaran di sebuah taman yang indah. Al, bocah itu menikmati angin yang menerpa pada wajahnya dengan memejamkan matanya, menghirup udara segar yang terasa.
Sekarang ia sedang berada disebuah taman di Mansionnya. Tenang saja, ia sudah memberi tahu sang Oma, supaya Omanya itu tidak lelah mencarinya.
Disana Al duduk sendirian dikursi taman, ditemani beberapa bodyguard yang mengawasinya dari jauh.
"Hfff_ damainya." Helaan nafas terdengar, Al membuka matanya melihat pemandangan didepannya yang tertanam banyaknya bunga-bunga yang bermekaran.
"Saking damainya gue jadi bosan dibuatnya." Ujar Al malas, inilah hari-hari yang ia jalani, saat semua orang pergi dan ia hanya tinggal dengan sang Oma, Al akan menjalani hari-hari yang damai dan membosankan. Membuatnya selalu berharap hari libur untuk segera tiba.
Ia terus saja memperhatikan keindahan taman disana, sampai sebuah gerakan dari semak-semak membuat atensinya segera terpusat disana.
Al mencoba menajamkan penglihatannya, memperhatikan apakah ada sesuatu yang ada disana.
Sampai seekor makhluk kecil keluar dari sana, membuat Al segera berbinar senang melihatnya. Kakinya langsung turun menijak rumput taman dan berlari untuk mendekati makhluk itu.
Saat sudah hampir dekat, ia mencoba memelankan langkahnya supaya tidak mengejutkan dan menakutinya.
"Mpuss....," Panggilnya pelan pada makhluk kecil itu.
"Meong.....," Suara dari makhluk itu seolah menjawab panggilan dari Al.
Makhluk kecil itu adalah seekor anak kucing hitam yang lucu.
Al sangat senang, bahkan wajah anak itu tersenyum lebar melihat kucing lucu itu.
"Mpuss, bagaimana kau bisa tersesat kesini hm?" Al berjongkok mendekati kucing kecil itu, tangannya terulur mencoba mengelus bulu-bulu lembut didepannya ini.
Tak ada perlawanan dari hewan kecil itu, membuat Al semakin mudah untuk menyentuhnya. Seakan menikmati helusan lembut dari Al, kucing kecil itu semakin mendekat kan tubuhnya.
Al langsung saja mengambil dan menggendong anak kucing itu.
"Ternyata kau sangat jinak, dimana indukmu? Kenapa kau sendirian disini?"tanya Al pada kucing itu.
"Meong..." Anak kucing itu menatap Al dengan mata bulatnya yang bersinar.
"Kasihan sekali kau pasti terpisah dari indukmu ya?" Banyak pertanyaan yang Al lontarkan dari sikucing, walaupun hanya ngeongan yang ia dapatkan dari jawaban kucing itu.
*
Al sekarang sedang berada di atas karpet berbulu diruang tamu, ia bermain dengan kucing yang tadi ia temukan tadi.
Saat dia membawa kucing ini, ia langsung menunjukkan kepada Omanya, dan mengatakan ia ingin memelihara kucing. Dengan bujuk rayu yang ia lakukan, Omanya pun hanya bisa menurutinya. Walaupun begitu sang Oma menyuruh pelayan untuk membersihkan kucing itu terlebih dahulu, biar tidak ada bakteri saat Al menyentuhnya. Bahkan Al saja baru selesai mandi karena suruhan Omanya itu.
"Mpuss... Nama apa yang cocok untuk dirimu ya?" Al mengetuk dagunya mencoba berpikir, ia menatap kucing yang sedari tadi bermain diatas karpet itu.
"Hitam?"
"Tidak_tidak, itu lebih kewarna, terus gembul? Tidak juga_" Al menggeleng-geleng kepalanya tanda tak setuju.
"Hm?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALVIN ✓
Fiksi Remaja~ Familyship, Brothership, Bromance dan Friendship *** Kisah seorang remaja yang meninggal akibat kecelakaan dan bertransmigrasi ke tubuh seorang anak berumur empat tahun yang hidup di jalanan. Disaat meratapi nasibnya remaja itu di kejar-kejar pre...
