Bab 37

1.6K 166 25
                                        

Happy Reading





















Setelah masalahnya selesai Chika dan Christy keluar dari kantor kepala sekolah, Chika langsung meraih tangan adiknya, menggenggamnya erat.

"aku antar pulang, ya?" suaranya lembut, penuh kehangatan. Ia meminjam motor adel karna motornya masi di tahan papanya.

Christy mengangguk pelan, matanya masih memantulkan sisa ketakutan, tapi ada kelegaan di sana karena tahu kakaknya ada di sisinya.

"Iya, Kak..." bisiknya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam udara sore yang tenang.

Mereka melangkah pelan menuju parkiran, langkah Chika sedikit lebih cepat dari biasanya, seakan ingin segera membawa adiknya pergi dari semua kenangan buruk hari ini.

Di tengah perjalanan menuju parkiran, Dirga mendekat, langkahnya mantap dengan wajah serius. Tapi di balik sorot matanya, ada kekhawatiran yang nggak bisa disembunyikan.

Dia menatap Chika sebentar, lalu pandangannya beralih ke Christy yang berjalan di samping kakaknya.

"Kak..." Dirga menarik napas, suaranya pelan tapi tegas. "Kalau Christy kenapa-napa... kabarin gue, ya."

Christy langsung menoleh, matanya melebar kaget. Dia nggak nyangka Dirga bisa ngomong kayak gitu di depan Chika.

Apalagi dia tahu betul seberapa posesif kakaknya. Biasanya, cowok mana pun bakal mikir dua kali sebelum ngomong sesuatu yang menunjukkan perhatian berlebih ke dia saat Chika ada di situ.

Tapi Dirga? Dia jelas-jelas nunjukin kalau dia peduli, tanpa ragu.

Chika berhenti sejenak, menatap Dirga dalam diam. Ada jeda singkat yang bikin suasana agak tegang.

Seolah Chika menimbang-nimbang apa maksud sebenarnya dari ucapan Dirga. Tapi alih-alih marah, Chika justru mengangguk pelan, menepuk bahu Dirga dengan ringan.

"Thank you, Dir," katanya lembut, tapi matanya tajam, seperti mencoba membaca isi hati Dirga. "Kalian luar biasa hari ini."

Namun saat Chika melepas tangannya dari bahu Dirga, dia merasakan sesuatu

Dirga langsung menunjuk, wajahnya terkejut. "Kak... tangan lo berdarah!"

Chika menunduk, baru sadar kalau darah mulai merembes dari luka di punggung tangannya, hasil dari amarahnya pada Pak Surya tadi. Christy langsung menarik napas dalam, wajahnya berubah pucat.

"Kak! Kenapa nggak bilang dari tadi?!" Christy buru-buru memegang tangan Chika,

Chika mencoba tersenyum, walau rasa perih mulai menjalar. "Nggak apa-apa. Cuma luka kecil."

Dirga menggeleng keras, suaranya tegas. "Kecil apaan? Ini harus dibersihin."

Christy menatap Chika dengan mata memohon. "Iya, Kak... please, jangan bandel..."

Chika menghela napas dan akhirnya mengangguk. "Oke, oke. ke UKS dulu."

Mereka kembali masuk ke gedung sekolah, Chika tetap menggenggam tangan Christy, memastikan adiknya tetap merasa aman.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang