"Haidar, ayo belajar bareng!" Ajak Rania pada Haidar.
"Iya, sayang."
Setelah itu, mereka duduk lesehan di depan ranjang mereka. Ada beberapa buku dan lembar kerja yang berserakan di hadapan mereka.
Rania dan Haidar belajar dengan santai. Terkadang, Haidar mengeluarkan perkataan random, gombalan, dan godaan recehnya pada sang istri hingga Rania terkekeh. Tak hanya dibuat senang dengan perkataan sang suami, Rania juga dibuat kagum oleh kecerdasan sang suami dalam mengerjakan tugas-tugas selama belajar bersama.
"Kok kamu bisa gampang banget ngerjainnya?" Tanya Rania.
"Aku dengerin guru kalo di kelas." Jawab Haidar.
"Aku ma juga gitu!"
Haidar terkekeh.
"Aku dikasih cara cepatnya sama si anak holang haya itu!"
"Angga?" Tanya Rania.
"Iya."
"Ouwh... dia pinter ya?" Tanya Rania.
Haidar hanya tersenyum sambil memandangi Rania yang saat ini sedang melanjutkan mengerjakan soal-soal latihan sambil duduk di sampingnya.
"Sayang, aku mau cerita." Ucap Haidar.
"Hm." Jawab Rania.
Haidar membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha Rania sebagai bantalnya. Rania yang terkejut dengan aksi sang suami, langsung menghentikan aktivitas belajarnya.
"Cerita apa?" Tanya Rania. Ia merasa, sepertinya, Haidar ingin membicarakan hal yang serius.
"Aku mau cerita soal bunda."
Rania terdiam, ia menunggu suaminya untuk bercerita.
"Jadi..."
Dulu, Haidar hidup bahagia dengan keluarganya. Hingga suatu saat, perusahaan milik ayahnya bangkrut karena skandal yang lumayan rumit.
Ayahnya adalah seorang pemilik agensi hiburan. Ia memiliki banyak artis yang ada di agensinya. Namun, banyak orang yang menyebarkan kabar bahwa perusahaan milik ayah Haidar itu memperlakukan artis mereka semena-mena. Ada yang mengatakan memperbudak, melakukan kekerasan, pelecehan, bahkan soal pencurian lagu.
Bahkan saat itu, entah kenapa ada beberapa artis yang merasa memang diperlakukan seperti itu.
Karena banyaknya tuntutan dari berbagai pihak, ayah Haidar kalah dan mengalami kerugian besar. Ia pun jatuh sakit karena selalu memikirkan kerugiannya. Bisa dikatakan, saat itu adalah titik terendah ayah Haidar.
Dan hal yang paling menyakitkan adalah, ketika bunda meninggalkan mereka pergi dengan laki-laki lain. Saat itu, bunda benar-benar pergi tanpa ada raut kesedihan sedikit pun pada wajahnya.
Ia meninggalkan Haidar saat anak lelaki itu hendak tidur. Haidar kecil berada di atas kasur dengan bunda yang ada di sisinya untuk menidurkan, dan sisi lainnya ada sang ayah yang terbaring sakit.
"Haidar, jaga ayah ya! Bunda sayang sama kamu!" Ucap bunda.
Saat itu, Haidar sudah sangat mengantuk. Ia hanya bisa melihat kepergiaan sang bunda dari sisinya dengan baterai pengelihatan yang hanya tersisa 2%.
Setelah kejadian itu, bunda tidak pernah pulang. Ia terus mengirim uang. Tapi tak lama saat itu, karena kesedihannya atas kebangkrutan perusahaan, penyakit, dan kepergian sang istri, ayah Haidar menjadi stress. Haidar menemukannya sudah tak bernyawa di dalam kamar.
Di situ lah, ummi dan abi hadir. Mereka merawat Haidar sejak bertemu di pemakaman ayah. Mereka adalah sahabat dekat ayah Haidar. Mereka juga mengenal bunda. Mereka tahu, hal berat apa saja yang sudah dilalui oleh ayah Haidar.
"Kamu ngga pa pa?" Tanya Rania pada Haidar.
"Dulu sih apa-apa, tapi sekarang, udah biasa aja."
"Aku ngga kebayang, gimana Haidar kecil dulu bisa bertahan tanpa ayah dan bunda di sampingnya. Kamu pasti kesepian!" Ucap Rania lembut.
Haidar tersenyum menatap ke atas, yaitu ke arah wajah sang istri sambil mengelus pipi chuby Rania.
"Kesepian itu pasti, untuk seorang anak yang masih berusia 7 tahun tanpa kedua orang tua di sampingnya." Jawab Haidar.
"Terkadang, aku juga kangen pelukan ayah dan bunda." Lanjut Haidar.
Rania merentangkan tangannya ke arah Haidar. Laki-laki itu langsung bangun dari posisi rebahannya menatap sang istri heran.
Tanpa ba-bi-bu, Rania langsung membawa Haidar ke dalam pelukannya. Haidar yang merasakan pelukan sang istri pun langsung tersenyum. Ia membalas pelukan Rania sambil meneteskan air mata.
"Kamu hebat, udah melalui ini semua. Kamu kuat. Kalau kamu ngerasa udah ngga kuat, menangis lah. Lepaskan sejenak beban yang ada di bahumu. Kamu berhak untuk istirahat." Ucap Rania sambil menepuk bahu suaminya yang bergetar.
Baru kali ini, Haidar menangis di hadapan orang lain. Biasanya ia akan menahan tangisan itu, hingga ada waktu untuk sendiri, baru ia meluapkan tangisannya.
Saat Haidar sudah merasa sedikit tenang, ia melonggarkan pelukannya dari Rania. Ia menjauhkan tubuhnya, lalu menghapus sisa-sisa air mata yang masih mengalir di pipinya
.
"Kamu... udah nemu jawaban kenapa bunda pergi saat itu?" Tanya Rania kepo dengan nada bicara yang berhati-hati.
"Belum, aku akan menunggu, sampai bunda siap cerita semuanya." Ucap Haidar.
Rania tersenyum tipis sambil mengelus kepala Haidar.
"Aku.. juga mau cerita. Soal kejadian 10 tahun lalu."
10 tahun lalu, adalah tahun yang paling menyedihkan bagi Rania. Di tahun itu, ia kehilangan kedua orang tuanya, juga salah satu adiknya. Dan... dia jugalah yang menjadi saksi atas kematian ketiga orang yang ia cintai.
Kejadian pertama, terjadi kerika awal tahun. Saat itu, rumah Rania terbakar. Ibu berusaha menyelamatkan Rania. Ia menyuruh Rania untuk terus jalan di depannya ke arah luar.
Namun, saat Rania sudah sampai ke luar rumah, ibu masih terjebak di dalam. Ia tertinggal karena terkena reruntuhan bangunan yang jatuh ke arahnya. Ayah Rania segera menarik Rania untuk menjauh dari rumah. Tepat setelah itu, api di rumah Rania semakin besar dan terdengar suara ledakan.
Rania berteriak histeris meneriaki sang ibu. Ia sangat ketakutan. Ayah Rania yang juga merasa kehilangan sang istri itu tetap bersikap tenang. Ia tak ingin membuat anaknya semakin panik dan sedih. Setelah kejadian itu, Rania masih bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa walau perlu waktu untuk memulihkan mentalnya lagi.
Pada pertengahan tahun, saat Rania bersama adik dan ayahnya berjalan-jalan menikmati hari libur mereka, terjadi sebuah insiden yang membuat ayahnya meninggal.
Saat Rania hendak menyebrangi jalan besar untuk membeli jajan, ada sebuah truk pengangkut barang yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
Melihat hal itu, ayah Rania mendorong tubuh putrinya. Tepat setelah itu, tubuh ayah Rania langsung tertabrak oleh truk hingga darahnya menyiprat ke jalanan.
Tubuh Rania gemetar saat itu. Ia bersyukur, kedua adiknya tidak melihat kejadian menyeramkan saat itu. Mereka sedang duduk di taman sambil bermain dengan teman-teman baru mereka.
Setelah kejadian itu, Rania jadi sedikit murung. Ia mulai menutup diri dan jarang bergaul.
Dan kejadian yang paling membuat Rania ketakutan adalah, saat kematian sang adik. Entah bagaimana, saat itu, adiknya menghilang saat ia ajak jalan-jalan berdua. Girl's time katanya.
Adiknya benar-benar menghilang. Saat adiknya ditemukan, ia sudah tidak bernyawa. Menurut autopsi dari pihak yang menangani kasus itu, adik Rania saat itu dipukul menggunakan benda tumpul, hingga tulang kepalanya retak dan mengeluarkan banyak darah. Karena kejadian itu ada di tempat terpencil yang jarang orang lalui, tidak ada saksi mata. CCTV pun tak ada.
Akhirnya, kasus ini tidak dilanjutkan.
Mulai dari kejadian kedua dan ketiga, Rania tidak pernah menangis saat ayah dan adiknya meninggal. Ia hanya bisa terdiam mematung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan saat itu, Ari sempat ketakutan dengan perubahan sikap sang kakak.
"Kakak kenapa? Ada setannya ya? Kenapa kakak serem kayak patung? Aku takut kak!" Rengek Ari sambil menangis dan menggoyangkan tubuh Rania. Rania hanya terdiam, menatap datar melihat kelakuan adiknya itu.
Saat itu, Rania juga kehilangan nafsu makannya. Tante Wulan dan om Radit sudah membujuknya dengan berbagai cara agar ia mau makan, bisa tertawa, bergaul, dan bermain dengan teman-teman sebayanya seperti dulu lagi.
Tapi, hati Rania sudah benar-benar tertutup rapat. Ia tak mau lagi, ada seseorang yang memasuki dunianya, lalu mereka mulai mencintai dan menyayangi, dan pada akhirnya kisah mereka harus berakhir dengan menyedihkan seperti kejadian yang telah ia alami sebelumnya.
"Sayang, derajatmu akan diangkat oleh Allah." Ucap Haidar lembut.
"Dia memilih kamu, karena tahu kamu kuat. Dia memilih kamu, karena Dia sayang kamu, Dia mau mengangkat derajat kamu. Dia memilih kamu, karena Dia ingin tahu, seberapa besar cintamu kepada-Nya. Dia memilih kamu, karena ingin tahu, seberapa sabar kamu dalam menerima ketetapan-Nya." Ucap Haidar sambil mengelus pipi Rania.
"Kalau aku kuat, kenapa rasanya sakit banget?" Tanya Rania.
"Sakit itu wajar, tapi bisabertahan hingga akhir itu luar biasa. Kamu sudah melakukan yang terbaik, Nia."
Setelah itu, Rania teringat kembali semua rentetan kejadian itu. Ia meneteskan air mata dengan tubuh yang sedikit berkeringat dan bergetar. Haidar menenangkannya dengan pelukan, dan sesekali mencium pucuk kepala Rania.
Haidar membuka suaranya.
"Masa lalu itu, biar lah dia menjadi kenangan yang terus bersemayam di memorimu. Dia akan menjadi sebuah kenangan yang membekas menyeramkan sekaligus menyedihkan tak akan pernah terlupakan. Cukup lah dikenang, jangan biarkan ia menghantuimu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Finally, masa lalj mereka terungkap?
Kira-kira, hubungan mereka setelah ini bakalan kayak gimana ya?
Kalo penasaran sama kelanjutan cerita ini, aku bakalan lanjut, kalo ga penasaran, ya tetep lanjut.😆
Btw, kalian suka tipe cerita ini ga?
Kalian boleh banget kasih komentar, kritik, atau saran kalian supaya cerita aku kedepannya bisa lebih bagus lagi.
Jangan lupa masukin ke reading list,
share, dan vote terus ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST END (REPUBLISH)
Romance13+ Rania Adiningrum, seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang memiliki kehidupan tidak seperti remaja pada umumnya. Ia tidak pernah pergi ke mall bersama teman, ke tempat disco, ataupun bermain dan bersendagurau dengan sahabat. Semua itu terjadi...
