23. What's Wrong?

290 7 0
                                        

Tak lama, adzan maghrib berkumandang, Rania dan Haidar segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Ini adalah sholat berjamaah pertama mereka. Karena, hari-hari sebelumnya kalau mereka tidak berjamaah dengan keluarga Haidar, Haidar akan pergi ke masjid.

Selepas sholat, dzikir, dan berdoa, Haidar membalikkan tubuhnya ke hadapan istrinya. Rania langsung mencium tangan Haidar yang dibalas dengan ciuman di kening oleh Haidar. Tak hanya itu, setelah mencium kening Rania, Haidar kembali mencium tangan Rania secara bolak-balik sebanyak tiga kali. Tentu Rania langsung menarik tangannya.

“Aku ngga suka.” Ucap Rania.

“Ngga suka apa?” Tanya Haidar bingung.

“Kamu cium tangan aku.”

“Tapi aku suka banget. Gimana dong?” goda Haidar.

Rania yang jengkel dengan Haidar itu langsung membuang mukanya ke arah lain. Haidar sangat gemas melihat tingkah istrinya. Ia mencubit pipi chuby Rania, lalu mencium kening Rania sambil terkekeh. Setelah itu, ia beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil mushaf yang ada di atas meja belajar Rania.

“Aku mau denger kamu murojaah, boleh?” Rania mengangguk.

“Bacain aku surat Al-Mulk ya!” pinta Haidar.

Rania langsung membacakan surat Al-Mulk kepada Haidar. Ia melantunkannya dengan suara yang amat merdu, hingga orang-orang yang mendengarnya pun akan terhanyut oleh merdunya suara Rania.

Haidar mendengarkan bacaan Rania itu sambil menatapnya dan tersenyum. Ia sangat bahagia, akhirnya gadis yang selama ini ia tunggu dengan cara menghindar, gadis yang selama ini ia sukai dalam diam, dititipka oleh Allah kepadanya. Haidar merasa sangat beruntung karena ada Rania di sisinya. Hari-harinya saat ini, menjadi lebih berwarna dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Rania sudah menyelesaikan bacaannya. Haidar langsung menaruh mushaf di atas nakas dan membaringkan tubuhnya. Ia menjadikan paha Rania sebagai bantal kepalanya. Baru saja ia menyamankan posisinya, suara adzan isya langsung berkumandang. Rania yang mendengar suara adzan berkumandang langsung menepukkan kedua tangannya di hadapan wajah Haidar.

“Isya!”

“Yah, yang! Baru juga naruh kepala, PW nih!” rengek Haidar.

“Bodo, ke masjid sono!”

Haidar mendecak kesal dan bangun dari posisinya. Rania yang mendengar decakan Haidar pun, melirik tajam ke arah suaminya. Haidar yang mendapatkan lirikan tajam itu langsung pergi menuju ke masjid sesuai perintah sang istri.

Selepas pulang dari masjid, Haidar pergi ke kamar Rania dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rania melipat mukena dan sajadahnya selepas sholat isya. Ia berjalan ke arah pintu hendak pergi ke ruang tamu.

"Sayang, mau ke mana?" Tanya Haidar.

"Ruang tamu."

"Mau ngapain?"

"Tidur."

Haidar bangun dari posisi rebahannya dan langsung menghampiri istrinya yang masih berdiri di depan pintu kamar.

"Aku ada salah sama kamu? Kenapa kamu ngga mau tidur sama aku?" Tanya Haidar panik sekaligus khawatir.

"Ngga."

"Trus kenapa?"

"Tangan kamu masih luka. Nanti kalo tidur sama aku terus kesenggol jahitannya kebuka, gimana?"

"Ngga, sayang. Masa gitu aja kebuka."

"Shut, tidur sana!"

Rania keluar dari kamar, menutup pintu, lalu menguncinya dari luar. Haidar yang dikunci di dalam pun menggedor-gedor pintu sekuat tenaga dengan tangannya yang tidak luka sambil meneriaki istrinya.

MUST END (REPUBLISH)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang