Saat Rania terbangun pagi ini, kepalanya menyandar pada bahu Haidar. Lelaki itu juga melingkarkan tangan kirinya di leher sang istri.
Tadi malam, Rania dan Haidar tertidur di sofa dalam posisi duduk saat sedang nenonton film.
Rania membuka mata, dan mengerjap beberapa kali. Ia mengambil remot untuk mematikan TV yang terus menyala semalaman. Saat hendak bangun dari duduknya, Haidar menahan. Sang suami melingkarkan tangannya di perut Rania, lalu meletakkan kepalanya di atas bahu sang istri.
"Tunggu, aku masih ngantuk." Ucap Haidar.
"Sholat woy!" Jawab Rania.
Haidar mendangak menatap Rania dengan muka bantal dan rambut acak-acakannya itu. Ganteng, tapi lucu di saat yang bersamaan. Rania tersenyum tipis.
"Kenapa, Ya?" tanyanya.
"Lucu."
"Cantik." Balasnya sambil tersenyum lalu mencium singkat pipi Rania.
Rania melepaskan tangan sang suamu yang melingkari perutnya dan langsung pergi mengambil air wudhu, diikuti oleh Haidar. Setelah itu, mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Tak terasa, matahari sudah terbit. Waktu pun terus berjalan. Terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar. Ternyata, itu dokter yang hendak mengecek kondisi Haidar.
Dokter itu masuk bersama suster. Ia membawa beberapa peralatan. Suster itu mengganti perban Haidar dan lain-lain.
Namun, jika diperhatikan dari tadi, dokter itu terlihat seperti menggoda Haidar. Ia terus mengeluarkan senyum genit, belum lagi, ia terus terusan memegang tangan Haidar sampai pemeriksaan selesai.
Rania paham, kalau doter memang memegang anggota tubuh pasien untuk mengecek kondisi. Tapi, bagian yang disentuh oleh dokter genit itu bukan bagian yang butuh perawatan. Apa coba maksudnya?
"Dok, kira-kira kapan suami saya boleh pulang?" tanya Rania menyela pembicaraannya dengan Haidar yang sangat tidak berfaedah itu.
"Kondisinya sudah membaik, kalau besok ingin pulang saya persilahkan." Jawabnya.
Asal kalian tau, sebelum pergi ia memegang tangan Haidar juga.
Innalillah...
"Maaf dok, saya ngga nyaman dipegang-pegang terus." Ucap Haidar.
"Tolong hargai istri saya." Lanjutnya.
Dokter itu langsung berwajah masam, ia meninggalkan kamar, membanting pintu kamar mereka. Rania dan Haidar hanya bisa menatap kepergian dokter aneh itu.
"Maaf Ya, kamu marah?" tanyanya.
"Ngapain marah, ngga guna." Ucap Rania sambil menyeringai.
Haidar mengerutkan kedua alisnya.
"Kamu cemburu, Ya?" tanyanya lagi.
"Ngapain aku cemburu sama kamu!" jawab Rania.
"Ih Ya, jujur aja ngga pa pa kali." Goda Haidar sambil menaikturunkan alisnya.
"Ngga!"
Rania langsung duduk di sofa lagi. Menjauh dari Haidar yang duduk di brangkar pasiennya. Rania berusaha memasang tampang sedatar mungkin.
Haidar turun dari atas brangkar. Ia berjalan menghampiri Rania. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Rania. Lalu, membaringkan tubuhnya dengan paha Rania sebagai bantal kepalanya.
"Sayang..." panggil Haidar lembut.
Rania tak menjawab. Ia menatap lurus ke depan.
"Ih yang, dijawab dong!" rengeknya sambil menciumi punggung tangan Rania.
Rania berdiri dari duduknya dan mengemasi barang-barang. Mengingat perkataan dokter genit tadi kalau Haidar sudah boleh pulang besok
Saat Rania lewat di depan Haidar, suaminya itu langsung memeluknya. Ia mendaratkan kecupan singkat di pipi Rania.
"Jangan ngambek, udah dong cemburunya!" ucap Haidar.
"Iya. Tapi, siapa coba yang ngga cemburu kalo di posisi aku?" tanya Rania pada Haidar. Ia terkekeh, lalu mengacak-acak rambut Rania.
"Cie... udah ngga gengsi cemburu-cemburuan nih?!" Goda Haidar.
"Tau lah!" Ucap Rania kesal. Haidar terkekeh melihat wajah kesal Rania yang sangat imut di matanya. Apalagi jika di tatap dari atas, karena tubuhnya yang lebih tinggi dari sang istri.
"Tapi, kalo dipanggil dijawab ya?" ucap Haidar.
"Iya."
Setelah beres-beres, Rania mengambil sarapan Haidar agar dapat langsung menyuapi suaminya. Saat hendak menyuapkan nasi ke dalam mulut Haidar, laki-laki itu malah cemberut.
"Kita pesen aja ya? Aku ngga suka makanan rumah sakit kayak gini." Ucapnya.
Rania membalasnya dengan anggukan. Haidar berdiri mengambil ponselnya, lalu memesan makanan. Entah bagaimana, Rania berjalan menghampiri Haidar, lalu memeluk suaminya yang tengah memainkan ponsel. Rania menyandarkan kepalanya pada dada Haidar.
Tidak hanya Rania sendiri yang terkejut, Haidar pun terkejut dengan tingkah istrinya itu. Namun tak lama, ia mulai membalas pelukan Rania dan mengelus kepala gadis itu. Sesekali, ia mengecup puncak kepala sang istri.
"Kenapa sih, hm? Kok tiba-tiba banget peluk-peluk?" tanya Haidar.
Rania menenggelamkan wajahnya pada dada Haidar dan mulai menangis. Rania merasa kaos putih Haidar mulai basah karena air matanya.
"Ya?"
"Aku kangen Ari." Ucap Rania dengan seuara yang bergetar. Mendengar jawaban sang istri, Haidar langsung mengeratkan pelukannya.
Rania pikir, dengan memeluk Haidar, ia bisa merasa seperti memeluk Ari. Tapi bagaimanapun, mereka adalah orang yang berbeda. Begitu Rania sadar jika rasanya berbeda, ia mulai menangis. Rania merasa, ia sangat menyianyiakan kasih sayang adiknya yang berharga. Bodoh!
Lama Rania memeluk Haidar, sampai akhirnya ia mendengar ponselnya berdering.
Rania melihat siapa yang menelpon. Ternyata Eva. Rania melepaskan pelukannya dan mengambil ponsel.
"Halo Ran, lo sama Haidar masih di rumah sakit?" Tanya Eva lewat telpon.
"Iya. Kenapa Va?" jawab Rania.
"Oh, ya udah. Kalo gitu, gue langsung otw ya! Ada yang mau gue omongin soal Icha." Jawabnya. Setelah itu, ia langsung mematikannya.
"Kenapa, Ya?" Tanya Haidar.
Rania menggedikkan bahu.
"Katanya Eva mau ke sini" jawab Rania. Haidar hanya ber-oh ria.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kira-kira, Eva mau ngapain ya ketemu Rania?
Kalo penasaran sama kelanjutan cerita ini, aku bakalan lanjut, kalo ga penasaran, ya tetep lanjut.😆
Btw, kalian suka tipe cerita ini ga?
Kalian boleh banget kasih komentar, kritik, atau saran kalian supaya cerita aku kedepannya bisa lebih bagus lagi.
Jangan lupa masukin ke reading list,
share, dan vote terus ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST END (REPUBLISH)
Romance13+ Rania Adiningrum, seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang memiliki kehidupan tidak seperti remaja pada umumnya. Ia tidak pernah pergi ke mall bersama teman, ke tempat disco, ataupun bermain dan bersendagurau dengan sahabat. Semua itu terjadi...
