Bab 56 : Epidural Hematoma.

257K 12K 1K
                                        

Kedatangan keluarga Rayyan membuat Haikal dan Luna ikut terkejut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kedatangan keluarga Rayyan membuat Haikal dan Luna ikut terkejut. Pasalnya, mereka sangat tidak enak hati karena telah merahasiakan keadaan lelaki itu. Namun, dari semua rasa keterkejutan, hanya satu yang menganggu pikiran Haikal, yaitu kondisi kesehatan Rayyan saat ini.

Haikal tersadar dari lamunannya begitu mendapat tepukan pelan di bahu kanannya oleh Abah Umar. Saat ini, keduanya memilih menepi di teras rumah di tengah mereka yang sedang berkumpul di ruang keluarga.

"Apa yang antum pikirkan?" Abah menjeda ucapannya. "Apa itu tentang Rayyan?"

Haikal menghirup napas dalam-dalam sebelum embuskan lagi perlahan.
"Apa antum tahu tentang itu?"

Abah menggeleng kecil menanggapi ucapan Haikal.

"Tapi sejak kecil, Rayyan tidak pandai berbohong. Bahkan, jika dia berusaha menutupinya, dia tidak akan mampu dan pada akhirnya akan membicarakan kebenarannya."

"Apa yang sebenarnya terjadi?" lanjut Abah. Di balik ketenangannya, ia sangat mengkhawatirkan keadaan sang putra.

"Dokter mendiagnosa Rayyan mengidap gangguan Epidural Hematoma," balas Haikal pada akhirnya, ia ingkar pada Rayyan untuk tidak memberitahu hal ini pada siapapun.

PRANG!

Dua cangkir yang akan Ayra hidangkan untuk kedua paruh baya itu jatuh begitu saja saat mendengar kenyataan pahit tentang suaminya.

Dengan detak jantung yang berdetak kencang, Ayra berusaha untuk mencerna apa yang baru saja ia dengar.

Sedang, Haikal yang melihat putrinya itu terkejut, sepertinya ia telah melakukan kesalahan besar kali ini. Begitu juga dengan Abah, ia terus melantunkan kalimat istighfar dalam hati ketika mengetahui kondisi Rayyan yang sebenarnya.

"Ayah, apa maksudnya?" tanya Ayra, mencoba untuk tetap tenang, mengabaikan pecahan cangkir yang baru saja ia ciptakan.

Haikal yang akan menjawab pertanyaan Ayra ia urungkan begitu melihat istri dan juga Umma Maryam keluar rumah. Ayra mengalihkan tatapannya pada semua orang yang ada di sana, dahinya berkerut dalam karena tidak menemukan sang suami di antara keluarganya.

"Umma, di mana Mas Ray?" tanya Ayra, mengingat suaminya tadi duduk bersama dengan ibunya.

"Suamimu tadi izin ke kamar, Nduk," balas Umma, meskipun ia sangat bingung dengan sesuatu yang sedang terjadi.

Mendengar itu, Ayra beranjak dari tempatnya tanpa mengucap satu kata patah pun. Ia menuju kamar untuk menemui Rayyan dengan tujuan menanyakan tentang apa yang baru saja ia dengar.

KIBLAT CINTACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang