Selamat Membaca...
Siang Hari di Rumah Gracio
Chika menjatuhkan diri ke sofa, melepaskan dasinya dengan malas. Hari ini terasa panjang, dan pikirannya masih penuh dengan sikap dingin Christy.
Ia menatap langit-langit sejenak sebelum bangkit dengan malas dan berjalan ke dapur, di mana aroma masakan menguar lembut.
Shani sedang berdiri di dekat kompor, mengaduk sesuatu di wajan. Rambutnya diikat rapi, dan wajahnya terlihat tenang seperti biasa.
“Mama masak apa?” tanya Chika sambil membuka kulkas dan mengambil air dingin.
Shani menoleh, tersenyum kecil. “Ayam kecap. Kakak mau coba?”
Chika mengangguk antusias. “Mauuu.”
Shani mengambil sendok dan menyodorkan sedikit potongan ayam ke arah Chika. “Coba ni.”
Chika meniup pelan sebelum memasukkan ayam itu ke mulutnya. Begitu merasakan bumbunya, ia langsung mengangguk puas.
“Enak mah!, Manisnya pas.”
Shani tertawa kecil. “Syukurlah.”
Chika duduk di kursi meja makan, mengaduk-aduk gelasnya. Ekspresinya berubah sedikit lebih serius. “Ma…”
“Hmm?”
Chika menggigit bibirnya sebentar sebelum akhirnya berkata,
“Dedek kayaknya lagi menjauh dari aku.”
Shani mengangkat alis. “Kenapa?”
“Nggak tahu,” Chika menghela napas
“Biasanya dia tuh nggak pernah cuek ke aku. Kalau aku manja, dia pasti bakal ngerespon. Tapi sekarang, dia kayak… dingin banget.”
Shani mengaduk pelan masakannya. “Mungkin dedek lagi banyak pikiran?”
Chika mengangkat bahu.
“Mungkin… Tapi rasanya aneh aja. Aku chat dia, dibalas seadanya. Aku deketin, malah ngehindar.”
Shani menatap putrinya dengan lembut. “Terus kakak mau ngapain?”
Chika menggeleng.
“Aku nggak tahu, Ma. Kalau kakak kejar terus, takutnya dedek risih. Tapi kalau aku diem aja, takut makin jauh.”
Shani tertawa kecil. “Dilema ya?”
Chika mengerucutkan bibir.
“Banget, ma”
Shani duduk di sebelahnya, menepuk pundaknya dengan lembut.
“Dedek itu adik kamu. Seaneh apapun sikapnya sekarang, percaya sama mama dia tetap sayang sama kamu. Mungkin dedek butuh waktu sendiri, atau ada sesuatu yang lagi dia pikirin?.”
Chika mendengus pelan. “Kalau kayak gini terus, aku bisa stres.”
Shani tertawa. “Masa iya? Kakaknya yang biasanya paling santai, jadi stres gara-gara dedek?”
Chika ikut terkekeh. “Iya dong. Aku kan sayang banget sama christy.”
Shani tersenyum hangat. “Ya udah, kasih dia ruang. Tapi tetap tunjukin kalau kamu ada buat dia,ya..”
Chika menatap gelasnya, lalu mengangguk pelan.
“Iya… aku bakal coba.”
Shani mengacak rambut Chika dengan lembut. “Gitu dong. Udah, jangan terlalu dipikirin. Mending bantu Mama angkat piring ke meja.”
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
