Bab 31 (17+)

6.5K 255 91
                                        

Selamat Membaca

























Satu Bulan Kemudian...

Matahari pagi menyusup melalui celah-celah jendela kamar, sinarnya perlahan memenuhi ruangan yang masih remang. Seorang wanita paruh baya berdiri di dekat jendela, menarik tirai dengan perlahan agar sinar matahari masuk. Udara segar pagi hari mulai memenuhi kamar.

Di atas ranjang, seorang gadis menggeliat pelan, mencoba menghindari cahaya yang menerpa wajahnya.

"Mama... Chika masih ngantuk, kenapa jendelanya dibuka sih!" keluh Chika dengan suara serak, matanya setengah tertutup, enggan beranjak dari kenyamanan selimutnya.

Shani, sang ibu, hanya tersenyum kecil sambil menepuk pelan kaki Chika. "Ini udah pagi, Nak. Yuk, bangun, nanti kamu terlambat."

Chika mendesah lemah, tubuhnya terasa berat. "Lima menit lagi ya, Ma..." pintanya, suaranya lirih, matanya mencoba terpejam lagi. Ada rasa lemas yang aneh, lebih dari sekadar rasa malas biasa.

Shani menggeleng pelan, meski ada nada lembut dalam suaranya. "Nggak bisa, Chika. Cepat bangun, nanti kamu ketinggalan bus!"

Ucapan itu membuat Chika membuka matanya lebih lebar."bus?"ia baru ingat hukumannya untuk tidak membawa kendaraan ke sekolah belum berakhir

"Iya, iya..." Chika bergumam, mencoba mengumpulkan tenaga untuk bangkit. Dengan susah payah, dia duduk di pinggir kasur, kakinya menjuntai ke lantai. Tapi baru saja dia berdiri...

Brukk!

Tubuh Chika ambruk begitu saja ke lantai, membuat Shani tersentak kaget.

"Chika!" teriak Shani panik. Ia segera berlari menghampiri anaknya, menopang tubuh Chika yang lemas, lalu menuntunnya kembali ke atas kasur. Wajah Chika tampak pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Shani menempelkan punggung tangannya ke dahi Chika. Panas. Badan anaknya terasa membara.

"Ya ampun, badan kamu panas banget, Kak," ujar Shani khawatir. Rasa bersalah langsung menyelimuti hatinya karena tadi memaksa Chika untuk bangun.

"Apa yang kamu rasain, Nak?" tanyanya lembut, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.

Chika mengerang pelan, matanya terpejam. "Pusing, Ma... lemes banget..." suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Shani mengelus rambut Chika dengan lembut. "Kita ke dokter ya, biar cepet sembuh," ajaknya.

Namun Chika menggeleng pelan, ekspresinya menunjukkan ketidaknyamanan. "Nggak mau, Ma... capek banget..."

Shani menarik napas panjang, mencoba mencari cara lain. "Ya udah, kamu makan dulu, ya? Biar Mama suapin, nanti badan kamu lebih kuat."

Lagi-lagi Chika menggeleng lemah. "Nggak mau makan juga, Ma..."

Shani mulai kebingungan. Anaknya menolak pergi ke dokter, menolak makan, dan tubuhnya semakin lemah. Ia duduk di tepi kasur, menatap Chika dengan cemas.

"Ke dokter nggak mau, makan juga nggak mau. Terus maunya apa, Kak?" tanya Shani, setengah putus asa.

Chika terdiam sejenak, lalu dengan suara kecil, hampir seperti bisikan, dia mencicit, "Dedek..."
Shani terdiam. Sejenak ia tak mengerti maksud Chika, tapi kemudian kesadaran perlahan muncul. Christy. Chika ingin melihat adiknya.











• • •


Sesuai permintaan Chika, Shani akhirnya memberitahu Christy tentang kondisi kakaknya itu. Christy yang khawatir segera pergi ke rumah papanya setelah kelas selesai.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang