Bab 93

1K 167 44
                                        

Selamat Membaca..








Langit sore memerah lembut saat Christy dan Dirga tiba di taman.

"Kenapa hm?" tanya Dirga melihat raut wajah muram dari gadis di sampingnya

"aku capek, akhir-akhir ini."

Dirga menoleh pelan. Ia tak langsung menjawab.

Christy menghela napas. "papa mama ribut, kak chika berubah... aku jadi bingung sendiri harus gimana."

Ia tertawa kecil, kering. "Lucu ya... dulu pengen cepet-cepet gede. Sekarang malah pengen balik jadi anak kecil lagi."

Dirga menatapnya. "kamu ngerasa sendiri, ya?"

Christy mengangguk kecil. "Iya. Kayaknya semua orang lagi sibuk sama luka masing-masing"

Tangannya mengusap pipinya, menyeka air mata yang mulai jatuh

Dirga menunggu, lalu dengan nada santai tapi lembut, ia berkata, "Idung lu meler tuh."

Christy menoleh cepat. "Ish, Dirgaaa!"

Dirga nyengir. "Serius. Tapi tetep manis, sih. Kayak anak kecil yang ngambek minta es krim."

Christy akhirnya tertawa kecil. Tipis.

Dirga tersenyum lebar. "Nah, gitu dong senyum. Makin cantik kalo senyum."

Christy menunduk, malu-malu. Tapi dia merasa sedikit lebih ringan.

Christy masih tersenyum kecil saat Dirga menatapnya sambil menunjuk ke arah seberang taman.

"Mau gulali gak?" tanyanya ringan.

Christy mengikuti arah telunjuknya. Di seberang, sebuah gerobak kecil berwarna cerah berdiri di bawah pohon, penjualnya sedang sibuk menggulung benang manis warna-warni.

"Mau," jawabnya pelan. "Yang pink."

"Yaudah," kata Dirga sambil berdiri. Ia lalu menoleh ke Christy, mengulurkan tangan. "Yuk, bareng. Sekalian jalan dikit."

Christy memandang tangannya sejenak, lalu berdiri dan berjalan di sampingnya.

Mereka menyusuri jalan

Namun, tepat saat mereka melewati area dekat kolam, langkah Christy terhenti.

Dari arah bangku taman, muncul dua sosok yang familiar.

Zean dan... Chika.

Chika mengenakan hoodie abu-abu dan celana panjang. Duduk bersandar, satu tangan memegang ponsel, pandangannya tertuju ke layar seolah dunia di sekitarnya tidak penting.

Tapi saat Christy dan Dirga lewat, kepala Chika sempat bergerak sedikit. Ia melihat. Ia tahu.

Mata mereka bertemu... hanya sepersekian detik.

Lalu Chika menunduk. Kembali ke layar ponselnya.

Seolah-olah... tak ada siapa-siapa yang datang.

Christy merasa seluruh dadanya kosong. Jantungnya berdegup kencang.

Zean berdiri duluan, keningnya berkerut. "Dedek... kok di sini?"

Christy menelan ludah. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar. "Aku... cuma pengen keluar sebentar, Bang. Dirga ngajak ke taman. Biar gak suntuk di rumah."

Zean mengangguk, meski pandangannya tak lepas dari Dirga. Tak ada kata kasar, tak ada tuduhan hanya tatapan yang seakan bicara sendiri: 'gue liat lo.'

Lalu ia menoleh pada Christy lagi.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang