Part 65

30.8K 1.7K 40
                                        

SREKK

“Atau apa?”

Ash mengatakan hal itu sembari menghempaskan pulpen tersebut dengan kasar hingga aku dapat melihat tinta pulpen beserta warna kemerahan membentuk garis di leher Ashtara.

Kemudian ia memegang salah satu tanganku, lebih tepatnya menyatukan jari-jari besarnya pada jari-jariku hingga salah satu tangan kami merekat sempurna membuatku tidak bisa kabur.

Kemudian dengan cepat ia mengambil pulpen yang hampir terjatuh itu dengan tangan satunya, lalu menggenggam pulpen itu erat dan menarikku hingga pulpen tersebut beralih menyentuh leher bagian kananku.

Ash tersenyum tipis.

“Hirana” panggilnya.

“Kamu… mengikuti semua pembelajaran dengan baik” ucapnya. (dipikir-pikir udah kayak guru yang lagi ngomong waktu nyerahin rapot)

“Tapi bukan begitu caranya” ia memberi sedikit tekanan pada pulpen itu yang membuat tubuhku semakin menegang. Aku jadi teringat bagaimana Ash menggunakan sebuah pulpen untuk menyiksa penjahat itu.

Meski begitu, aku juga ingat kata Ash waktu itu kalau diancam kayak gini harus tenang. Aku berusaha tenang sekarang, tapi tetep aja kayaknya tubuhku gemetaran. Ash sepertinya merasakan getaran dari tubuhku sehingga ia malah mencengkram tangan kami yang menyatu dengan semakin erat.

“Hmm tekanannya udah bener, Hirana. Tapi kurang miring sedikit” ucapnya yang malah menjadi sesi belajar mengajar, lebih tepatnya ia yang mengajariku cara penggunaannya.

Aku masih terdiam bingung dengan apa yang harus kulakukan selanjutnya karena Ash masih tidak melepaskan pulpen itu.

Aku kemudian memegang pulpen itu dengan Ash yang juga masih menodongkannya di dekat kulit leherku.

“Lepas” ucapku dengan mata yang menatap tajam berusaha terlihat galak.

Katanya kalau dalam kondisi ini, jangan takut, dan jangan terintimidasi, jadi mari kita coba saja.

“Kalau dipegang kayak gitu, ini malah bisa menusuk lebih dalam, Hirana” ucap Ash melihat tanganku memegang pulpen itu berusaha melepaskannya.

“Lagipula tenagamu itu lemah. Kamu masih lemah Hirana. Cari cara lain” titahnya.

Cara lain apa? Udah tahu tenagaku kecil, apalagi yang bisa aku lakukan.

“Aku nggak tahu, Ash” ucapku. “Keluarin aja aku dari sini”

Ash masih tidak bergeming dan malah menekan pulpen itu membuatku sedikit meringis.

“Ash, sakit”

Ash malah menaikkan kedua alisnya tanpa peduli.

Aku harus putar otak. Apa yang bisa kulakukan? Cara apa yang bisa kucoba.

Namun, semakin lama aku berpikir, Ash malah semakin mendorong pulpen itu.

Ayo berpikirlah berpikirlah.

Tiba-tiba sebuah ide melintas begitu saja di dekatku. Sebuah ide yang muncul karena didesak keadaan, tanpa memikirkan dulu apakah itu hal yang bagus atau tidak.

Karena pulpen tersebut semakin menekanku dan aku mulai panik, kalian mau tahu apa yang aku lakukan?

Aku malah mendekat ke arah Ashtara dan mengarahkan tanganku melingkari tubuhnya.

Ya aku memeluknya, erat. Sangat erat.

“Lepasin aku dan keluarin aku dari sini” ucapku.

Ash langsung menjauhkan pulpen yang sedari tadi sudah menekan kulit leherku dengan sangat cepat takut-takut pulpen tadi benar-benar akan melukaiku. Ia kembali terlihat terkejut, tapi ya berarti caraku ini berhasil.

My Handsome Ashtara [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang