Bab 73

1.3K 131 17
                                        

Selamat Membaca..





















Keesokan paginya, Christy tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Ia membawa map berisi rencana program amal yang sudah disusun bersama Dirga semalam.

Langkahnya ringan, meskipun ada sedikit rasa penasaran tentang bagaimana tanggapan pembina OSIS nanti.

Saat ia tiba di ruang OSIS, Dirga sudah lebih dulu di sana, duduk di salah satu meja dengan wajah serius sambil memeriksa kembali berkas-berkas yang mereka buat.

"Eh, pagi, Chris," sapa Dirga tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya. "Gue cek lagi buat memastikan nggak ada yang ketinggalan."

"Pagi," balas Christy, meletakkan tasnya di kursi. Ia berjalan mendekat dan duduk di seberang Dirga. "Udah beres semua?"

"Kayaknya sih udah," jawab Dirga, lalu menggeser map itu ke arahnya. "Tapi, lo cek juga deh. Biar kita yakin sebelum nyerahin ke pembina."

Christy mengangguk pelan, lalu mulai memeriksa halaman demi halaman. Ia mengapresiasi betapa rapinya Dirga menyusun semua data yang mereka kumpulkan. Bahkan, ia menemukan beberapa tambahan kecil yang Dirga masukkan tanpa memberitahunya semalam.

"Ini... lo tambahin detail tentang kebutuhan tiap bulan di panti?" tanya Christy sambil menoleh ke arahnya.

Dirga mengangkat bahu santai. "Iya, gue kepikiran aja. Biar pembina bisa langsung lihat apa yang paling urgent tiap bulannya."

Christy mengangguk pelan, merasa kagum dengan inisiatifnya. "Bagus juga idenya. Gue nggak kepikiran sampai segitunya."

"Bukan apa-apa, sih. Gue cuma mikir, kasian anak-anak di panti kalau ada yang kelupaan," jawab Dirga sambil merapikan map lain di mejanya.

Christy diam sejenak, memandang Dirga yang kembali sibuk dengan kertas-kertasnya.

Di luar sikap santai dan ceplas-ceplosnya, Dirga ternyata cukup detail dan perhatian pada hal-hal kecil seperti ini. Tanpa sadar, Christy merasa sedikit lebih nyaman bekerja bersamanya.

Beberapa menit kemudian, pembina OSIS datang. Christy dan Dirga segera berdiri, menyerahkan laporan yang mereka susun.

"Bagus," komentar pembina sambil membolak-balik halaman. "Kalian berdua kerja keras, ya. Saya apresiasi banget. Kalau program ini berjalan lancar, mungkin kita bisa bikin kerja sama jangka panjang sama panti itu."

Christy tersenyum tipis, merasa lega usahanya nggak sia-sia. "Terima kasih, Pak. Kami siap bantu kalau ada yang perlu dilanjutkan."

Setelah urusan di ruang OSIS selesai, mereka berdua berjalan keluar bersama. Christy melirik jam di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu sebelum bel masuk. Gue ke kelas dulu, ya."

"Chris," panggil Dirga tiba-tiba, membuat Christy berhenti dan menoleh.

"Apa?" tanyanya penasaran.

Dirga mengeluarkan sebotol air mineral dingin dari tasnya dan menyodorkannya ke arah Christy. "Tadi lo buru-buru, kayaknya belum sempet beli minum. Ini buat lo."

Christy terdiam sesaat sebelum menerima botol itu. "Thanks, Ga," ujarnya pelan, sedikit tersenyum.

"Jangan dehidrasi, nanti pusing pas pelajaran," tambah Dirga ringan, lalu berbalik menuju kelasnya sendiri tanpa menunggu respon lebih lanjut.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang