Rania menghampiri suaminya yang sedang berbaring di kasur sambil memainkan ponsel. Ia ikut membaringkan tubuhnya di samping sang suami sambil menatapnya.
Haidar yang menyadari bahwa Rania terus menatapnya menoleh ke arah sang istri. Ia menaruh ponselnya lalu membelai kepala Rania sambil tersenyum.
"Kenapa sayang, hm?"
"Ayo ke pasar!" Ajak Rania.
"Emang ngga ada bahan makanan?"
"Ngga." Jawab Rania sambil menggeleng.
Haidar yang melihat tingkah Rania itu terkekeh sambil mencubit hidung istrinya. Rania kesal dengan perlakuan Haidar. Ia langsung berdecak kesal menatap suaminya sambil mengelus hidungnya.
"Ganti baju gih!"
Rania bangun dari posisinya dan mengambil baju untuk mengganti pakaiannya. Haidar juga melakukan hal yang sama.
Saat Rania sedang mengambil baju, Haidar sudah melepas pakaiannya terlebih dahulu di hadapan sang istri. Rania yang melihat itu langsung menutup matanya.
"Kenapa sayang? Kan udah halal." Ucap Haidar.
"Ga gitu juga!"
Rania langsung berjalan ke arah kamar mandi sambil terus menutupi mata hingga membuat dirinya sesekali menabrak sesuatu. Haidar terkekeh sambil menggelengkan kepala melihat tingkah laku Rania.
"Kalo begitu terus, gimana mau punya anak?"
♠︎♠︎♠︎
Sesampainya di pasar, Rania langsung mencari bahan makanan. Ia berkeliling pasar, tapi tidak tahu harus membeli apa.
"Kamu sukanya makanan apa?" Tanya Rania pada Haidar.
"Apa aja, asal kamu ngga repot bikinnya."
Rania akhirnya berhenti di salah satu lapak dan membeli ayam, kangkung, tempe, dan bayam. Setelah itu, ia membayar belanjaan yang ia pilih.
"Ini, bu."
"Jadinya, 47 ribu neng!" Ucap sang penjual.
Haidar mengeluarkan dompetnya, lalu menyodorkan selembar uang pecahan 50 ribu kepada Rania.
"Eh, aku ada kok!" Ucap Rania menolak uang pemberian Haidar.
"Kewajiban aku, sayang." Jawab Haidar lembut sambil menarik hidung Rania dengan tangan kirinya.
"Ini bu." Ucap Haidar sambil memberikan selembar uang yang ia berikan pada sang penjual.
"Ya, ini kembaliannya ya, kasep!"
"Iya, makasih bu." Jawab Haidar sambil tersenyum tipis.
"Ibu gemes ngeliat kalian yang nikah muda." Ucap ibu penjual itu.
"Ibu tau dari mana kalo kita nikah?" Tanya Rania.
"Kelihatan dari cowoknya."
Rania benar-benar tidak mengerti dengan perkataan ibu itu. Iya mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Kelihatan kalo sayang banget sama kamu, bukan sebagai kakak, atau adik." Jelas ibu itu.
Mata Rania mengerjap. Memangnya yang seperti itu bisa dilihat? Atau ibunya saja yang mengadi-ngadi?
Haidar merangkul Rania sambil tersenyum.
"Doain langgeng ya, bu!" Ucap Haidar.
"Aamiin..."
Setelah itu, Rania pamit untuk pergi dan mereka kembali pulang ke rumah bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST END (REPUBLISH)
Romantik13+ Rania Adiningrum, seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang memiliki kehidupan tidak seperti remaja pada umumnya. Ia tidak pernah pergi ke mall bersama teman, ke tempat disco, ataupun bermain dan bersendagurau dengan sahabat. Semua itu terjadi...
