Di sini terasa panas. Ada banyak suara orang-orang yang kepanikan, dan banyak darah yang berlumuran. Hah... , mimpi ini lagi. Rania melihat kejadian yang sama seperti kejadian 10 tahun lalu.
"Maafin aku ayah, bunda, Ira." Ucap Rania.
Aroma ini. Ruangan ini. Fix, Rania sedang berada di rumah sakit.
Tiba-tiba, ada seseorang yang membuka pintu dengan kasar. Sepasang suami istri itu berjalan menghampiri Rania dengan wajah khawatir.
"Rania! Kamu ini udah dikasih tau tinggal di rumah tante aja kok ngeyel banget! Jadi gini kan! Nanti kalo kamu kenapa napa adekmu gimana. Dia cuma punya kamu sekarang Rania!." Bentak tante Rania meledak ledak.
"Udah ih. Dia juga baru siuman, kasian yang." Ujar suaminya menenangkannya.
"Maaf om, tan."
Tante Rania menghela napas, lalu memeluk ponakannya dengan erat. Baju Rania terasa basah. Pasti karena air matanya.
"Aku sayang kamu."
Hening.
Rania yakin cowok yang membantunya hari itu bernama Haidar yang membantunya kabur dari berandalan di hari yang sama saat kejadian itu. Dan ia juga yakin jika Haidar satu sekolah dengannya. Jika bukan karena dia, tidak mungkin Rania masih hidup hingga saat ini. Dokter mengatakan, jika saja Rania terlambat dibawa ke rumah sakit, bisa jadi keadaannya lebih kritis. Kemungkinan terbesarnya adalah mati. Ranua harap kita dapat bertemu kembali. Tapi, ada satu pertanyaan dari Ranua soal Haidar. Kok dia bisa tau nama gue?~ batin Rania.
Hening.
Lagi.
Di tengah keheningan itu, terdengar suara pintu rumah sakit terbuka yang memecah keheningan.
"Yo."
Rania hanya sekedar menoleh ke arah laki-laki itu dan menatap tantenya lagi.
"Gile lo! Gue dateng ke sini khawatir tapi malah lo cuekin." Omel cowok itu.
Tante dan om Rania saling menatap.
"Ya udah kalo gitu kita pulang dulu. Assalamualaikum." Kata tante Rania.
"Waalaikumsalam." Jawab Rania dan laki-laki itu serempak.
Setelah mengucap salam, mereka langsung pergi meninggalkan kamar. Hanya tersisa Rania dan cowok itu di dalam kamar.
"Udah gue bilang kan, jangan pergi sendiri, sama gue aja." Kata laki-laki itu.
Rania hanya menoleh dan menatap ke arahnya sekilas sambil tersenyum tipis yang entah apa ia dapat melihatnya atau tidak.
Laki-laki itu mendesah pelan."Kakak kepikiran itu lagi?"
Rania hanya terdiam sambil menatap jendela. Rasanya ingin sekali ia menangis sekencang kencangnya. Untuk menyesali apa yang sudah dilakukan selama ini. Seandainya, ia tidak pernah ada dalam situasi itu, keluarganya sekarang pasti tengah bahagia. Adiknya pun akan merasakan kehangatan pelukan seorang ayah dan ibu.
♠︎♠︎♠︎
Di sisi lain, di sebuah kamar yang berwarna dominan hitam dan abu-abu dengan jendela kamar yang terbuka hingga angin malam dapat memasuki kamar dengan bebas, ada seorang laki-laki yang tengah duduk di pinggir ranjangnya. Ia menikmati tiap hembusan angin yang menerpa wajah dan tubuhnya. Ia terduduk sambil menatap ke sebuah pigura. Terdapat foto seorang wanita cantik yang sangat ia sayangi di dalam foto itu. Ia trersenyum dan meneteskan air matanya saat menatap foto wanita itu.
"Sebesar apapun kecewaku, rasa cintaku lebih besar. Aku benci, aku benci diriku yang tidak bisa berhenti mencintaimu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gimana, kalian penasaran ga nieh?
Kalo penasaran, aku bakalan lanjut, kalo ga penasaran, ya tetep lanjut.😆
Btw, kalian suka tipe cerita jni ga?
Kalian boleh banget kasih komentar, kritik, atau saran kalian supaya cerita aku kedepannya bisa lebih bagus lagi.
Jangan lupa masukin ke reading list,
share, dan vote terus ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST END (REPUBLISH)
Romansa13+ Rania Adiningrum, seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang memiliki kehidupan tidak seperti remaja pada umumnya. Ia tidak pernah pergi ke mall bersama teman, ke tempat disco, ataupun bermain dan bersendagurau dengan sahabat. Semua itu terjadi...
