10. Anggota Inti BRUISER

275 4 0
                                        

Saat bel istirahat, Rania Eva, dan Arin pergi ke kantin untuk makan siang. Begitu tiba di sana, semua meja sudah penuh. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke dalam kelas. Namun, tepat saat mereka pergi keluar dari kantin, ada rombongan anggota BRUISER yang lewat.

Ya, BRUISER adalah nama anggota geng motor yang diketuai oleh Haidar saat ini. Tentu para siswi yang melihat itu langsung heboh. Tak terkecuali kedua sahabat Rania.

Di paling depan, ada Haidar yang memimpin langkah mereka. Cowok dengan tinggi 180 cm-an, rambut hitamnya yang saat ini basah karena keringat, hidungnya yang mancung, rahangnya yang lancip, tatapan mata yang membunuh, wajah datar, pelit tersenyum, dan manusia paling sadis saat berhadapan dengan lawannya. Bahkan yang kuketahui, dipertarungan terakhir lawan yang ia hadapi sampai koma di rumah sakit selama 3 bulan. Haidar juga berbakat dalam berkuda, memanah, dan menembak. Haidar mempelajari semua itu saat ia berada di rumah Angga. Angga yang malas mengikuti les dari ayahnya itu memberi Haidar kesempatan untuk mencobanya. Saat ia tahu Haidar berbakat, ia selalu menyuruh Haidar datang ke rumahnya saat guru lesnya tiba. Haidar juga menjabat sebagai kapten tim basket sekolah. Tidak ada yang bisa mengalahkan tim basket sekolah kita saat Haidar lah yang memimpin semua strategi dan pergerakan.

Di samping kanan Haidar, ada Leon. Cowok dengan tinggi sekitar 170 cm, rambutnya dicat merah kecoklatan, kulitnya yang putih bersih, mata dan hidung yang kecil, ramah senyum, sangat bertolak belakang dengan Haidar. Belum lagi, di sekolah ia dicap sebagai play boy kelas kakap oleh seluruh warga sekolah. Kata-katanya selalu manis (gombal), ia juga perhatian, dan itu membuat para wanita merasa diberi kesempatan untuk mendekatinya. Yang membuatku haran adalah, seluruh siswi mengetahui bahwa Leon adalah play boy, namun mereka tetap mau berpacaran dengannya hingga ia mengakhiri hubungan itu dan membuat mereka manis. Btw, ia juga menjabat sebagai kapten tim sepak bola sekolah yang membuat para wanita semakin sulit untuk menolak pesona yang terpancar dari dirinya.

Di samping kiri Haidar, ada Angga. Cowok yang kira-kira setinggi Leon, matanya hitam, bulat, besar, rambutnya berwarna kecoklatan, wajahnya bulat dan memiliki pipi chuby, seperti bayi. Walau tampangnya seperti bayi, Angga adalah pemegang sabuk hitam taekwondo. Cowok ini juga sangat spesial. Ia adalah harta BRUISER. Tidak ada yang mengerti kesalahan apa pada sarafnya. Tapi, setiap terluka, cowok itu tidak pernah merasa kesakitan. Biasanya ia hanya pingsan saat kekurangan darah setelah ditusuk dan lain-lain. Selain itu, ia juga dinobatkan sebagai cowok terkaya di sekolah ini. Kekayaan orang tuanya tidak akan pernah habis. Ia menjadi orang terkaya nomor 1 di Indonesia. Banyak wanita yang mendekatinya untuk menghabiskan uangnya. Tapi, Angga terlalu polos. Ia selalu menerima para wanita itu untuk pergi bersama, dan pada akhirnya ia patah hati karena para wanita itu.

Dan yang terakhir adalah, Ari. Cowok dengan rambut hitam, kulit eksotis, hidung mancung, rahang yang tajam, alisnya yang tebal, tatapannya yang meluluhkan hati wanita, wajahnya yang teduh, dan ramah senyum, senyumannya sangat menghangatkan. Ia adalah anak emas sekolah. Peraih medali emas Olimpiade IPA Internasional di Kanada yang menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia. Ia juga selalu memenangi lomba-lomba lainnya dan selalu menempati peringkat 2 paralel dalam semua ujian mata pelajaran.  Tidak hanya berbakat dalam bidang akademik, Ari juga berbakat dalam bidang olahraga. Ia jago dalam olahraga basket. Ia selalu memenangi medali emas dalam setiap perlombaan.

“Ampun Ra, si Ari ganz banget…” ucap Eva.

“Mayan lah, cool juga tu anak.” Ucap Icha.

“Shh… punya gue!” ucap Eva posesif. Icha mengangkat bahu dan memutar bola matanya jengah.

Haidar menoleh ke arah Rania dan tatapan mereka bertemu. Rania langsung memalingkan wajahnya dan mencoba untuk mengacuhkan laki-laki yang menyapanya itu. Tapi, bukan Haidar jika ia melepaskan Rania begitu saja. Langkah kaki Rania langsung terhenti saat mendengar suara baritone dari seoang lelaki yang bisa dipastikan bahwa yang sang pemilik suara itu adalah Haidar.

“Eh, sayang!” panggil Haidar pada Rania.

“Howeeek…” refleks Eva dan Icha.

“Gile lo bos, main panggil ayang ayang!” ucap Leon.

“Bang, kakak gue tuh! Gue gorok lo!” ucap Ari emosi pada Haidar.

Mata seluruh orang yang ada di sekitar mereka saat ini membola. Mereka melirik ke arah Rania dan Ari secara bergantian kecuali Haidar. Ia adalah satu-satunya orang yang tahu hubungan antara Rania dengan Ari. Itu semua karena Ari sering curhat tentang kakaknya sampai Haidar menyadari bahwa kakak Ari itu adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang membuatnya penasaran plus tertarik.

Oke, ini adalah situasi yang paling dibenci Rania. Tak lama lagi, ia akan menjadi pusat perhatian karena ia adalah kakak dari salah satu anggota inti BRUISER yang  serba bisa.

Rania kakaknya Ari anjing!

Sumpah, pantesan sering barengan sama anak BRUISER!

Kode nih!

Kode apaan?

Jan sampe ada yang macem-macem sama Rania!

Semua orang yang ada di sekah langsung bergosip tentang Rania. Ya, inilah SMA Perjuangan. Semua kehidupanmu yang pernah terjadi di sekolah akan di ketahui seluruh orang.

“Lo, ya! Ancur hidup gue!” ucap Rania emosi pada Ari.

“Kak, gue ngga betah dua taun nyuekin lo!"

“Serah lo!” ucap Rania sebal.

“Eh anjir, Rania kakak lo, Ri?” tanya Leon.

“Iya."

“Comblangin dong!”

“Gue ngga akan jadiin kakak gue makanan buaya!”

Seketika Haidar, Angga, Eva, dan Icha yang mendengar perkataan Ari langsing tertawa terbahak-bahak. Bahkan Angga sampai memegangi perutnya. Rania memutar bola matanya jengah. Ia sudah terlalu lelah terus-terusan menjadi pusat perhatian di sekolah. Ia berjalan meninggalkan teman-temannya.
Haidar yang melihat Rania mulai melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan mereka pun langsung mengeluarkan suaranya agar gadis itu menghentikan langkahnya.

“Loh, mau kemana sayang?” tanya Haidar pada Rania yang langsung diberi tatapan tajam oleh Ari. Eva yang melihat perlakuan Ari kepada kakaknya itu langsung senyum-senyum sendiri.

“Najis! Gue mau ke kelas.” Ucap Rania menjawab pertanyaan Haidar.

Haidar terkekeh. “Ngga makan siang?”

“Elah bang, lo punya mata kan? Penuh tuh kantin!” ucap Icha emosi.

“Neng cantik, jangan emosi atuh.” Ucap Leon genit.

“Awww, gue pengen digituin.” Ucap Eva.

“Najis lo, Yon!” celetuk Ari. Ia berani menyebut Leon dengan namanya saja karena memang Leon yang meminta. Jika dipanggil ‘abang’ akan terlihat tua katanya.

“Ye…., Eva aja klepek-klepek.”

“Eva, lah gue, malah mau muntah.” Ucap Icha.

“Bwahahahahahaha!!! Mati lo!” ledek Angga dan Ari yang tertawa terbahak-bahak. Ari hanya menanggapi omongan Angga dengan senyuman tipis.

“Ikut gue aja!” ucap Haidar.

“Ke mana?” tanya Rania.

“KUA.”

“Njir!” teriak Eva, Icha, Angga, Ari, dan Leon serempak.

“Tau ah! Serah lo!” ucap Rania sambil berlalu.

“Ke warung bi Asih, sayang. Jangan emosi lah.” Ucap Haidar.

“Ok.” Jawab Eva dan Icha.

“Main ok-ok aja lo pada!” ucap Rania emosi.

“Sekali-kali kita nongkrong lah Ra.” Ucap mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Gimana, pada penasaran ga nih, kelanjutan obrolan mereka di warung bi Asih?

Kalo penasaran, aku bakalan lanjut, kalo ga penasaran, ya tetep lanjut.😆

Btw, kalian sukatipe cerita jni ga?

Kalian boleh banget kasih komentar, kritik, atau saran kalian supaya cerita aku kedepannya bisa lebih bagus lagi.

Jangan lupa masukin ke reading list,
share, dan vote terus ya!

MUST END (REPUBLISH)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang