Bagaimana jika gadis bar-bar yang tak tau aturan dinikahkan diam-diam oleh keluarganya?
...
Cerita ini berlatar belakang tentang persahabatan dan percintaan. Mengisahkan tentang Ayrania yang menempuh pendidikan di sebuah pesantren karena paksaan dar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Glek!
Adel terperangah mendengar jawaban Kafka, ia merasa berada di situasi yang sangat awkward sekarang.
"Kenapa jadi bahas anak?" batin Adel.
"Kenapa antum bahas kitab gituan sama saya?" tanya Adel, terjebak dalam pertanyaannya sendiri.
Kafka menghela napas, lelah menghadapi sikap teman kakak iparnya yang labil itu, dia sendiri yang nanya, tapi dia juga yang memprotes.
"Ya udah, gini, Mbak maunya saya tunjukkan kitab apa? InsyaAllah saya udah paham semua dari apa yang Mbak belum paham."
Adel menatap Kafka dengan tatapan yang sangat rumit diartikan. "Percaya, kok, Gus, saya akui ilmu yang antum miliki udah pasti di atas saya. Tapi, kenapa sikap antum tinggi sekali? Bukankah lebih baik menanamkan ilmu padi, daripada harus melambung tinggi?"
Kafka berdecak kesal, ia serba salah sekarang. "Ilmu padi yang menurut Mbak seperti apa?"
"Ilmu yang kalau semakin berisi semakin menunduk. Tapi yang saya lihat antum ini justru kebalikannya."
"Jadi, maksud Mbak itu saya sombong karena udah membandingkan diri saya dengan Mbak, begitu? Mbak ini aneh, Mbak yang nanya tapi Mbak sendiri yang terus ngatain saya." Kafka mendengus kesal, selalu saja berdebat hal yang tidak penting dengan teman kakak ipar yang satu ini.
"Lagian nih, ya, Mbak. Ilmu padi yang saya terapkan sama ilmu padi yang Mbak Dedel terapkan itu jauh berbeda," lanjut Kafka.
Adel mengernyitkan dahinya, bingung. "Beda? Di mana letak perbedaannya? Padi, ya, sama-sama menunduk, Gus."
"Itu padi, kalau Mbak itu semakin menunduk semakin mengantuk. Mbak gitu kan kalau ngaji?"
Adel menatap Kafka kesal. "Itu, sih, bukan cuma saya, semua santri juga gitu. Antum juga gitu pasti, kan?"
"Kata siapa? Buktinya semua kitab yang belum Mbak pelajari saya udah khatam. Gini ya, Mbak, ini bukan perkara sombong atau gimana. Saya nggak bisa menceritakan semuanya. Tapi, cukup satu hal yang harus Mbak tahu, saya berkata seperti itu karena saya mempelajari kitab-kitab itu dengan bertanya langsung ke kakak saya. Mbak tahu sendiri gimana kakak saya kalau ngajar, beliau itu keras tapi tegas. Ya, kali saya mau tiduran, yang ada saya langsung ditendang keluar."
Mendengar kata 'kakak' disebutkan, seketika Adel terdiam, ia merindukan Ayra dan juga Rayyan.
"Udah debatnya? Kok, diam?" tanya Kafka, membuat Adel tersadar dari lamunannya.
"Gus, antum nggak kangen sama kakak-kakak antum? Saya aja kangen sama mereka," ujar Adel, mengalihkan pembicaraan.
"Kalau itu jangan di tanya lagi, bahkan saya belum pernah lihat kakak saya lagi setelah hari itu."