Selesai sudah prosesi ijab qobul hari itu. Rania yang mendengar kata ‘sah’ langsung menghela napas lega sambil menundukkan kepalanya. Wulan yang melihat kegugupan ponakannya itu langsung menepuk bahu Rania.
“In Syaa Allah, ini keputusan yang terbaik dari Allah. Selamat ya, kak!” Ucap Wulan sambil memeluk Rania.
“Iya, makasih tante.” Jawab Rania sambil membalas pelukan dari sang tante.
Tak lama, terdengar suara ketukan pintu. Wulan yang tahu bahwa yang mengetuk pintu adalah Haidar langsung bangkit dari duduknya dan membukakan pintu. Ia berjalan keluar melewati Haidar sambil tersenyum hangat dan mengatakan sesuatu.
“Jaga ponakan saya, ya?” yang dibalas anggukan oleh Haidar.
Haidar berjalan ke arah Rania yang kini sudah berstatus sebagai istrinya. Ia tersenyum nakal pada Rania sambil berkacak pinggang.
“Assalamualaikum, istri!” sapanya.
“Waalaikumsalam.” Jawab Rania singkat, padat, dan jelas.
Rania mengulurkan tangannya untuk mencium tangan suaminya. Haidar yang mengerti pun langsung menerima uluran tangan dari sang istri. Setelah mencium tangan Haidar, tangan Rania ditahan oleh Haidar. Ia memegang pucuk kepala Rania dan mulai mencium kening sang istri. Setelah itu, Haidar mencium tangan Rania secara bolak-balik sebanyak tiga kali. Rania yang terkejut dengan perilaku Haidar itu langsung menarik tangannya dari genggaman dang suami.
“Eh, ngapain cium tangan aku?” tanya Rania.
Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Haidar malah tersenyum, lalu muai berkacar pinggang dan memainkan alisnya.
“Mulai aku kamu nih?” godanya.
“Ya udah, kayak biasa aja!”
“Ngambek?”
“Ngga, Ya Allah…”
Haidar terkekeh mendengar jawaban istrinya yang terdengar sangat pasrah itu. Ia mulai berjalan ke arah samping Rania sehingga posisi mereka saat ini berdampingan. Tangan kanan Haidar bertengger di bahu kiri Rania. Ia menatap istrinya yang dibalas oleh sang istri.
“Ke luar yuk! Bikin yang jomblo pada iri!” ucap Haidar pada Rania.
“Iya.”
“Senyum dong!”
Rania menampilkan sedikit senyumannya sesaat kepada suaminya. Haidar yang gemas dengan perilaku istrinya itu langsung menciumi wajah sang istri. Mulai dari kening, pipi kanan, pipi kiri, hidung, dan kedua matanya.
Rania dan Haidar tidak menyadari jika saat itu, pintu ruangan mereka sudah terbuka sehingga para undangan dapat melihat aksi Haidar saat itu.
“ANJIR, KAKAK GUE!” Teriak Ari histeris.
“BANG, MALU-MALUIN LO!” kali ini, Haura yang berteriak.
Haidar yang mendengar teriakan dari adik-adiknya itu pun langsung tertawa. Sedangkan Rania, ia menyungginkan sedikit senyuman.
“Wah, gelaseh! Baru sepuluh menit nikah kakak gue dah senyum aja!” gumam Ari di tenga kebisingan para undangan saat itu.
Rania dan Haidar langsung berjalan ke pelaminan. Di sana mereka tetus menyalami para undangan yang memberikan selamat atas pernikahan mereka.
Ada segerombol anak muda yang menaiki pelaminan sambil tersenyum ke arah mereka. Melihat hal itu, Haidar langsung mendekatka mulutnya ke telinga Rania.
"Kamu harus senyum sama mereka! Kasih tau kalo kamu bahagia sama aku!" Bisik Haidar.
"Emang kenapa?"
"Udah, senyum aja!"
Saat segerombolan anak muda itu menghampiri mereka, Rania langsung memasang senyum di wajahnya. Cantik, sangat cantik. Sampai membuat Haidar terdiam sesaat menatap ke arah istrinya.
"Selamat ya, bos!" Ucap mereka serempak sambil menjabat tangan Haidar secara bergantia. Sedangkan Rania hanya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada untuk menyalami kaum adam.
Rania pikir, mungkin mereka adalah beberapa dari anggota geng motor Haidar karena memanggil suaminya dengan sebutan 'bos'. Tapi, bukankah seharusnya mereka tidak diundang? Karena anggota inti pun tidak diundang untuk datang ke resepsi pernikahan oleh Haidar.
"Wih, gile! Cantik banget bini lo, bos!"
"Kalo kenal duluan, udah gue embat nih cewek!"
"Enak aja, jodoh gue juga!" Ucap Haidar sambil mendekatkan tubuh Rania ke arahnya dengan cara merangkulnya.
"Ye, bucin lo!"
"Ih, kakak cantik banget! Aku iri!"
Itulah yang dikatakan beberapa anak muda tadi. Rania hanya tersenyum mendengar perkataan mereka. Kalian tahu bukan, kalau Rania itu sulit berkomunikasi dengan orang baru?
Para undangan sudah mulai berpergian meninggalkan rumah Haidar satu persatu. Kaki Rania terasa pegal karena high heels yang ia pakai. Rania memukul-mukul betisnya saat para undangan sudah mulai menikmati makanan yang disajikan. Haidar yang melihat tingkah Rania itu pun langsung menyuh dang istri untuk duduk.
“Duduk aja! Lagian udah mau selesai kok acaranya.” Ucap haidar.
Rania yang mendengar perkataan Haidar ity langsung menurut dan duduk di sofa yang ada di belakannya diikuti oleh Haidar. Rania menyandarkan tubuhnya di sofa dan menghela napas lega. Akhrinya, sebentar lagi hari yang panjang ini akan selesai.
“Mau aku ambilin minum?” tanya Haidar.
“Boleh.”
Saat Haidar mengambilkan minum untuk Rania, ia dihampiri oleh Radit dan Ari. Radit menepuk bahu Haidar.
"Kamu sekarang udah jadi suami ponakan saya." Ucap Radit pada Haidar yang dibalas oleh anggukan.
"Saya minta, kamu dekati Rania pelan-pelan. Dia masih butuh adaptasi dengan orang baru."
"Iya, om."
"Nanti kalo Rania ngomong atau cerita sesuatu tentang masa lalunya dan bertindak aneh ke kamu dengerin aja. Kalau bisa jangan tanya dia kenapa."
"Karena itu adalah sesuatu yang membuat dia trauma. Sesuatu yang tidak saya ketahui dan ia sembunyikan dari semua orang."
"Kalau disembunyikan dari semua orang, gimana saya tahu, om?"
"Kamu, adalah satu-satunya orang yang saya tahu sebesar apa kamu mencintai ponakan saya. Dan saya yakin, dengan hal itu, dia akan luluh dan bisa menceritakan semuanya ke kamu."
Ari yang sejak tadi hanya mendengarkan obrolan om dan kakak iparnya itu akhirnya membuka suara.
"Bang, kalo sampe lo buat kakak uue nangi, ngga cuma malaikat yang ngelaknat setiap langkah kaki lo. Tapi, gue juga bakalan ngelaknat setiap langkah kaki lo!" Ucap Ari pada Haidar dengan serius.
Setelah mendengar pesan dari adik iparnya, Haidar langsung menelan sulit salivanya. Anjir, serem juga ni bocil~ batin Haidar.
"Iya Ri, In Syaa Allah."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kalo penasaran sama kelanjutan cerita ini, aku bakalan lanjut, kalo ga penasaran, ya tetep lanjut.😆
Btw, kalian suka tipe cerita ini ga?
Kalian boleh banget kasih komentar, kritik, atau saran kalian supaya cerita aku kedepannya bisa lebih bagus lagi.
Jangan lupa masukin ke reading list,
share, dan vote terus ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST END (REPUBLISH)
Roman d'amour13+ Rania Adiningrum, seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang memiliki kehidupan tidak seperti remaja pada umumnya. Ia tidak pernah pergi ke mall bersama teman, ke tempat disco, ataupun bermain dan bersendagurau dengan sahabat. Semua itu terjadi...
