“Jangan takut, aku ada di setiap langkahmu.”
🥀
Aldo memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah SMA Negeri 1 Cendrawana, tempat dimana adiknya menuntut ilmu. Sejujurnya ia sangat malas saat Devano memintanya untuk datang kesini tanpa memberitahu keperluannya terlebih dahulu.
Aldo menatap bangunan yang ada di depannya, lalu menghela napas pelan, ia harus mencari ruangan Devano sekarang.
Untung saja pria dingin itu sudah memberitahu dimana letak ruangannya sehingga ia tidak perlu pusing mencari kesana kemari.
“Kalo bukan karena bawa-bawa nama Acha males banget gue kesini,”
Aldo mendengus. “Dasar nyusahin.”
***
Aldo menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih yang diatasnya bertuliskan "Ruang Ketua OSIS".
Aldo memandang pintu itu dengan seksama. “Jadi ini ruangannya?” gumam Aldo. “Keren juga,”
Aldo menghela napasnya. Entah mengapa hatinya mendadak gelisah, perasaannya tidak enak. Sebenarnya kenapa?
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Aldo langsung nyelonong masuk begitu saja membuat dua orang yang tengah bersandar di sofa terkejut karenanya.
“ACHA!”
Aldo juga sama terkejutnya dengan mereka. Aldo kaget bukan main saat melihat wajah adiknya yang tampak babak belur.
Aldo menepis tangan Devano dengan kasar. “Lo apain adik gue bangsat?!” marah Aldo, lalu mencengkram kerah seragam sekolah Devano.
Devano hanya diam saja saat Aldo menatapnya dengan tajam. Mau membela diri pun tidak bisa, ini semua memang salahnya. Ini semua terjadi karena kelalaian-nya.
“Abang udah, ini semua bukan salah Kak Devano,” lirih Caca, menahan tangan Aldo yang sedang mencengkram kuat kerah seragam Devano.
Aldo menolah kearah Caca. Melihat adiknya yang menatapnya dengan lembut membuat Aldo melunak. Ia melepaskan cengkramannya, hingga membuat Devano menghela napas lega.
“Hei, kenapa jadi kayak gini hm?” tanya Aldo menatap Caca sedih.
Melihat adiknya seperti ini benar-benar membuat Aldo marah. Dari dulu hingga sekarang Aldo selalu menjaga Caca dengan hati-hati agar gadis itu tak terluka. Lalu sekarang siapa yang sudah dengan tega melakukan ini kepada adiknya?
Aldo benar-benar merasa gagal. Ia merasa tidak becus menjadi seorang Kakak.
Ditanya seperti itu oleh Aldo membuat Caca menangis. Ia menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan Aldo, memeluk Abangnya dengan erat dan menangis sejadi-jadinya disana.
Aldo dengan sabar mengelus kepala Caca yang sedang bersandar di dada bidangnya. Hatinya terasa teriris saat mendengar isak tangis adiknya. Ia tidak berbicara apapun, ia menungu Caca sampai gadis itu merasa lebih tenang.
Devano yang melihat gadisnya menangis pun ikut merasa sedih. Hatinya begitu sesak.
Devano berjanji, ia tidak akan membiarkan orang yang sudah menyakiti gadisnya hidup dengan tenang. Devano akan membalas semuanya, lihat saja.
“Al, lo harus keruang kepala sekolah. Ada Papa gue juga disana yang bakal jadi walinya Acha,” ucap Devano saat membaca pesan dari Sandi—Papanya yang meminta agar Aldo segera keruang kepala sekolah. “Lo harus tegas, supaya Acha dapat keadilan.” sambungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
NATASYA
أدب المراهقين[REVISI SETELAH TAMAT] Bagaimana halnya, bila seseorang yang telah hadir lebih dulu itu kini datang kembali setelah pergi meninggalkan selama bertahun-tahun? Ini kisah tentang seorang gadis bernama Natasya Artalyta Syafira. Seorang gadis dengan par...
