Tak lama, Icha dan Eva langsung pergi meninggalkan café. Eva sudah terus-terusan ditelpon ayahnya, sedangkan Icha harus mengikuti les biola. Mereka pulang menaiki bus, jadi, mereka langsung pergi ke halte bus terdekat.
Setelah melihat Icha dan Eva pergi lumayan jauh, Rania langsung pergi ke kasir, dan menemui salah satu pelayan café di sana.
"Permisi, mas, mau tanya!" ucap Rania.
Pelayan itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Rania. Ia terkejut.
"Eh, bu bos! Mau ketemu pak bos, ya?" tanya Vino.
"Panggilnya Rania aja. Haidarnya ada?"
"Ada, masuk aja Ran. Si bos ada di ruangan deket dapur."
"Ok, makasih."
Vino menatap kepergian Rania sambil menggeleng dan tersenyum.
"Ck, ck, ck, kok bos bisa dapet cewek secantik itu ya?" gumamnya.
Rania mengetuk pintu yang ada di depannya.
"Masuk!" ucap Haidar dari dalam.
Rania langsung membuka kenop pintu dan melangkahkan kakinya untuk samusk ke dalam ruangan itu. Haidar terkejut begitu mengetahui bahwa yang masuk ke dalam ruangannya itu istrinya.
"Loh, sayang! Kamu ngapain?" tanyanya.
"Aku yang harusnya tanya."
"Ok, aku bisa jelasin itu nanti. Masalahnya sekarang, aku mau kita tidur di rumah kamu. Aku ngga mau abi sama ummi ngeliat tangan aku yang begini. Aku udah cari alasan ke ummi dan telpon Haura untuk bawa barang bawaan kita." Jelas Haidar panjang lebar.
"Pas banget! Itu 2 anak pada mau ke rumahku besok." Ucap Rania.
Setelah itu, keheningan menyerang ruangan. Haidar berkacak pinggang, menatap sang istri sambil tersenyum. Ia langsung merangkul Rania bersemangat hingga membuat istrinya yang tidak siap sedikit oleng. Haidar mencubit hidung mancung Rania.
"Pulang yuk!" ajak Haidar yang dibalas anggukan oleh Rania.
Sesampainya di rumah, mereka tidak melihat batang hidung Ari. Dugaannya, ia masih nongkrong di shadow house. Rania dan Haidar langsung mandi sore. Sebelum itu, Rania menatap ke arah pergelangan tangan Haidar yang terluka.
"Kamu bisa mandinya?" tanya Rania.
"Kenapa, mau mandiin?"
Rania yang mendengar itu menatap Haidar datar dan melemparkan handuk yang ia pegang ke arah suaminya. Ia langsung pergi ke luar kamar. Kebetulan, ia juga sedang haus dan ingin mengambil minum. Haidar yang melihat tingkah istrinya itu langsung tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. Entah kenapa, ia sangat senang menggoda istrinya.
Selepas Haidar mandi, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Ia mengeringkannya dengan cara menggosoknya menggunakan handuk putih yang dilemparkan Rania kepadanya tadi. Saat keluar, ia mendapati istrinya yang tengah menunggunya, duduk di pinggir ranjang. Haidar langsung ikut duduk di samping Rania sambil masih mengeringkan rambutnya.
"Kenapa, sayang?" tanya Haidar keheranan karena istrinya yang terus menatap ke arahnya sejak ia keluar kamar mandi.
"Jelasin."
"Jelasin, naon?"
"Soal café."
Haidar yang mendengar itu langsung menghentikan aktivitas mengeringkan rambutnya. Ia menatap Rania.
"Café itu memang punyaku."
"Kamu dapet modal dari abi?" tanya Rania.
Haidar menggeleng, kemudian menatap sendu Rania. Ia membaringkan tubuhnya ke kasur dengan kedua telapak tangan yang berada di bawah kepalanya. Ia menatap ke langit-langit kamar sambil menghela napas panjang.
"Aku dapet modalnya, dari cinta pertama sekaligus luka pertamaku."
Rania terdiam menatap Haidar. Banyak pertanyaan yang ada di dalam kepalanya. Mulai dari, siapa cinta pertama lo? Lo masih cinta sama dia? Kalo masih cinta, kenapa lo malah nikahin gue? Lo anggep gue sebagai pelarian? Atau lo cuma kasihan sama gue yang mentalnya miring?~
Tapi Rania tidak ingin ambil pusing. Ia langsung beranjak dari kasur dan pergi ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haidar punya cinta pertama?
Siapa weih?
Kok kayak masih sayang banget?
Padahal, dia aja udah sayaaaaangggg banget ke Rania?!
Kalo penasaran sama kelanjutan cerita ini, aku bakalan lanjut, kalo ga penasaran, ya tetep lanjut.😆
Kalian boleh banget kasih komentar, kritik, atau saran kalian supaya cerita aku kedepannya bisa lebih bagus lagi.
Jangan lupa masukin ke reading list,
share, dan vote terus ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST END (REPUBLISH)
Romance13+ Rania Adiningrum, seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang memiliki kehidupan tidak seperti remaja pada umumnya. Ia tidak pernah pergi ke mall bersama teman, ke tempat disco, ataupun bermain dan bersendagurau dengan sahabat. Semua itu terjadi...
