Hari ini, Rania, Haidar, dan Ari berangkat ke sekolah bersama. Mereka berangkat seperti biasa dengan selamat sampai sekolah.
Tapi, yang tidak biasa adalah raut wajah seluruh siswa SMA Perjuangan saat mereka melewati setiap lorong sekolah. Seluruh siswa menarap jijik ke arah mereka sambil berbisik.
Karena Rania, Haidar, dan Ari adalah tipe orang yang 'bodo amat', mereka melewati barisan anak-anak dengan tatapan jijik itu dengan santai.
Setibanya Rania di kelas, ia duduk di tempat biasa. Anehnya, seluruh teman-teman sekelasnya menatap jijik ke arah Rania. Rania yang sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya itu pun langsung memberanikan diri untuk bertanya kepada duo sahabatnya apa yang sudah terjadi.
"Woy, ni pada kenapa?" Tanya Rania pada Icha dan Eva.
"Eum... lo... udah pernah ngelakuin itu sama Haidar?" Tanya Eva berhati-hati.
"Itu apa?" Tanya Rania bingung.
"Hubungan badan." Jawab Icha tegas.
"Astaghfirullah, ngga lah!" Jawab Rania.
Icha dan Eva terdiam saling menatap bingung.
"Terus, yang ada di video itu siapa?" Tanya Eva.
"Mene ketehe!" Timpal Icha.
"Video apa sih?!" Tanya Rania yang dibuat semakin penasaran.
"Nih, lo liat aja sendiri!" Ujar Icha sambil menyodorkan ponselnya.
Di layar itu, Rania melihat adegan dewasa antara laki-laki dan perempuan. Sumpah, demi Allah, Rania bahkan tidak pernah melihat hal seperti itu, apalagi melakukannya.
Tapi anehnya, wajah pelaku di situ adalah wajah Rania dan Haidar.
"Ngga, ini CGI!" Ucap Rania menyangkal.
"Ini editan Va, Cha!"
"Iya, gue tau lo ga bakalan sebarin hal kayak gitu!" Timpal Eva.
"Kayaknya, mending sekarang lo jaga jarak dulu sama suami lo. Biar ngga ada yang curiga." Saran Icha yang dibalas anggukan oleh Rania.
TING!
"Panggilan kepada Muhammad Haidar Al-Fatih dan Rania Adiningrum, dipersilahkan untuk menemui kepala sekolah di ruang meeting!"
Suara tadi bersumber dari ruang audio sekolah.
Rania langsung berdiri untuk bersiap pergi ke luar. Eva dan Icha menggenggam tangan mereka di depan dada untuk memberikan semangat kepada Rania.
Di tengah perjalanannya ke ruang meeting, Rania bertemu dengan suaminya yang sedang dalam perjalanan menuju ke ruang meeting juga.
"Sayang, ini kenapa bisa gini?" Tanya Haidar panik.
"Aku juga ngga tau, Dar! Aku baru aja diliatin videonya sama si duo bocil itu!" Jawab Rania.
Begitu mereka tiba di ruang meeting, di sana sudah ada kepala sekolah, wali kelas Rania, wali kelas, Haidar, dan juga Angga sebagai siswa yang paling mengerti soal IT di sekolah ini.
Rania dan Haidar langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan. Suasana di sana saat itu benar-benar dingin dan penuh ketegangan.
"Rania, Haidar, kenapa kalian melakukan hal seperti itu?! Membuat malu sekolah!" Ucap kepala sekolah tajam.
"Bu, kami tidak pernah melakukan hal hina seperti itu! Bahkan diluar pernikahan! Demi Allah, saya tidak melakukan hal itu!" Sangkal Haidar pada tuduhan Bu Riska.
Hening.
"Angga, kamu sudah melakukan apa yang saya perintahkan?" Tanya Bu Riska pada Angga.
"Sudah bu."
"Untuk penyebar video itu, pemilik akun bernama Vyvivlyn, dia menggunakan nama samaran. Lebih parahnya lagi bu, dia menggunakan HP sekali pakai agar identitas dan lokasinya tidak dapat dilacak. Untuk lokasi HP saat ini, ada di luar provinsi." Jelas Angga panjang lebar.
"Untuk wajah yang ada di video itu, apakah itu editan?" Tanya Bu Riska.
"Kemungkinan besar iya bu. Karena, video itu live semalam. Wajah yang ada di video itu terlihat sedikit blur, sehingga, jika kita berpikir mereka berdua hanya seseorang yang mirip, itu sangat memungkinkan jika ditambah sedikit filter. Saya juga sudah melacak hotel tempat live itu. Hotel itu jauh dari rumah Haidar dan juga Rania. Menurut perkiraan saya, tidak mungkin mereka bisa sampai tepat waktu ke sekolah dengan jarak yang lumayan jauh, dan live baru selesai sekitar jam 4 pagi." Jelas Angga panjang lebar.
Bu Riska mengangguk mengerti.
"Saya sudah menghapus video itu dari seluruh website yang ada di Indonesia. Tapi kalian harus ingat, kalau di dunia ini selalu ada jejek digital. Pasti sudah ada seseorang yang mendownload ataupun menyimpan video tersebut."
Rania dan Haidar mengangguk mendengar jawaban dari Bu Riska.
"Kalian punya seseorang yang bisa dimasukkan ke dalam daftar tersangka dalam kasus ini?" Tanya Bu Riska.
Tepat saat itu, mata Rania, Haidar, dan Angga lanngsung membola. Jika mereka boleh bertaruh, mereka sangat yakin isi kepala masing-masing.
"Siapa?" Tanya Bu Riska.
"Ah, sepertinya tidak mungkin, bu. Mungkin, kami akan menyelidikinya mandiri nanti lebih dalam dengan bantuan Angga." Jelas Rania pada Bu Riska.
"Ya sudah, kalau begitu, kalian ibu persilahkan kembali ke kelas."
"Baik, terimakasih bu." Ucap Haidar dan Rania.
"Kalian berdua, ingat! Saya tidak akan percaya kepada kalian berdua 100% sampai kalian membawa bukti kuat kepada saya!" Ucap Bu Riska tegas.
"Baik, bu!"
Begitu keluar dari ruang meeting sekolah, Haidar, Rania, dan Angga saling bertatapan kembali.
Angga membuka suaranya sambil tersenyum hendak memangsa buruannya.
"Gue yakin, kalian sepemikiran sama gue. Tentang, siapa dalang dibalik semua kejadian ini."
♠︎♠︎♠︎
"Hei, gile juga lo!" Ucap seseorang dari arah belakang Belva.
"Iya dong! Dan lo tau, gue nyebarin video itu pake HP sekali pakai dan akun baru! Jadi, sulit untuk orang ngelacak gue!" Jelas Belva dengan bangga.
Lawan bicara Belva saat itu hanya tersenyum tipis sambil berkacak pinggang.
"Kenapa?" Tanya Belva.
"Ngga, yang lo lakuin ini, cuma seujung kuku dari apa yang mau gue lakuin ke Rania." Ucap seseorang itu.
Belva terdiam mengangkat sebelah alisnya.
"Karena, ngga lama lagi, gue bakalan bunuh mereka!" Jelas seseorang itu dengan penuh kemenangan.
Belva menelan salinya dengan sulit. Ia baru menyadari, bahwa seseorang yang ada di hadapannya ini bermuka dua. Ia adalah seseorang yang paling antagonis yang pernah Belva kenal. Seseorang yang paling berbakat dalam menusuk secara perlahan dan menyakitkan dari belakang.
Di tengah keheningan itu, terdengar suara baritone dari seorang laki-laki. Belva dan lawan bicaranya pun menoleh ke arah sang pemilik suara.
"Kalian ngga boleh tinggalin gue dong, kalo mau bunuh mereka!" Ujar seseorang itu.
"Bunuh, sebrutal mungkin!" Ucap seseorang yang sejak tadi menjadi lawan bicara Belva.
♠︎♠︎♠︎
Di shadow house, seluruh anghota inti BRUISER sedang berkumpul. Di sana juga ada Rania dan duo sahabatnya. Mereka sedang berpikir keras, bagaimana caranya, agar Belva mau mengakui kesalahannya sendiri.
"Masalahnya, kita ngga punya bukti!" Ucap Rania frustasi.
"A, wait!" Celetuk Haidar.
"Salah satu anak buahnya Belva mantan lo kan Yon?" Tanya Haidar pada Leon.
"Ck, iya."
"Lo, telpon dia, tanyain dia tau ngga semalem Belva pergi ke mana!" Titah Haidar pada Leon.
"Iya, iya." Jawab Leon malas.
"Halo, Na?" Panggil Leon ketika telepon seudah tersambung.
"Apa sih lo, buaya? Mau ngajak balikan gue?!" Tanya Rina sewot.
"Enak aja lo! Gue ngga semurah itu! Gue di sini, cuma mau nanyain, lo tau ngga semalem si Belva ke mana?" Tanya Leon.
"Oh, lo sekarang ngincer yang seksi? Lelet lo tolol! Si Belva semalem udah tidur bareng cowok lain di bar!" Ucap Rina dari telepon.
Setelah itu, Leon langsung mematikan ponselnya. Ia tersenyim penuh kemenagan. Ia mengangkat ponselnya dan menunjukkan layar ponselnya yang menyala.
"Gue udah rekam semuanya." Ujar Leon.
"Anjay!" Ucap semua orang yang ada di ruangan itu, kecuali Rania dan Haidar.
"Sekarang, kita tinggal cari bukti rekaman video." Ucap Haidar.
Angga yang sejak tadi sibuk mengutak-atik laptopnya mulai frustasi. Seluruh pasang mata tertuju padanya.
"Kenapa, Ga?" Tanya Icha.
"Anjing banget tu anak! Gue udah bajak semua sistem yang ada di hotel itu, and you know, semua rekaman CCTV malem itu udah dihapus." Jelas Angga.
"Santai, kita udah usaha! Dan gue yakin, kita pasti bisa kalahin bocah itu!" Ucap Eva percaya diri.
"Kok lo yakin banget?" Tanya Icha.
"Banyak rumor yang bilang kalo dia sering ke klub malam buat ngelakuin hal 'itu' ke cowok yang berbeda setiap malamnya kan?" Tanya Eva.
Ari langsung tersenyum.
"Ah... virus itu!" Celetuk Ari.
"Yap, kita tinggal tunggu, apa dia udah terserang virus itu atau belum. Dan kalau ternyata sudah, kita tinggal tunggu ciri-cirinya muncul. Setelah itu, kita bongkar penyakitnya dan apa aja yang selama ini udah dia lakuin." Jelas Eva.
"Wow, antagonis juga lo!" Ujar Icha kagum.
"Heh, gue gitu loh!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Virus apa yang dimaksud Ari dan Eva?
Apa rencana antagonis mereka yang tersembunyi?
Kalo penasaran sama kelanjutan cerita ini, aku bakalan lanjut, kalo ga penasaran, ya tetep lanjut.😆
Btw, kalian suka tipe cerita ini ga?
Kalian boleh banget kasih komentar, kritik, atau saran kalian supaya cerita aku kedepannya bisa lebih bagus lagi.
Jangan lupa masukin ke reading list,
share, dan vote terus ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST END (REPUBLISH)
Romance13+ Rania Adiningrum, seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang memiliki kehidupan tidak seperti remaja pada umumnya. Ia tidak pernah pergi ke mall bersama teman, ke tempat disco, ataupun bermain dan bersendagurau dengan sahabat. Semua itu terjadi...
