31. Sekelompok?

180 5 0
                                        

Pagi ini, di gerbang saat hendak masuk sekolah, Rania mendengar suara motor Haidar. Ya, suaminya itu menaiki motornya di sampingnya.

"Ya, ikut aku ke parkiran!" Titahnya sambil melaju.

Rania hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya itu. Ia menuruti perintah Haidar untuk pergi ke parkiran. Rania menunggunya melepaskan helm.

Haidar berbalik ke arah Rania. Rambutnya yang berantakan panjang seleher itu entah kenapa terlihat keren dan cocok dengan wajahnya. Belum lagi saat ini, ia mengenakan jaket denim dan sneakers berwarna putih. Kok gue malah jadi merhatiin dia ya?~ batin Rania.

"Kenapa kamu ngeliatin akunya gitu banget? Terpesonq sama suamimu ini, ya?" tanyanya percaya diri.

Rania memutar bola matanya malas dan berbalik meninggalkan Haidar. Suami Rania langsung menyusul dan menyejajarkan langkahnya agar bisa bersampingan dengan Rania.

"Kalo udah naksir, ngaku aja kaleee..." ucapnya lagi pada Rania.

"Kalo gue suka, lo mau apa?"

"Aku bakalan jadiin kamu milikku seutuhnya." Jawabnya santai.

Rania mengerjapkan matanya mendengat jawaban Haidar tadi. Ia diam membeku, memproses perkataan sang suami. Menjadikan dirinya milik Haidar sepenuhnya? Wah, Rania tidak ingin memikirkan hal itu!

"Kamu sekelompok sama aku, ya?" tanya Haidar.

"Sekelompok?" tanya Rania balik bingung dengan perkataannya Haidar yang hanya dijawab mengangguk.

"Iya, soal kemah minggu depan." Ucapnya.

Rania baru ingat, kalau minggu depan akan diadakan acara kemah di sekolah. Memang para siswa hanya melakukan kemah di lapangan sekolah. Itu semua terjadi karena pengalaman kemah di hutan tahun lalu banyak siswa yang hilang dan kerasukan. Tapi, anggota kelompok kemah itu hanya boleh dengan teman sekelas. Terus, kenapa Haidar ngajakin gue bareng?~ batin Rania.

"Bukannya anggotanya harus temen sekelas?" tanyaku lagi.

"Gue udah tanya ke anak OSIS, katanya boleh juga kalo mau sama anak beda kelas." Jelasnya.

"Serah lo dah!" Jawab Rania pasrah.

"Ya udah, nanti gue juga bakalan ngomong ke Eva sama Icha suapaya diijinin sekelompok." Balasnya. Rania mengangguk pelan.

Wait, Haidar dari tadi nahan gue, nyuruh gue jauh- jauh ikut ke parkiran cuma buat nanyain ini doang? Apaan coba maksudnya.~ batin Rania. Ia langsung menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.

"Lo cuma mau ngomongin ini?" tanya Rania malas.

Haidar membalasnya dengan cengiran. Ia berjalan ke arah Rania dan mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Langkah kakinya mulai mengikis jarak antaranya dan Rania. Rania melangkah mundur agar tidak terlalu dekat dengannya.

Haidar hanya tersenyum pada istri kecilnya itu. Rania membuang tatapannya mengalihkan pandangan ke tanah yang ada di bawahnya. Ia berjalan meninggalkan suaminya yang sudah pasti akan diikuti si tengil itu. Ia berjalan di samping Rania sambil tersenyum lebar.

"Apaan sih lo cengar-cengir gitu, nyebelin tau ngga!" ucap Rania emosi.

Ia tersenyum, lalu terkekeh dan menatap Rania.

"Kok aku suka muka kamu yang kayak gitu ya? Tapi, kalo lo senyum, pasti lebih cantik." Ucapnya. Sumpah nih bocah gombal banget.~ batin Rania.

Rania paling tidak suka dengan cowok yang suka ngegombal. Tapi yang lebih Rania tidak suka adalah dirinya sendiri yang langsung baper begitu digombali laki-laki. Rania yakin, pasti saat ini wajahku memerah seperti kepiting rebus. Tapi, entah kenapa gombalan Haidar di telinga Rania kala  itu terdengar manis sekaligus menyebalkan.

"Cie, baper baper aja kali neng! Ngga usah sok malu gitu!" goda Haidar sambil menatap ke arah Rania dengan senyuman tengil. Ia juga mencolek pipi chubby Rania.

Rania pergi meninggalkannya. Kali ini, Haidar tidak mengikuti lagi karena sudah bel masuk kelas. Rania langsung duduk di kursinya. Icha dan Eva langsung menatap ke arahnya.

"Lo sakit Ran, kok muka lo merah banget?" tanya Icha.

"Gue yakin, mesti kena gombalannya si Haidar kan?" Ucap Eva malas.

Rania menenggelamkan wajahnya di meja. Gue benci banget sisi diri gue yang begini!~ batin Rania.

Rania langsung mengangkat kepalanya kembali mengingat perkataan Haidar yang menyuruhnya meminta izin kepada Eva dan Icha untuk melaksanakan kemah sekelompok.

"Eh, si Haidar minta gabung ama kita buat kemah besok. Boleh ngga?" tanya Rania pada mereka.

"Sejak kapan lo nurut sama Haidar?" tanya Arin mengangkat sebelah alisnya.

Iya juga, sejak kapan aku menuruti perkataan Haidar? Apa jangan-jangan sejak gue sama dia nikah?!~ batin Rania bingung sendiri. Ia langsung cepat-cepat menggelengkan kepala, menghilangkan isi pikirannya.

"Gue paham banget sama tu bocah, pasti mau dusmodusmo ama lo!" ucap Eva.

"Serah lo dah! Mau masukin boleh, ngga juga boleh." Lanjutnya. Rania mengangguk tanda setuju.

Fix, nanti saat kemah Rania akan sekelompok dengan suaminya sendiri, Haidar.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Gimana, pada penasaran ga sama kegiatan kemah mereka?

Bakalan ada keseruan apa lagi ya?

Kalo penasaran sama kelanjutan cerita ini, aku bakalan lanjut, kalo ga penasaran, ya tetep lanjut.😆

Btw, kalian suka tipe cerita ini ga?

Kalian boleh banget kasih komentar, kritik, atau saran kalian supaya cerita aku kedepannya bisa lebih bagus lagi.

Jangan lupa masukin ke reading list,
share, dan vote terus ya!


MUST END (REPUBLISH)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang