Bab 80

1.5K 153 33
                                        

Happy Reading..











Saat Christy masuk ke dalam mobil, Dirga sudah menunggunya dengan senyum kecil. Ia menyalakan mesin, tapi tidak langsung menjalankan mobil.

Sebaliknya, ia menoleh ke arah Christy, memperhatikannya dengan tatapan lembut. "Udah siap?" tanyanya dengan suara pelan.

Christy yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya mendongak dan mengangguk. "Iya, ayo jalan."

Mobil mulai melaju keluar dari halaman rumah Christy. Suasana hening sejenak, hanya ada suara radio yang diputar pelan. Dirga sesekali melirik ke samping, melihat Christy yang tampak sibuk mengetik sesuatu.

Ia tersenyum kecil. "Lagi chat Kak Chika, ya?" tebaknya dengan nada santai.

Christy menghela napas kecil sebelum menoleh ke arah Dirga. "Iya, dia ngambek"

Dirga tertawa kecil. "Ka chika bener-bener nggak bisa jauh dari kamu, ya?"

Christy tersenyum tipis. "Huum... Aku juga sayang banget dia."

Dirga mengangguk pelan, lalu tanpa ragu, ia mengulurkan tangan dan dengan lembut merapikan rambut Christy yang sedikit berantakan. Christy terkejut dengan sentuhan itu, tapi ia tidak menepis.

"Kamu sendiri kapan dipikirin?" gumam Dirga, matanya masih tertuju ke depan.

Christy mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Dirga tersenyum kecil, tetapi ada keseriusan di balik tatapannya. "Kamu selalu mikirin orang lain. Kakak kamu, teman-teman kamu, tugas OSIS... Tapi ada nggak yang bener-bener mikirin kamu?"

Christy terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Dirga menarik napas perlahan, lalu kembali fokus ke jalan. Tapi tangannya tetap ada di dekat Christy, jari-jarinya menyentuh ringan ujung jemari Christy yang tergeletak di pangkuannya. Bukan genggaman penuh, hanya sentuhan singkat-seolah ingin memberi kehangatan tanpa memaksa.

"Aku nggak minta jawaban apa-apa," lanjutnya, nada suaranya lebih lembut. "Aku cuma mau kamu tau... Kalau ada yang bikin kamu capek, kamu bisa cerita ke aku."

Christy menatap tangannya yang masih bersentuhan dengan tangan Dirga. Hangat. Nyaman. Tapi juga sedikit membingungkan.

Ia menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil. "Thanks, ga."

Dirga tersenyum samar, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya membiarkan suasana tetap tenang, tanpa memaksa Christy untuk membalas apa pun.

Meskipun tanpa kata, ada sesuatu dalam sikap Dirga yang terasa berbeda. Ia tidak berusaha mendekat secara berlebihan, tapi juga tidak mencoba menjauh. Ia hanya ada di sana-sebagai seseorang yang ingin Christy merasa nyaman.





















Pagi itu, Christy tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Sebagai anggota OSIS yang bertugas di lapangan hari ini, ia harus memastikan semua siswa mematuhi peraturan. Bersama Kathrina dan Marsha, ia berdiri di dekat gerbang, mencatat nama-nama siswa yang terlambat atau atributnya tidak lengkap.

Beberapa siswa yang datang terlambat terlihat pasrah menerima hukuman, sementara yang lainnya berusaha berdebat dengan berbagai alasan. Christy tetap tegas, mencatat tanpa ragu.

Christy yang sejak tadi memperhatikan siswa yang datang terlambat, tiba-tiba menangkap sosok yang mencoba mengendap-endap melewati para OSIS yang sedang berjaga. Gerak-geriknya mencurigakan, jelas tidak ingin ketahuan.

Mata Christy langsung menyipit saat mengenali siapa orang itu. "Kak Chika!" panggilnya lantang.

Chika, yang hampir berhasil lolos, langsung terhenti di tempat. "Hmm... kena lagi gua," gumamnya pelan sebelum akhirnya menoleh dengan senyum cengir khasnya.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang