Sinopsis

7K 271 6
                                        


Selamat membaca..























Pukul 23.35 WIB, dini hari

Tik, tik, tik...

Hujan rintik-rintik mulai membasahi kota Jakarta. Langit bergemuruh, seolah mencerminkan kecemasan Shani Indira Natio yang duduk di tepi ranjang. Matanya terus terpaku pada layar ponsel, nama Gracio berkedip-kedip tanpa jawaban. Suaminya belum pulang, dan rasa khawatir makin menggerogoti hatinya.

JGEERR...

Suara petir menggelegar memecah keheningan malam, membuat jantung Shani berdetak lebih kencang. Ia melirik ke samping, di mana dua putrinya, Chika dan Christy, tertidur pulas di bawah selimut tebal.

JGEERRR...

Petir kedua menggema lebih keras. Shani menggenggam ponsel erat-erat, mencoba menelepon lagi, tapi hasilnya sama. Nomor Gracio tak bisa dihubungi.

“Kenapa perasaanku nggak enak ya? Di mana kamu, Mas…” gumam Shani dengan suara bergetar.

JGEERRR!!!

Suara petir kali ini membuat tubuh kecil di sampingnya bergidik.

"m-ma.. ma… hiks…” suara Chika terdengar lirih, penuh ketakutan. Gadis kecil berusia 1,5 tahun itu terbangun, matanya berkaca-kaca, tubuhnya bergetar.

“Iya, sayang, Mama di sini,” Shani segera menarik Chika ke pangkuannya, mendekap erat tubuh mungil itu.

“tata akut…” bisik Chika, wajahnya menempel di dada Shani.

“Nggak apa-apa, sayang. Mama di sini, ya… Nggak akan ada apa-apa,” Shani mengusap punggung Chika lembut, mencoba menenangkan putri sulungnya.

Setelah beberapa saat, Chika mulai tenang. Namun, matanya melirik ke arah adik bungsunya yang masih tertidur pulas.

“de-de bo.. bo” bisik Chika sambil menunjuk bayi yang baru berusia 5 bulan, terlelap tanpa terganggu suara petir.

“Iya, Kak. Dedeknya bobo nyenyak banget, ya? Sampai nggak denger petir,” Shani mengusap pipi Christy yang halus, senyumnya samar di tengah kecemasannya.

Chika tersenyum kecil, menatap wajah adiknya yang cantik dengan pipi merah merona.

“tata peyuk de de, boyee?” tanya Chika dengan mata memohon, nada suaranya manja.

Shani yang duduk di tengah-tengah kedua putrinya menggeleng pelan. “Dedeknya udah tidur, Kak. Nanti kebangun, kasihan ya…”

Chika mendengus pelan, wajahnya terlihat kecewa.

“Umm…” ucapnya lesu.

“Sini, Mama aja yang peluk Kakak,” Shani merentangkan tangan. Chika masuk ke dalam pelukan hangat sang ibu. Dengan lembut, Shani mengusap rambut Chika hingga anak itu tertidur kembali. Namun, hati Shani masih bergemuruh. Kecemasan tentang Gracio membuatnya sulit memejamkan mata.

Pukul 02.50 WIB

Din!

Suara klakson mobil terdengar dari depan pagar rumah keluarga Harlan. Shani terbangun, jantungnya berdegup kencang. Ia segera bangkit dari ranjang, memastikan kedua anaknya masih tertidur pulas sebelum melangkah keluar kamar.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang