"Tharn!"
Gulf terkejut tentu saja, bagaimana bisa tiba-tiba Tharn ada di hadapannya, bukankah tadi Mild yang ada di hadapannya lalu kemana perginya dia.
"Ini kopi mu, apa makanannya se'enak itu? hingga kau makan sampai berantakan seperti ini?"
Tharn membersihkan bibir Gulf yang terdapat nasi, jantung Gulf rasanya sangat berdebar saat wajah mereka saling bertatapan, bahkan hembusan nafas Tharn menyapu wajahnya membuat Gulf memejamkan matanya.
"Jika kau suka dengan masakanku, besok aku akan membawanya lagi untukmu,"
"Emmhh!"
Gulf rasanya sangat malu karena ia baru sadar jika ia memejamkan mata sejak tadi, bahkan kini wajah Gulf terlihat sedikit memerah.
"Apa kau sakit? setelah makan bekal milikku?"
"Ti-tidak!"
"Lalu! Kenapa wajahmu terlihat memerah seperti itu?"
Gulf harus mencari alasan agar ia tidak terjebak di hadapan Tharn.
"Maaf Tharn, aku ingin ke toilet sebentar,"
Gulf ingin berdiri dari duduknya namun alangkah sialnya ia kehilangan keseimbangan dan berakhir dalam pelukan hangat Tharn, lagi-lagi mereka saling pandang menyelami mata masing-masing, jantung Gulf berdebar lebih kencang begitu juga dengan Trhan, hinga pada akhirnya suara Mild menyadarkan mereka berdua.
"Gulf!"
Mild terdiam saat melihat adegan di depannya itu, lalu ia pun berpamitan lagi karena tidak ingin menganggu mereka berdua.
"Awww..maaf aku datang pada waktu yang tidak tepat,"
"Maafkan aku Kana, karena sudah lancang padamu,"
"Harusnya aku berterima kasih, karena kau aku tidak jatuh,"
"Baiklah aku permisi dulu, ada pekerjaan yang harus aku bereskan."
Tharn pergi dari hadapan Gulf ia harus membantu Mild memasukan barang ke dalam mobil pelanggan, sedangkan Gulf tidak lepas melihat Tharn dari belakang Gulf akui Tharn laki-laki yang banyak orang dambakan, Tharn baik dan juga sangat tampan jika Gulf harus hidup sederhana bersama Tharn ia akan rela, namun apakah Tharn mau hidup dengannya.
Setelah selesai dengan pekerjaannya Tharn izin pada Gulf untuk keluar sebentar, karena tadi ada seseorang yang menghubunginya meminta untuk bertemu dengannya.
"Tapi kau harus kembali tepat waktu,"
"Aku janji, akan kembali dengan cepat,"
"Jika kau mengingkari janjimu, akan aku potong gajimu,"
"Siap bos, jadi aku boleh pergi?"
"Pergilah!"
"Terima kasih,"
Setelah berpamitan Tharn pun segera pergi untuk menemui sahabatnya, dan tentu saja ia akan kembali tepat waktu.
Setelah Tharn pergi ponsel Gulf berdering dan ternyata Zee yang menghubungi nya.
"Halo Phi, ada apa?"
"Tidak ada, hanya ingin mengajakmu berbincang di kafe langganan, kau sibuk tidak?"
"Tidak, tumben Ada apa?"
"Aku ingin bicara tentang Tharn,"
"Bicara tentang Tharn?"
"Iya, aku akan menjemput mu, tungu sepuluh menit aku sampai,"
Pangilan berakhir, dan Gulf pun bersiap untuk menungu Zee menjemputnya namun sebelum itu ia harus berpamitan pada Mild.
"Mild, kau tidak apa-apa kan aku tingal?"
"Tidak, kau tenang saja,"
Tin...Tin..
"Itu pasti Phi Zee, aku pergi dulu,"
"Hati-hati Gulf,"
Gulf menghampiri Zee yang sudah menunggunya di depan butik, dan setelah itu mereka pun berangkat tidak butuh waktu berjam-jam kini mereka sudah sampai dan tidak sengaja Gulf melihat motor milik Tharn, Gulf menjadi sangat penasaran apa yang di lakukan Tharn di kafe ini.
"Ayo Phi kita masuk,"
Gulf masuk lebih dulu dan menelisik setiap sudut, dan pada akhirnya Gulf menemukan Tharn dengan seorang wanita cantik, mereka terlihat begitu akrab sesekali mereka tertawa entah apa yang mereka bicarakan, dan membuat Gulf kesal.
"Gulf, kau kenapa?"
"Aku tidak apa-apa Phi, ayo kita duduk di sebelah sana saja,"
Gulf mencari tempat duduk yang strategis agar ia bisa dengan leluasa melihat Trhan dengan wanita itu, namun tanpa Gulf sadari Tharn juga melihatnya dengan Zee.
"Apa yang ingin Phi bicarakan?"
"Aku ingin bicara tentang Tharn, bahwa Ayah mu sudah menyetujui jika Tharn menjadi supir dan sekaligus bodyguard untukmu,"
"Benarkah? Lalu bagaimana? Kapan aku bisa membawa Tharn ke rumah?"
"Kau bisa membawanya besok malam, karena Ayah mu hari ini harus keluar kota dan besok sore baru kembali,"
"Berarti besok hari terakhir dia bekerja bersamaku di butik?"
"Itu terserah kau saja, jika masih di butuhkan tidak apa-apa, namun sepertinya dia juga harus ikut Ayah mu jika Ayah mu keluar kota,"
"Kenapa harus dia, bukankah ada Phi Luke yang biasa menemani Ayah?"
"Tidak setiap hari juga Luke bisa menemani Ayah mu, ada saatnya juga dia memiliki tugas lain seperti aku,"
"Aku tidak mengerti, kenapa Ayah punya musuh, bahkan akhir-akhir ini tidak ada waktu untukku,"
"Mengertilah, Ayah mu seperti ini demi kau,"
"Untuk apa Phi? Banyak uang tapi hidup pun tidak bahagia?"
Zee sangat mengerti apa yang di rasakan Gulf, ia pasti sangat kesepian semenjak Bunda nya meninggal Gulf seperti kurang kasih sayang dari Paman nya karena Paman nya terlalu sibuk dengan bisnisnya.
"Jangan pikirkan yang tidak-tidak, kau bisa mencari kebahagiaan mu sendiri,"
Gulf tidak lepas melihat ke arah Tharn yang memang ada tepat di belakang Zee, sedangkan Tharn posisinya pun menghadap kearah Gulf dan entah mengapa Tharn melihat ada rasa kecewa di wajah Gulf namun entah karena apa.
"Phi aku ingin kembali ke butik, aku sudah terlalu lama meningalkan Mild seorang diri, takut Mild repot,"
"Bukankah ada Tharn?"
"Dia sedang keluar,"
"Keluar? Baiklah kita kembali, aku juga harus menemui klien Ayah mu di kantor,"
Saat Gulf ingin berdiri ia melihat wanita itu mencium Tharn dan membuat Gulf benar-benar merasa kesal, dan pada akhirnya Gulf meninggalkan kafe itu dengan perasaan kecewa.
"Amanda, apa yang kau lakukan?"
Tentu saja Tharn pun terkejut saat tiba-tiba Amanda menciumnya.
"Tharn, aku mencintaimu,"
"Kau gila? Aku hanya menganggapmu teman tidak lebih,"
"Tapi aku mencintaimu Tharn,"
"Aku katakan sekali lagi, jika aku hanya menganggapmu sebagai teman tidak lebih, dan jika kau masih ingin berteman denganku jangan pernah lakukan ini lagi padaku,"
"Tharn kau mau kemana? Tharn jangan pergi aku mohon,"
Tharnn tidak perduli ia tetap melangkah pergi meninggalkan Amanda seorang diri, entah mengapa pikirannya kini hanya pada Gulf, Tharn merasa jika Gulf kecewa dengannya, Tharn sangat yakin jika Gulf melihat kejadian itu lalu apa yang harus ia lakukan, tentu saja kembali ke butik karena ia harus kembali bekerja lagi.
Bersambung..
❤️❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Beda Kasta (END)
Fiksi UmumSebuah kasta harus menjadi penghalang mereka Lalu apa yang akan terjadi? Mereka akan hidup bersama atau akan tetap terpisah dengan keadaan?
