50. Usil Time

193 6 0
                                        

Setelah Rania dan Haidar menceritakan tentang masa lalu mereka, terdengar suara ketokan pintu. Haidar langsung pergi ke luar untuk mengecek siapa yang mengunjungi mereka malam-malam.

"Loh, Ari? Lo ngapain di sini?" Tanya Haidar bingung.

"Gue tau kalo kakak gue tercinta itu gila belajar, makanya, gue ke sini mau modus ketemu doi buat belajar bareng." Jelas Ari panjang lebar.

Ari langsung nyelonong masuk ke dalam rumah Haidar dan mencari keberadaan sang kakak. Rania yang baru keluar dari kamar pun terkejut dengan kehadiran sang adik.

"Loh, Ari? Lo ngapain di sini?" Tanya Rania.

"Papaan sih, mentang-mentang pasutri ngomong aja dialognya sama banget!" Dumel Ari sambil menatap jengah ke arah kakak dan kakak iparnya.

"Eh bang, lo masuk kamar duluan gih! Gue mau ngomong dulu ama kakak gue!" Titah Ari.

"Iya, jan macem-macem lo!" Ancam Haidar.

"Kalo gue apa-apain yo dah sih, kan kakak gue!"

"Lo ya..."

"Shut! Masuk dulu, Dar! Please!" Pinta Rania lembut.

Haidar tersenyum ke arah Rania. Ia cium kening sang istri, lalu pergi memasuki kamar sesuai perintah.

"Ih, bisa gitu yak?" Dumel Ari.

"Lo mau ngomongin apa?" Tanya Rania sambil duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu.

Ari yang melihat sang kakak serius mendengarkan pun langsung dengan semangat mengikuti Rania untuk duduk di sofa. Ia duduk di samping Rania.

"Lo mau lihat bang Haidar kesel ngga?" Tanya Ari menggoda.

"Kak, lo tau kan kalo bang Haidar cemburuan?" Lanjutnya bertanya.

"Emang iya?"

"Iya. Makanya, ayo kita kejasama buat dia ngambek! Gimana, mau ngga?" Tanya Ari antusias.

Rania melirik ke arah Ari, lalu tersenyum.

"Gas!"

Ari terpaku pada Rania. Ia tersenyum, tidak menyangka bisa melihat kakaknya tersenyum lagi seperti sedia kala. Ari bahagia melihat kakaknya bahagia juga. Kayaknya, bukan gue, tapi bang Haidar yang jadi pembawa kebahagiaannya lo, kak~

"Ri?" Panggil Rania pada Ari karena terus melamun.

"Eh, iya. Gini, nanti selama gue ngapa-ngapain lo, pokoknya jangan protes! Itu kunci supaya kita berhasil, ok?"

"Ok."

Setelah itu, mereka masuk ke dalam kamar untuk belajar bersama. Haidar sejak tadi sudah menunggu mereka. Bahkan, ia terus-terusan memainkan ponsel saking bosannya menunggu.
Ari dan Rania masuk ke dalam kamar dengan raut wajah seperti biasa. Mereka memang pandai berakting.

Mereka memulai kegiatan belajar bersama. Di tengah kegiatan itu, tiba-tiba, Ari menyandarkan kepalanya pada pundak kakaknya. Entah kenapa saat itu Rania sangat peka, ia mengelus kepala sang adik yang ada di pundaknya.

Ari semakin manja. Sekarang, ia malah memeluk kakaknya dari samping. Haidar sejak tadi sudah melirik ke arah mereka dengan tatapan tajam. Wajahnya juga sudah berubah menjadi merah padam.

Rania terkejut dengan tingkah laku Ari yang kelewat manja. Tapi di sisi lain, ia juga senang melihat raut wajah Haidar yang kesal plus cemburu. Ia tersenyum dalam hati.

Haidar sangat kesal ketika melihat Rania tadi mengelus kepala Ari. Ia cemburu, seingatnya, hingga saat ini, jika ia seperti itu kepada Rania, istrinya itu tidak pernah meresponnya dengan belaian di kepala. Apa sih, gue yang suaminya ga pernah digituin!~

MUST END (REPUBLISH)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang