Leece baru saja patah hati. Dia tidak mau merasakan sedih yang berlarut, maka menyusun sebuah rencana untuk menunjukkan bahwa hidupnya lebih bahagia tanpa sang mantan dan bisa menemukan pria yang jauh lebih menawan. Bukan dengan cara menyakiti seseo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa vote dan follow akun aku ya bestie
*****
Tas tersampir di bahu, sandal berada di tangan kanan, dan lasagna yang mungkin saja sudah dingin itu ditenteng sebelah kiri. Leece memutuskan untuk kembali ke penginapan setelah awan di atas telah benar-benar gelap tak menyisakan terang sedikit pun kecuali dari bulan yang tertutup awan.
Dia ingat kalau suami pasti belum makan. Sebulan lebih hidup bersama, membuat Leece tahu kebiasaan Faydor. Jika sedang fokus bekerja, pasti akan lupa segalanya, termasuk makan. Maka, kini kaki pun menjejak di atas paving menuju penginapan.
Leece masih cukup waras untuk tidak mengakhiri hidup walau rasanya sangat menyedihkan juga menjadi orang ketiga disetiap kisah cintanya. Namun, patah hati karena cinta bukanlah alasan untuk berpikiran sempit. Jika ia mati, belum tentu juga hidup bahagia di alam sana. Bisa jadi hanya meninggalkan kesedihan untuk orang-orang yang peduli dengannya, keluarga, mertua, sahabat. Walau bibir enggan bercerita tentang kesedihan yang sedang dialami, terlalu malu, memang lebih baik pendam sendiri saja.
Sebelum masuk ke dalam, Leece memakai lagi sandalnya, menyeka jejak basah di wajah juga. Ia ganti raut menyedihkan itu menjadi senyuman. Bukan orang lain yang salah dalam kasusnya, tapi diri sendiri.
Perasaan sudah lebih tenang setelah tadi menumpahkan segala keluh kesah pada laut. Membiarkan ia dipeluk oleh udara dan deburan ombak yang terkadang menyapunya hingga batas perut.
Leece mengayunkan kaki ke dalam. Faydor belum beranjak dari tempat semula. Masih duduk di kursi dan berkutat dengan MacBook kesayangan. Hanya ada satu gelas di atas meja, tidak melihat ada bekas bungkus makan atau camilan juga. Pasti suaminya hanya minum selama ia pergi lima jam lamanya.
Tidak ada niatan untuk mengganggu. Leece meletakkan makanan yang tadi di beli ke atas meja di depan Faydor. "Makan dulu, jangan sampai sakit karena terlalu fokus kerja dan lupa memberi asupan pada tubuh," ucapnya. Suara terdengar lesu, tidak seperti biasanya. Setelah itu dia berlalu menuju kamar.
Faydor merasakan ada keanehan. Memalingkan sejenak pandangan mata, menatap tubuh seksi yang mulai menjauh. Biasanya Leece selalu berbicara dengan berapi-api, semangat. Tapi, kini seperti orang kehilangan minat. Lalu, ia menangkap sesuatu yang berbeda. Istrinya berangkat dengan pakaian kering, pulang-pulang sudah basah.
"Ada yang mengganggumu saat di luar?" tanya Faydor. Bisa jadi disiram orang lain. Sebab, Leece pulang dalam kondisi wajah tidak berbinar. Wanita yang ia anggap seperti adik itu bagai kehilangan sinar yang biasa begitu terang.
Baru sampai ambang pintu, Leece menjawab dengan gelengan. "Aku main di pantai," beri tahunya. Lalu ia hilang ditelan pintu.
Penginapan yang ditempati oleh Leece dan Faydor itu merupakan president room. Ada ruang makan, dapur, kulkas, sofa, dan kamar untuk tidur pun memiliki sekat pintu sendiri.