Pagi ini, adalah hari pertama Rania dan Haidar sekolah setelah menikah. Setelah menyetrika pakaian Haidar dan menyiapkannya di atas kasur, Rania langsung pergi ke bawah untuk membantu Sinta yang sedang memasak.
“Biar Rania bantu, mi.”
Ya, Rania dan Haidar masih berada di rumah orang tua Haidar. Karena, rumah yang akan mereka tinggali belum selesai dirapikan. Besok, baru mereka bisa pindah.
“Iy- Eh, itu mata kamu kenapa? Kok kayak mata panda?” tanya Sinta.
“Oh… ini karena tadi malem Rania ngga tidur, mi.” Sinta langsung mengerjapkan mata.
“Oh… kalian malam pertama?”
“Iya, mi.” jawab Rania.
Haidar yang baru selesai mandi langsung turun ke lantai bawah dan pergi ke dapur mencari keberadaan istrinya. Ia menenggelamkan wajahnya di bahu kanan Rania.
“Ngantuk.” Rengek Haidar.
“Semalem kamu juga yang ngajak. Sana, duduk di meja makan!” titah Rania.
“Cih, kan aku mau dapet pahala bareng kamu!”
“Hm.”
Abi dan Haura yang baru memasuki dapur langsung berjalan ke arah meja makan dan duduk di sana.
“Lemes banget?” Tanya Zidan pada Haidar.
“Habis malem pertama dia, bi.” Celetuk Sinta.
“Bwangkeh, napa gua denger yang beginian?!” gumam Haura.
“Wih… dapet berapa?” tanya abi.
Haura yang mendengar topik pembicaraan abinya itu langsung menutup telinganya menggunakan kedua tangan, pura-pura tidak dengar.
“Yang sesi ke berapa bi? Kan kita ngelakuin 6 sesi.” Jawab Haidar.
Haura membulatkan matanya sambil beristighfar dalam hati. Astaghfirullahaladzim, gue ngga denger Ya Allah, gue ngga denger~ batin Haura. Ia langsung memasang earphone ketelinganya dan memutar musik dengan volume tinggi.
“Yang pertama.” Ucap abi.
“Alhamdulillah, dapet 15.”
Ya, malam pertama Rania dengan Haidar mereka habiskan bersama dengan mendekatkan diri kepada Allah. Sesi pertama, mereka terus mengaji sampai dini hari. Sesi kedua, sholat hajad. Sesi ketiga, sholat taubat. Sesi keempat, sholat tahajud. Sesi kelima, sholat witir. Dan sesi keenam yang terakhir, dzikir bersama sambil menunggu adzan subuh berkumandang. Mereka sangat menikmati malam itu, sampai-sampai tidak merasa ngantuk. Tapi, yang menyebalkannya, rasa kantuk itu malah datang setelah mereka sholat subuh berjamaah.
Setelah itu, mereka semua mulai sarapan bersama dan berangkat untuk sekolah dan bekerja satu persatu. Rania dan Haidar menyalami orang tua Haidar, lalu pergi ke luar. Sebelum menaiki motor Haidar, Rania membuka suaranya terlebih dahulu.
“Nanti aku turunin di belakang sekolah aja.”
“Loh, kenapa? Nanti kamu capek jalan, aku ngga mau!” tolak Haidar dengan tegas.
“Kalo ada yang curiga sama kita, gimana? Kan sekolah kita ngelarang siswanya menikah debelum lulus. Kalo kamu mau dikeluarin, ngga pa pa.” jelas Rania.
Akhirnya, Haidar pasrah dengan permintaan Rania untuk menurunkannya di belakang sekolah. Mereka berangkat bersama, lalu berpisah setibanya di sekolah, dan dilanjutkan dengan pembelajaran jam pertama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo ngaku.... siapa yang pikirannya sama kayak Haura?🤭
Menurut kalian, Haura bakalan salah paham sampe akhir ga?
Kalo penasaran sama kelanjutan cerita ini, aku bakalan lanjut, kalo ga penasaran, ya tetep lanjut.😆
Btw, kalian suka tipe cerita ini ga?
Kalian boleh banget kasih komentar, kritik, atau saran kalian supaya cerita aku kedepannya bisa lebih bagus lagi.
Jangan lupa masukin ke reading list,
share, dan vote terus ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST END (REPUBLISH)
Romance13+ Rania Adiningrum, seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang memiliki kehidupan tidak seperti remaja pada umumnya. Ia tidak pernah pergi ke mall bersama teman, ke tempat disco, ataupun bermain dan bersendagurau dengan sahabat. Semua itu terjadi...
