Happy Reading..
Pagi itu, Christy terbangun karena merasakan sesuatu yang kenyal mendarat di dahinya. Dengan mata masih setengah terpejam, ia mengerang pelan sebelum menyadari seseorang ada di dekatnya.
"Morning, dedeknya Mama," suara lembut Shani menyapa, penuh kehangatan.
Christy mengerjapkan mata beberapa kali, masih dalam keadaan setengah sadar. "Euuggghh... morning, Mah..." gumamnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
Shani tersenyum dan dengan lembut menghentikan tangan putrinya yang hendak mengucek mata. "Jangan di kucek matanya, sayang."
Christy menurunkan tangannya dan menarik napas dalam-dalam, mencoba benar-benar terbangun. "Hum... iya... Ngomong-ngomong, Mama ada apa? Tumben bangunin langsung ke kamar," tanyanya dengan suara masih malas-malasan.
Shani duduk di tepi tempat tidur, jemarinya membelai lembut rambut Christy. "Itu, dek... Dirga di bawah," katanya dengan nada santai.
Christy sontak membuka matanya lebar-lebar. "Hah?!" serunya dengan ekspresi terkejut.
Shani tertawa kecil melihat reaksi putrinya. "Katanya mau jemput dedek, mau berangkat bareng ke sekolah," jelasnya.
Christy menoleh ke samping dan menemukan Chika masih meringkuk dalam tidurnya. Napasnya teratur, dan wajahnya terlihat begitu damai-berbanding terbalik dengan semalam, ketika cemburu dan kekesalan terpancar jelas dari ekspresinya.
Kenangan tentang bagaimana Chika terus berusaha menghalangi kedekatannya dengan Dirga masih segar di benaknya. Pikirannya berkecamuk. Jika ia menerima ajakan Dirga, Chika pasti akan kesal. Tapi, jika menolak, ia juga tidak enak hati karena Dirga sudah datang jauh-jauh untuk menjemputnya.
Shani memperhatikan raut wajah putrinya yang tampak bimbang. "Dedek mau berangkat bareng Dirga?" tanyanya lembut.
Christy menggigit bibirnya, masih belum bisa memutuskan. "Aku... Ka chika belum bangun maa" ujarnya akhirnya.
Shani terkekeh kecil. "Dedek mau minta izin dulu ke Kak Chika?" godanya.
"Eumm,.." Christy mengerucutkan bibirnya, merasa tersudut.
Shani tersenyum penuh arti lalu berdiri. "Ya sudah, Mama turun dulu. Dirga lagi nunggu di ruang tamu. Kalau dedek sudah siap, turun aja, ya."
"Iya, Ma..." jawab Christy pelan.
Setelah Shani keluar dari kamar, Christy menatap Chika sekali lagi. Haruskah ia membangunkan Chika dan membicarakan ini dulu? Atau lebih baik pergi tanpa mengatakan apa-apa?
Di ruang tamu yang luas dan elegan, Dirga duduk dengan sikap tenang, meskipun ada sedikit kegelisahan di matanya. Pagi ini ia kembali dihadapkan dengan Gracio, yang duduk di kursi berseberangan dengannya.
Gracio menatapnya dengan ekspresi tegas, tapi tidak sedingin semalam saat ia pertama kali menginterogasi Dirga sebelum mengizinkannya membawa Christy pergi makan malam.
"Jadi, bagaimana tadi malam?" tanya Gracio akhirnya, suaranya rendah tapi jelas.
Dirga menelan ludah, lalu mencoba tersenyum. "Baik, Om," jawabnya singkat.
Gracio menaikkan sebelah alisnya. "Cuma baik?"
Dirga menarik napas pelan sebelum akhirnya mengangguk. "Iya, Om. Saya... sudah menyampaikan perasaan saya ke Christy."
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanficDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
