Selamat Membaca
Pagi itu, Chika terbangun dengan gelisah. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Meskipun baru tidur larut malam setelah video call dengan Christy, rasa kangen pada adiknya terus menggema di dadanya.
“Gua pinjem bentar ya, Bang,” bisiknya ke Zean sebelum nyelonong keluar rumah.
Ia langsung tancap gas menuju rumah Marsha. Angin pagi yang segar menyentuh wajahnya, tapi pikirannya hanya dipenuhi satu nama—Christy. Bayangan memeluk adiknya, mencium pipinya, dan mendengar suara lembut itu secara langsung, membuat senyumnya mengembang sepanjang jalan.
Begitu tiba di depan rumah Marsha, Chika buru-buru mematikan motor dan melangkah ke pintu. Ia menekan bel, tapi pintu sudah terbuka sedikit. Ia mendorongnya perlahan.
Terdengar tawa kecil dari arah dapur. Langkah Chika melambat.
Matanya terhenti pada pemandangan yang membuat dadanya terasa aneh.
Christy duduk di meja makan, mengenakan hoodie abu-abu kebesaran—Chika mengenali itu milik Dirga. Di sebelahnya, Dirga sedang tertawa sambil memegang sendok bubur. Marsha duduk santai di ujung meja. Suasana di antara mereka terlihat akrab. Mungkin terlalu akrab.
Wajah Chika sempat mengeras, tapi hanya sesaat. Matanya menatap lurus ke arah Christy yang baru menyadari kehadirannya.
Christy spontan berdiri dari kursinya begitu melihat Chika berdiri di ambang pintu. Senyumnya langsung mengembang, penuh kerinduan dan kehangatan yang sulit disembunyikan.
“Sayang…” panggilnya pelan, penuh perasaan.
Ia berjalan menghampiri kakaknya, langkahnya ringan namun pasti. Tanpa memberi waktu untuk Chika berkata apa-apa, Christy langsung merengkuh erat tubuh chika.
Chika sempat diam, tubuhnya kaku karena kejutan, tapi saat aroma familiar Christy tercium dan tangan hangat adiknya melingkari tubuhnya, pertahanannya runtuh. Ia menarik napas dalam, lalu membalas pelukan itu, memeluk Christy lebih erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.
“kangen ngga?” bisik Christy di telinga Chika.
Chika mengangguk kecil. “huum.. rasanya pengen bawa kamu pulang sekarang juga…”
Christy tersenyum kecil, masih dalam pelukan lalu menatap Chika dalam-dalam, mata mereka bertemu sejenak.
Tanpa banyak bicara, Christy mencium pipi Chika dengan lembut—manis. Lalu satu kecupan cepat di bibir kakaknya, disertai senyum kecil.
Jantung Chika berdebar, tapi bukan karena marah. Justru, ada rasa hangat yang mengalir pelan dari dadanya sampai ke ujung jari. Ia menghela napas pendek, lalu mengusap kepala Christy dengan sayang.
“mau marah tapi kamu selalu tau cara jinakin aku.”
Christy menarik tangan Chika menuju meja makan. “Sarapan dulu ya sayang.”
Dirga hanya tersenyum canggung, sementara Marsha sibuk mengaduk teh hangat tanpa komentar.
Chika awalnya ingin menolak, tapi saat Christy menyendokkan bubur hangat dan menyuapkannya ke mulutnya, ia tak bisa menolak.
“Disuapin nih?” godanya pelan, satu alis terangkat.
Christy tersenyum simpul"Duduk yang manis ya.”
Chika duduk patuh, lalu membuka mulut. Sendok pertama menyentuh lidahnya, dan senyumnya langsung mengembang. “Hmm… kamu masak ini?”
“Marsha bantu, tapi aku yang ngaduk terakhir,” jawabnya bangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanficDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
