Selamat Membaca..
Masi di Pasar Malam..
Saat mereka sampai di kios permen kapas, Zean langsung sibuk memilih warna yang paling menarik baginya.
Chika berdiri di samping Christy, sementara Christy masih fokus menemani abangnya memilih, tidak menyadari seseorang yang mendekat.
“Christy?”
Suara itu membuat Christy menoleh, dan ia langsung mengenali sosok yang berdiri di sana.
Dirga.
Cowok itu tersenyum lebar sambil menggendong seorang anak kecil, sekitar dua tahun, yang terlihat menggemaskan dengan pipi chubby dan mata bulatnya. Anak itu menatap mereka dengan rasa penasaran.
Dirga melangkah lebih dekat. “Nggak nyangka ketemu di sini,” katanya ramah.
Christy mengangkat alis, sedikit terkejut. “Eh, iya, ga. Gue sama Kak Chika dan abang gue.”
Chika yang sejak tadi diam hanya menatap Dirga tanpa ekspresi jelas. Dia tentu ingat cowok ini.
Dirga bukan sekadar teman sekelas Christy—dia adalah orang yang pernah membantunya menyelesaikan masalah besar yang melibatkan Pak Surya, guru yang pernah mencoba bertindak kurang ajar pada Christy.
Saat itu, Chika benar-benar marah, tapi Dirga adalah salah satu orang yang turun tangan membantunya melindungi Christy. Itu membuat Chika menghargainya... tapi tetap aja, bukan berarti dia rela kalau cowok itu ngedeketin adiknya.
Zean, yang akhirnya sadar akan keberadaan Dirga, meliriknya dengan penuh selidik.
“Oh, jadi lo yang namanya Dirga?” katanya, menatapnya dari atas ke bawah.
Dirga mengangguk sopan. “Iya, Bang. Saya temennya Christy di sekolah.”
Chika akhirnya ikut buka suara, nadanya tetap tenang, tapi ada sesuatu di baliknya "Hai dir”sapanya
Dirga tersenyum. “Iya, Kak Chika. Gimana kabarnya?”
“Baik,” jawab Chika singkat. Tapi tatapannya bukan cuma sekadar ramah. Dia menilai Dirga.
Matanya melirik ke anak kecil di gendongan Dirga. “Itu siapa?” tanyanya, mencoba mengalihkan perasaan aneh di hatinya.
Dirga ketawa kecil sambil mengangkat anak itu sedikit. “Sepupu saya, namanya Daffa. Lagi saya ajak jalan-jalan.”
Daffa, yang malu-malu sejak tadi, tiba-tiba menyembunyikan wajahnya di bahu Dirga.
Christy tersenyum lembut. “Hai, Daffa,” sapanya pelan.
Anak kecil itu hanya mengintip sedikit sebelum kembali bersembunyi.
Zean mengangkat alis, menatap Dirga dengan smirk menggoda. “Hmmm… jadi lo ini yang sering disebut-sebut di rumah?” katanya, penuh arti.
Christy langsung melotot. “Abang!”
Chika yang sedari tadi diam hanya menyipitkan mata ke arah Zean, lalu menatap Dirga lagi dengan lebih tajam. “Sering disebut-sebut, ya?” tanyanya, nada suaranya nggak bisa ditebak.
Dirga cuma ketawa kecil. “Wah, nggak nyangka sampai dibahas di rumah juga.”
Zean nyengir. “Ya iyalah, orang lo udah beberapa kali masuk pembahasan keluarga.”
Christy mulai merasa situasi makin canggung, jadi ia buru-buru menarik lengan Chika. “Kak, ayo, kita masih mau jalan lagi, kan?”
Chika diem sesaat, matanya ngelirik ke arah Christy yang sekarang senyum ke Dirga, dan entah kenapa ada rasa sebal yang mulai mengganggunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
