[Typo Bertebaran.]
.
.
.
***
Hari ini, Al sedang kebingungan dan terheran-heran dengan keluarganya itu. Kenapa? Karena, sedari pagi mereka semua terus saja mengabaikannya, bagaimana ia tak bingung. Apakah Al ada berbuat salah tapi, sedari bangun pagi mereka sudah mengabaikan nya, sebelum ia sempat melakukan kenakalan seperti biasanya.
"Oma," Panggil Al berdiri menatap Omanya yang sedang sibuk di dapur. Kenapa Selama ini Omanya selalu mengurus dapur, karena untuk urusan dapur Chris sudah mengatakan kepada suaminya bahwa itu adalah urusannya, jadi soal yang berhubungan dengan makanan ada di tangan Chris. Mereka memiliki pelayan tapi, para pelayan hanya ditugaskan untuk membersihkan mansion ini, juga untuk keperluan lainnya, selain pekerjaan dapur.
"Oma!" Panggil Al lagi sedikit kencang, tapi berapa kali pun ia memanggil Omanya itu, tetap saja tidak ada sahutan dari sang Oma. Omanya hanya sibuk dengan urusannya.
Al merajuk, ia pun berjalan meninggalkan dapur dengan kakinya yang sengaja di hentakkan. Setelah itu ia menuju sang Opa yang sedang berada diruang tamu, dengan Laptop dipangkunya. Hari ini Opanya tidak kekantor.
Al berjalan perlahan, mendudukkan dirinya di samping sang Opa, kepalanya menoleh menatap wajah tampan Opanya itu.
"Opa,"
"Opa__Al sedang panggil Opa loh!"
"Opa, lihat Al!"
"OPA!" Melihat tidak ada respon sedikitpun membuat nya berteriak.
"Jangan ganggu Al!" Perintah Alex dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya itu.
Al menatap Opanya terkejut, apakah Opanya sedang mengusirnya? dengan perasaan sedih ia pergi dari hadapan sang Opa tapi, sebelum itu ia meminta maaf kepada Opanya itu. "Maaf Opa, Al sudah ganggu Opa." Lirihnya pelan.
"Mereka kenapa sih, perasaan semalam gue gak ada buat masalah tapi, kenapa mereka mengabaikan gue?" Pikir Al bingung
"Apa mereka sudah bosan ya sama gue, terus mereka akan cari pengganti baru, dan buang gue?" Pikiran Al sangat kalut sekarang, banyak pikiran negatif yang ia dapatkan sekarang saat melihat perlakuan keluarganya itu. Bahkan Papanya Felix tidak melihat dirinya dan langsung saja pergi kesekolah. Begitu juga sang Daddy yang tidak berpamitan dulu kepadanya dan langsung saja pergi kesekolah. Om dan Tantenya juga gitu. Al tidak mengerti mereka kenapa?
Al sekarang berada dikamarnya, dengan nuansa biru muda dengan lukisan awan di atas langit-langit kamarnya itu. Daddynya itu sudah membuatkan kamar khusus untuk dirinya, tapi ia jarang sekali tidur disini. Karena Daddynya itu selalu menyuruhnya untuk tidur dengannya, kadang-kadang ia akan bergantian tidur dengan yang lainnya, kadang dengan Opa-Omanya, kadang Om atau tantenya. Bahkan ia waktu itu juga pernah tidur dikamar Papanya. Membuatnya jarang sekali berada dikamarnya ini.
Tapi, sekarang ia menempati kamarnya, karena entah kenapa ia ingin disini saja, dari pada kamar Daddynya itu. Tubuhnya di rebahkan di atas kasur dan ditatapnya lah langit-langit kamarnya itu. Tanpa disadari air mata mengalir deras di kedua matanya membasahi bantal yang sedang ia pakai.
"Mereka kenapa sih? Kalau gue salah tu bilang! Jangan diam aja hiks__gue kan gak paham apa ada yang salah sama gue" bibirnya bergetar, Al mencoba mengatupkan mulutnya mencoba menahan isakan yang akan terdengar. Tapi, bukannya berhasil, itu malah membuatnya semakin sakit, dan semakin sedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALVIN ✓
Teen Fiction~ Familyship, Brothership, Bromance dan Friendship *** Kisah seorang remaja yang meninggal akibat kecelakaan dan bertransmigrasi ke tubuh seorang anak berumur empat tahun yang hidup di jalanan. Disaat meratapi nasibnya remaja itu di kejar-kejar pre...
